Oleh Eva Hudaeva
Jika Jürgen Habermas menyaratkan
adanya keiklasan dalam praxis manusia yang tak lain adalah komunikasi.
Komunikasi yang ditujukan untuk mencapai masyarakat emansipatoris. Maka,
ketulusan itulah menurut saya syarat yang paling sulit dipenuhi.
Debat
Capres-Cawapres menurut saya adalah cara yang cukup solutif untuk mengadakan
komunikasi guna memecahkan segudang problem bangsa ini. Selain berkomunikasi,
debat Capres-Cawapres menjadi alternatif membina rasionalitas masyarakat
pemilih di tengah demokrasi Indonesia yang tentu saja tidak seperti negara polis. Demokrasi modern menuntut
perwakilan dan sistem pemilihan wakil yang lebih efisien yang sekatang kita
sebut voting.
Tak
terbayangkan, bila hanya ada voting tanpa ada pergulatan pendapat sebelumnya,
tentu sulit dikatakan Indonesia menganut demokrasi. Pergulatan pendapat yang
terjadi di debat Capres-Cawapres tentu memberikan masyarakat pertimbangan akan
berbuat apa di bilik suara nanti. Namun, bukan sekedar visi misi yang saya cari
dari pendapat satu pasangan dan pasangan yang lain di acara debat itu, tapi ya
itu tadi: ketulusan.
Sebelum
menyimak debat Capres-Cawapres yang kedua, saya ingin memaparkan corat-coret
saya ketika debat Capres-Cawapres berlangsung. Saya tak bermaksud untuk memberi
masukan preferensi pasangan tertentu. Saya hanya mencoba menguji asumsi dan
alur logika pendapat yang dikemukakan Capres –Cawapres dalam debat pertama itu.
Mungkin analisis saya tak bernas, namun setidaknya pertanyaan: apakah saya
menemukan ketulusan itu?, dapat terjawab.
Dua
Term Prahara
Tema debat yang menyoal demokrasi di Indonesia
membuat pasangan Capres-Cawapres nomor urut 1, Prabowo Subianto dan Hatta
Rajasa (Prahara) bersikukuh menggaungkan dua term, demokrasi adalah alat dan
kebocoran sumber daya alam Indonesia. Prabowo dalam jawaban awalnya menyatakan
bahwa demokrasi adalah hal yang harus perbaiki, karena demokrasi adalah
cita-cita terbesar ke-3 negara. Demokrasi adalah alat untuk dan cita-cita yang
kuat. Pemerintahan yang bersih adalah tujuan. Kepastian hukum memberi jaminan
kepada warganya untuk melestarikan demokrasi yang membawa kesejahteraan.
Lalu
calon wakilnya, Hatta Rajasa meneruskan dengan suara sengaunya, bahwa demokrasi
bukan hanya alat tapi demokrasi juga sistem nilai kesejahteraan. Kepastian
hukum menjamin setiap warga negara setara di hadapan hukum. Kepastian hukum
menjamin warga dapat menyalurkan hak politik tanpa diskriminasi, termasuk hak
politik. Dan, lembaga demokrasi harus berjalan sebaik sebuah demokrasi yang
produktif.
Lalu
pertanyaan saya: Apa hubungan antara demokrasi dan kesejahteraan? Demokrasi
memang bukan tujuan pada dirinya sendiri, ada nilai-nilai yang lebih agung yang
hendak dicapai demokrasi. Lalu apakah satu di antara nilai itu adalah
kesejahteraan? Barangkali betul, namun pasangan ini luput dengan nilai lain,
yaitu kebebasan manusia. Kebebasan dalam hal bergerak maupun berpikir kritis.
Jika memang pasangan ini berpikir kepastian hukum dapat menjamin hak warga
negara untuk mendapatkan hak-haknya, apakah kebebasan ini ada di dalam hak yang
mereka maksud? Jika yang mereka maksud hanya ksejahteraan, itu hanya persoalan
perut. Siapa pula yang akan berpikir kritis ketika perutnya sudah penuh?
