Minggu, 16 Februari 2014

Imlek di Solo

Oleh Eva Hudaeva

Gong xi gong xi gong xi gong xi fat cay. Begitu ucapan selamat hari imlek yang hampir semua orang tahu. Imlek tahun ini berbarengan dengan musim politik, jadi ucapan demikian banyak terpajang dalam alat kamapnye calon legislatif. Ucapan itu diterima semua orang mengerti atau tidak artinya, yang pasti mereka tahu itu ucapan selamat hari imlek.
            Sehari sebelum hari imlek, Agustinus Wibowo bercuit dalam akun twitternya mengucapkan selamat hari imlek. Namun, cara lelaki petualang itu mengucapkan selamat agak lain. Katanya, gongxi tapi tak perlu facay yang artinya kaya raya. Bagi Agustinus yang terpenting adalah shenti jiankang yaitu sehat walafiat.
            Melihat cuitan Agustinus Wibowo yang lama tinggal di Cina itu tak membuatku pusing-pusing memikirkan arti dari ucapan itu. Aku hanya suka menyanyikan ucapan imlek itu dengan nada yang menurutku kocak dan polos. Selain itu, hari imlek yang mulai menjadi libur nasional semenjak Abdurahman Wahid jadi presiden Indonesia itu tak berarti apa-apa buatku. Toh aku memang sedang libur kuliah, libur panjang. Sampai aku memutuskan untuk pergi ke Solo pada hari imlek tahun ini.
            Sebelumnya aku melihat pemberitaan tentang perayaan imlek di Kota Solo yang meriah. Terlihat olehku foto gapura yang dihias serba merah dan terang benderang. “Ini di mana?” tanyaku pada seorang teman yang berangkat ke Solo denganku sambil menyodorkan telefon genggamku yang sudah terpampang di dalamnya potret gapura merah terang gemilang itu. “Oh itu di Pasar Gede” jawab temanku. “Di sini katanya imlek dirayakan meriah,” kataku sambil mengambil kembali telefon gengamku. “Memang di sana salah satu pusat pecinan, kalau di sini ya Malioboro itu,” temanku menerangkan.
            Berangkatlah kami ke Solo. Tak ada yang istimewa sepajang perjalanan kami menggunakan sepeda motor. “Di sepanjang jalan ini banyak dipasangi pesugihan Va,” celetuk temanku ketika kami berada di sepanjang jalan Delanggu, Klaten. Aku yang dalam boncengannya agak kaget, “Oh ya? Banyak yang kecelakaan di sini?” tanyaku. “Banyak buanget, banyak yang mati di sini,” terang temanku dengan aksen Jawa yang kental.
            Hanya soal pesugihan itu pembicaraan yang berkesan. Tiba di Solo kami disambut hujan, namun kami tetap melanjutkan perjalanan sembari temanku bercerita tentang tempat minum susu murni yang terkenal di Solo bernama Shi Jack. Akhirnya tibalah kami di rumah temanku itu ketika sudah hampir magrib dengan pakaian agak basah.
            Setelah makan malam di angringan bergaya kafe yang asyik untuk kongko, kami memutuskan untuk mengitari Kota Solo. Kata temanku, semalam bisa mengitari Solo, Solo itu kecil saja. Tentu yang pertama kami datangi adalah Pasar Gede. Tak kusangka gapura Pasar Gede yang sengaja dibuat untuk merayakan hari imlek tahun ini lebih mengagumkan ketimbang hasil jepretan jurnalis daring yang aku lihat. Melewati gapura itu seperti memasuki cahaya merah megah.
            Eh, tapi sebelum sampai di gapura merah gemilang itu sepenjang jalan menuju Pasar Gede ada lampion yang bentuknya menggemaskan. Semua binatang yang melambangkan shio dalam penanggalan Cina dibuat buntet dan lucu. Ayam, ular, monyet, kuda, dan lainnya dibuat seperti karakter Jepang yang bentuknya chibi. Lampion shio lucu itu pun dibungkus dengan kertas warna warni yang membuatku ingin menyentuhnya. Tapi aku agak keanehan ketika aku sadar bahwa lampion shio lucu itu berdiri di atas alas yang terpampang nama-nama bank. Satu lampion satu nama bank.