Saya
jadi teringat perkataan Ayu Utami dalam Maya
(2013). Ayu menceritakan kepada
pembaca bahwa zaman Orde Baru menjejalkan beras dan bahan pangan lain
sebanyak-banyaknya ke mulut masyarakat agar otak masyarakat tak akan berpikir tentang
revolusi. Memang tak ada salahnya bicara tentang kesejahteraan masyarakat di
negara berkemebang seprti Indonesia ini, namun jika sudah dikontekskan dengan
demokrasi rasa-rasanya akan lain tendensinya. Demokrasi memang alat, saya
pernah baca teori tentang itu, demokrasi memang ingin mencapai tujuan
teretentu, tapi bukankah akan lebih baik jika teori ini dipahami secara
kseluruhan?
Perihal kebocoran sumber daya alam Indonesia,
term ini banyak menuai reaksi. Pertama, guyonan, ada yang bilang jika Prabowo
jadi presiden maka tukang tambal dan tukang cat akan laku. Kedua, ketakutan
yang menghinggapi pendukung rival Prabowo, Joko Widodo (Jokowi). Pasalnya,
pernah suatu akun populer tapi misterius berlabel @TrioMacan2000_ merilis skema
rumit yang menunjukkan bahwa Jokowi disokong oleh pihak asing dari Amerika
Serikat dan Republik Rakyat Cina. James Riady disebut-sebut sebagai cukong yang
mendanai Jokowi agar bisa menjadikan presiden boneka. Berita itu makin santer,
dan berulang kali dituliskan di laman jurnalisme warga besar Kompasiana. Jika
demikan kabarnya, bukan tidak mungkin para pendukung Jokowi yang ketakutan
Indonesia makin dijadikan lahan ekploitasi asing akan beralih mendukung
Prabowo.
Reaksi
ketiga terhadap term “kebocoran sumber daya alam Indonesia” itu datang dari
John Roosa, seorang pengamat politik Orba, dalam tulisannya berjudul Dua Tubuh Soekarno.Tulisan Roosa ini
dipublikasikan jauh sebelum debat Capres-Cawapres pertama diadakan, yaitu 26
Mei 2014 kemudian dimuat kembali oleh kanal gerakan kritis, Indoprogress.com
pada 10 Juni 2014. Roosa menunjukkan bahwa orasi-orasi yang diumbar Prabowo
adalah suatu usaha peniruan Prabowo terhadap orator ulung dan kharismatik
negeri ini, Soekarno. Isi orasi Prabowo tak beda dengan apa yang dikatakannya
dengan “kebocoran sumber daya alam Indonesia”. Bagi Roosa, retorika
anti-imprealis dan tuduhan kepada perusahaan asing yang membuat kebijakan
neoliberal, adalah hal yang sulit didengar dari seorang kapitalis makmur
seperti Prabowo.
Selain
reaksi pertama yang berupa guyon itu, reaksi terhadap “kebocoran sumber daya”
Prabowo tentu mengerikan. Baik yang
dituduhkan kepada Jokowi yang katanya disokong kekuatan asing agar dapat
dikendalikan, maupun Prabowo yang hanya beretorika tentang anti-imperealis,
keduanya sulit diterima. Sayangnya, kedua isu itu perlu penelusuran fakta
mendalam dan tentu saja disertai
ketulusan untuk melakukan penelusuran itu hanya untuk masyarakat. Sampai
saat ini belum ada yang melakukannya. Jikapun ada, fakta dibengkokkan atau
kurang mumpuni.
Jendral
yang Marah-Marah
Prabowo sempat naik pitam ketika
Jusuf Kalla menyentilnya dengan pertanyaan bagaimana program Prabowo dalam
rangka menyelesaikan kasus pelanggaran HAM. Dengan menghubung-hubungkannya
dengan adagium yang dikatakan Prabowo bahwa tak ada pengikut yang jelek yang
ada hanya pemimpin yang jelek, JK dengan nakal menanyakan hal yang sensitif
bagi mantan Komandan Jenderal Kopassus itu. Prabowo tersinggung dan segera
menuduh balik, bahwa JK memang sengaja menyeret dia pada obrolan tentang
dirinya yang disebut-sebut sebagai otak di balik peristiwa pembunuhan dan
penghilang paksa aktivis pada 1998.
Bersungut-sungut
Prabowo mengatakan bahwa ia adalah prajurit yang bertugas untuk melindungi
segenap tumpah darah Indonesia. Kata Prabowo dirinya adalah abdi negara, maka
dari itu ia berusaha untuk melindungi hak asasi masyarakat dari
kelompok-kelompok radikal. Kelompok radikal itu bagi Prabowo adalah ancaman.
Tak berkurang emosinya Prabowo berdalih ia menjalankan tugas itu sebaik mungkin,
dan atasan yang menilai kinerjanya.”Jadi tanyakanlah pada atasan saya waktu it,”
kata Prabowo.
Kejadian
ini mirip-mirip seperti yang dikatakan Wiji Thukul dalam puisinya Para Jendral Marah-Marah, dalam bait
pertamanya:
Pagi ini kemarahannya disiarkan
oleh televisi. Tapi aku tidur.
Istriku yang menonton.
Istriku kaget. Sebab seorang letnan
jendral menyeret-nyeret namaku.
Dengan tergopoh-gopoh selimutku
ditarik-tariknya, Dengan mata masih lengket aku bertanya: mengapa? Hanya beberapa patah kata keluar dari
mulutnya: “Namamu di televisi...”
Kalimat itu terus dia ulang seperti otomatis. ...
Lihatlah Pak Wiji Thukul, (mantan)
jenderal itu masih suka marah-marah, dan kau masih saja mendengarkannya dengan
tertidur. Tidur yang panjang. Entah di mana rimbamu.
Selain
kemarahan Prabowo yang tak terbendung, hal yang menarik dari perseteruan
pendapat antara JK dan Prabowo adalah asumsi Parbowo tentang HAM. Dari
pernyataan Prabowo bahwa ia prajurit yang melindungi HAM masyarakat dari
kelompok-kelopok radikal yang mengancam. Berarti, yang punya HAM hanya
masyarakat (yang tak jelas kategorinya itu), sedangkan kelompok-kelompok
radikal (yang juga manusia) tak mempunyai HAM. Padahal sebelum marah-marah
Prabowo sempat mencoba untuk mendefinisikan apa itu HAM. Katanya, HAM yang
paling dasar adalah hak untuk hidup. Lalu, jika HAM masih diterangkan sebagai
Hak Asasi Manusia, dan jika sedikit
banyak Prabowo terlibat dalam penghilangan paksa dan pembunuhan aktivis itu,
maka Prabowo telah melanggar HAM atas nama HAM? Atau mungkin yang dimaksud
Prabowo adalah Hak Asasi Masyarakat?
Perdebatan antara JK dan Prabowo dalam hal HAM
ini menjadi peristiwa paling menggemparkan setelah kedua pasangan itu turun
panggung. Tim pemenangan Prabowo berkilah bahwa pertanyaan JK tentang HAM justru
menjadi boomerang bagi kubu Jokowi-JK. Katanya, jika ditelusur, atasan Parbowo
dulu tak lain adalah Wiranto yang sekarang bercokol di tenda koalisi Jokowi-JK.
Ini pun menjadi sangat menarik, dalam surat pemberhentian Prabowo (yang beredar
di media sosial) diterangkan dengan jelas mengapa ia diberhentikan, di
antaranya melanggar wewenang komando, yaitu melaksanakan operasi yang
melibatkan aktivis-aktivis yang seharusnya wewenang Pangab Wiranto. Begitu
banyak pelanggaran tugas yang dilakukan Prabowo yang tercantum dalam surat yang
seharusnya rahasia itu.
Anehnya, bagaimana bisa seorang pelanggar
tugas yang berlipat-lipat dan berulang seperti Prabowo diberhentikan secara
hormat? Adakah yang salah dengan pertimbangan atasan-atasan Prabowo waktu itu? Rasa-rasanya
masyarakat berhak mengetahui hal itu. Tak dapat dibenarkan apa yang dikatakan
Prabowo baru-baru ini, bahwa soal ’98 tak usah dibicarakan lagi. Hey, perasaan
ini belum selesai sudah disuruh move on?
Soal
HAM dan diskriminasi Jokowi beda asumsi dengan Prabowo. Soal keberagaman Jokowi
tak mau membicarakannya lagi. “Keberagaman sudah final,” kata Jokowi.
Pernyataan Jokowi mengindikasikan bahwa keberagaman memang kenyataan hidup
manusia yang tak teringkari. Membicarakan tentang keberagaman hanya semakin
mengukuhkan diskriminasi itu sendiri. Secara pribadi, saya memang agak
terganggu dengan ide tentang multikulturalisme ini. Pertanyaan saya: Bukankah
dengan terus-menerus membahas keberagaman berarti melanggengkan diskriminasi?
Mungkinkah multikulturalisme mengandung paradoks? Lantas Jokowi menceritakan
prestasinya dalam hal HAM dan diskriminasi, yaitu kasus Lurah Susan. Bagi
Jokowi, semua orang berhak untuk menjadi pemimpin asal berkapabilitas,
persoalan SARA tak relevan untuk jadi ukuran kapabilitas seorang untuk jadi
pemimpin. Maka Jokowi tetap berani mengangkat Susan sebagai Lurah di sebuah
daerah yang kata Jokowi agama masyarakat mayoritas berbeda dengan Susan.
Penegasan
bahwa keberagaman adalah hal yang mutlak juga dikemukakan Hatta Rajasa. Kalimat
Hatta begini: keberagaman adalah anugrah Allah SWT. Pengungkapan “Allah SWT”
yang tak lain adalah sebutan Tuhan bagi umat Islam telah merusak argumen Hatta.
Bukankah anugrah itu diberikan kepada setiap manusia bukan sekedar umat Islam?
Bukankah tak semua masyarakat Indonesia menganggap Allah SWT sebagai Tuhan-nya
dan memberikan anugerah itu? Sekali lagi ini paradoks. Dapat kita kira-kira,
dalam hal asumsi tentang HAM dan diskriminasi, Jokowi lebih terasa tulus ketimbang
pasangan di seberangnya.
Kata
Para Pekerja
Jokowi pasti sudah mempersiapkan
dengan baik jawaban untuk pertanyaan apa itu demokrasi. Dengan tanggap ia
mengatakan, demokrasi baginya adalah mendengar suara rakyat dan
melaksanakannya. Ia anggap demokrasi adalah berdialog dan bermusyawarah. Lebih teknis
lagi Jokowi menerangkan programnya untuk menciptakan pemerintahan yang bersih. Di
antaranya ialah sistem rekrutmen yang mengutamakan calon yang baik dan seleksi
yang ketat. Lalu menciptakan e-Goverment Sistem atau birokrasi berbasis
digital.
Jerja
nyata yang direncanakan Jokowi adalah perihal pemekaran wilayah. Baginya,
pemekaran wilayah dapat saja dilakukan dengan syarat itu memang untuk
kepentingan masyarakat. Syarat lain juga adalah kesanggupan wilayah untuk memenuhi
kebutuhannya dari PAD (Pendapatan Asli Daerah). Jika syarat itu tak terpenuhi,
bagi Jokowi daerah itu layak untuk ditarik otonominya.
Satu-satunya
kerja nyata yang digadang-gadang Prabowo adalah agendanya untuk menaikkan gaji
pegawai pemerintahan. Prabowo berasumsi bahwa korupsi adalah akibat dari kurang
sejahteranya para birokrat. Dengan menaikkan gaji birokrat, maka otomatis
korupsi berkurang. Argumen ini jelas mengundang pertanyaan: memang gaji puluhan
juta disertai berbagai tunjangan dan bonus untuk para birokrat itu tak bisa
membuat mereka hidup layak di zaman seperti ini? Bukankah faktor utama dari
korupsi adalah kerakusan? Tak hanya pertanyaan itu, implikasi dari rencana
Prabowo ini diungkapkan pendukung Jokowi, yaitu menaikkan pajak yang harus
dibayar masyarakat.
Kerja
yang akan dilakukan Jokowi memang lebih terdengar realistis. Apalagi disandingkan
dengan orasi Prabowo yang selalu bersikap anti-imperealis. Diragukan Prabowo
memahami skema kongkalingkong asing untuk mengeruk kekayaan Indonesia. Ketahuilah
skema itu berskala multinasional, dan yang pasti, rumit.
Memang
Jokowi terkenal sebagai pemimpin “jaga toko”, ia akan masuk ke gang dan got-got
untuk memeriksa ketertiban dan kenyamanan warganya. Hal ini yang menjadi sasran
utama para pendukung Prabowo. Sesaat setelah debat Capres-Cawapres pertama
Tantowi Yahya berkomentar, “Kita butuh pemimpin yang mempunyai grand design, bukan hanya kerja, kerja,
dan kerja.” Jika Tantowo agak cermat memerhatikan, Jokowi sudah mengatakan apa grand designnya, yaitu pembangunan
jangka panjang yang dalam bahasa Jokowi, dimasukkan kedalamnya hal bersifat
ideologis. Kecenderungan serangan dari pendukung Prabowo tentang kerja nyata
ini selanjutnya ialah soal sikap Jokowi yang menurut mereka terkesan
menyepelekan persoalan. Bagi Jokowi segala persoalan yang penting adalah
dikerjakan, persoalannya adalah niat atau tidak niat, mau atau tidak mau.
Kedua
kubu bakal presiden ini tanpa meletakkan emosionalistas dan fanatismenya
mencoba mencari celah kelemahan dari rival idolanya. Bila saja fanatisme dan
emosionalitas itu dikesampingkan sejenak, para pendukung itu mungkin akan
merasa aneh jika punya grand design
tanpa kerja, dan punya kerja tanpa grand
design. Bukankah itu bahasa lain dari visi dan misi yang selalu ditanyakan
kepada setiap calon pemimpin sekalipun itu calon ketua kelas?
Dan
Akhirnya Keraguan
Banyak orang bilang first impression besar pengaruhnya. Barangkali
itu benar, tapi saya tak hanya ingin mengagungngkan impresi (kesan) yang
sifatnya empiris atau pengalama inderawi sahaja, tapi saya ingin juga memahami
(conceive) yang lebih bersangkutan
dengan rasionalitas. Saya mencoba memahami ketulusan itu berada di hati
pasangan yang mana. Sekalipun saya tak tahu pasti, tapi dari asumsi argumennya
saya mencoba menerka. Akhirnya yang saya dapat hanya keraguan. Saya ragu dengan
ketulusan Prabowo ketika ia mengaku hati nuraninya bersih. Saya ragu kepada
pasangan Jokowi-JK ketika JK mengatakan bahwa mereka tulus. Saya ragu, apakah masih
bisa disebut ketulusan dan kebersihan hati nurani jika dikatakan?
Dan akhirnya mari kita lihat debat
Capres-Cwapres senjutnya yang akan diadakan nanti malam. Kabarnya Prabowo
bersama tim suksesnya sudah melaksanakan simulasi debat. Mungkin mereka
menyadari argumen Prabowo selalu memutar dan kerap silap menyetujui argumen
lawannya. Ah mari kita saksikan saja debat itu.
Bagitu
dulu saja. Tabik.