            Ternyata di gapura merah gemilang pun terpajang nama bank plat merah ketika aku menoleh ke belakang setelah melewati gapura itu. Ternyata lagi, sudah tidak ada acara apa-apa malam itu di Pasar Gede. Jadi, kami datang menemui sisa-sisa perayaan imlek yang katanya meriah itu. Akan tetapi malam itu masih ramai orang-orang datang ke Pasar Gede. Tak ada yang bisa disaksikan, maka mereka hanya berfoto-foto. Kami lebih jauh lagi memasuki Pasar Gede, dan memang sepi. Hanya lampion bulat merah yang masih tergantung di gedung pasar tradisional yang menurutku sama saja dengan pasar tradisional lain: kumuh, kotor, dan becek. Walaupun dihiasi lampion merah, namun kekumuhan itu tak lenyap.
            Di sudut lain di Pasar Gede aku menemukan dua pemulung yang sedang mengorek-ngorek tempat sampah dengan penerangan dari senter yang terikat di kepalanya. Kejadian itu terpapar begitu saja di hadapanku, dan kami melanjutkan perjalanan mengililingi Kota Solo. Tak tentu arah aku dibawa temanku. Aku jadi teringat buku Pesona Solo yang ditulis istri Chairul Tanjung si anak singkong. Aku belum membaca buku itu, namun aku sempat mebayang-bayangkan apa yang ditulis wanita itu tentang kota kelahirannya.
            Aku kira ia menulis tentang Solo sebagai kiblat budaya masyarakat Jawa selain Yogyakarta. Solo yang masyarakatnya ramah dan lemah lembut, Solo yang budayanya kejawaannya terjaga, Solo yang makanannya nikmat, dan Solo dengan berbagai hal yang mengagumkan lainnya. Namanya juga perkiraan. Agar tak lagi mengira-ngira aku diajak berkeliling Solo lagi. Dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Museum dan Monumen Pers Indonesia, sampai Stadion Manahan. “Apa lagi ini? hotel lagi?” seru temanku ketika menemukan kota kelahirannya sudah penuh dengan bangunan yang mencirikan gaya hidup urban.
            Jalan-jalan malam itu memberikanku oleh-oleh yang aku bawa ke Jogja. Bukan makanan khas Solo ataupun batik, yang aku bawa hanya keinginan untuk menuliskan apa yang aku lihat. Tak disangka-sangka aku kembali menemukan buku yang menjurus pada apa yang akan aku tulis tentang Solo dan perayaan hari imlek. Buku itu berjudul Etnis Tionghoa dan Pembangunan Bangsa yang ditulis Leo Suryadinata. Aku baca-baca selintas dan aku menemukan bahwa menyebut “cina” kepada orang Cina adalah suatu perbuatan kasar, maka untuk penggantinya disebutlah orang Tionghoa.
            Aneh betul pikirku, kata “cina” biasa saja padahal tapi jadi punya punya nilai sendiri dan mengizinkan selera berkuasa atasnya. Aku jadi teringat pada perkataan temanku bahwa dulu di beberapa tempat di Solo rumah-rumah etnis Tionghoa bertuliskan “Kami pribumi.” Orang Indonesia yang mencoba sedikit mencari tahu sejarah bangsanya melebihi apa yang dikatakan buku paket sekolah mungkin insaf akan maksud kalimat itu. Kalimat yang dianggap mampu menyelamatkan orang Tionghoa dari terkaman orang-orang yang menganggap dirinya mengemban tugas revolusi. Bagi mereka orang Tionghoa yang tak mengaku pribumi tentu akan menerima derita tak terperi. Mereka dibunuh, dibakar, dijarah harta bendanya, diperkosa, dan Sungai Bengawan Solo tersepuh merah oleh darah.

            Kini Solo masih merah, tapi bukan oleh darah etnis Tionghoa melainkan perayaan imlek yang meriah. Cina pun masih merah dengan bendera dan ideologinya, namun mereka sudah jadi raksasa merah yang menyebarkan produk-produknya ke berbagai negara. Imlek yang meriah di Solo pun tak akan tercipta tanpa produk dari bank-bank yang diduduki lampion shio yang mengiringi doa mereka setiap awal tahun untuk menjadi fa cay

1 komentar: