Oleh Eva Hudaeva
Seorang lelaki asing berkulit merah dan berambut gondrong sedang memohon-mohon maaf kepada seorang ibu pribumi. Bukan karena si lelaki kulit merah itu berbuat kurang ajar pada si ibu. Melainkan ia serba salah harus bersikap bagaimana, ia tak bisa membeli lagi gelang-gelang yang si ibu jual, tapi si ibu terus saja menawarkannya. Ternyata lelaki itu bukan satu-satunya orang asing yang sedang di rayu pedagang-pedagang cendramata di Pantai Kuta sore itu. Masih ada beberapa teman si bule itu yang sedang, entah membeli atau dimintai uang, oleh pedagang gelang yang lain.
Seorang lelaki asing berkulit merah dan berambut gondrong sedang memohon-mohon maaf kepada seorang ibu pribumi. Bukan karena si lelaki kulit merah itu berbuat kurang ajar pada si ibu. Melainkan ia serba salah harus bersikap bagaimana, ia tak bisa membeli lagi gelang-gelang yang si ibu jual, tapi si ibu terus saja menawarkannya. Ternyata lelaki itu bukan satu-satunya orang asing yang sedang di rayu pedagang-pedagang cendramata di Pantai Kuta sore itu. Masih ada beberapa teman si bule itu yang sedang, entah membeli atau dimintai uang, oleh pedagang gelang yang lain.
Lihat di belakang lelaki asing
gondrong itu, ada lelaki asing berparas tampan berkali-kali memberikan uang
pada seorang ibu penjual gelang yang lain. Awalnya ia memberikan selembar uang biru,
tapi si ibu masih menengadah dan lelaki asing yang tampan itu memberikan uang
yang warnanya campur-campur, entah berapa jumlahnya. Pikirku, mahal benar harga
gelang-gelang itu, yang aku lihat si bule tampan hanya mengambili beberapa
gelang, tapi ia memberikan uang sebanyak itu. Eh, ibu itu masih saja menengadah,
si lelaki asing tak menghiraukannya lantas ia berlalu. Melihat kejadian itu, rasanya
aku ingin mengakui bahwa aku orang Vietnam atau Malaysia saja.
Menginjakkan
kaki di pasir Pantai Kuta yang terkenal keindahannya ke seantero dunia tak
membuatku bahagia. Bagaimana bisa orang asli Bali menengadahkan tangan pada
orang asing yang datang untuk menikmati keindahan alamnya? Bagaimana bisa
mereka tak kecipratan kemakmuran dari industri pariwisata di tempat tinggalnya
sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menghalangiku
untuk menuliskan ini. Aku berharap memperoleh sedikit jawaban atas pertanyaan,
yang menurutku, cukup menggelisahkan. Sampai baru-baru ini aku meminjam buku
berjudul Menggugat Bali (1986) dari
perpustakaan kampus. Begitu kuat hasratku untuk menarik buku itu dari rak,
walau tak aku baca sama sekali ulasan singkat di belakangnya. Bukan hanya
karena aku punya proyek untuk menuliskan beberapa catatan tentang Bali, tapi
juga buku itu ditulis Putu Setia. Ya, Putu Setia, pendeta Bali yang dulunya wartawan.
Aku kagum betul pada lelaki yang sekarang dikenal juga dengan nama Mpu
Jayaprema itu. Aku kagum akan keterampilannya menulis dengan gaya satire namun
tetap bijak.
Dalam bukunya yang aku sebutkan itu
Putu Setia membeberkan catatan perjalanannya di tanah kelahirannya sendiri
setelah bertahun-tahun mengembara di Jakarta. Putu Setia pulang hanya dengan maksud
menengok pulau Dewata yang sudah sangat terkenal waktu itu. Kepulangannya
didorong oleh kelakuan seorang temannya yang membacakan puisi WS Rendra yang
berjudul Sajak Pulau Bali di kantor
tempat Putu Setia dan temannya itu bekerja. Dalam puisi itu Rendra gelisah
dengan Bali yang sudah tercemar karena pariwisata. Teman Putu Setia mengejek,
walau sebenarnya ia hanya beberapa hari berkunjung ke Bali. Putu Setia
senyum-senyum saja, singkat cerita ia bertekad melakukan perjalanan ke Bali,
melihat kembali apa-apa yang sudah terjadi selama “gadis elok” bernama Bali itu
ia tinggalkan.
Catatan-catatan perjalanan Putu
Setia menjawab sebagian besar pertanyaanku tadi. Ide di pembuka buku itu yang
aku ingat betul ialah, bahwa Bali tidak siap menerima hujan dolar yang datang
begitu lebat. Kekaguman akan keindahan budaya dan alam Bali bukan dimanfaatkan
penduduk Bali, malah oleh pengusaha industri pariwisata yang tak lain berasal
dari Jakarta. Hotel-hotel dan pengelolaan tempat pariwisata dilakukan oleh
orang-orang yang bukan penduduk Bali. Itukah yang menjadikan ibu-ibu penjual
gelang hanya bisa “mengerjai” bule yang tidak tahu harga gelang?
Bisa jadi begitu. Mereka, para
penjajak gelang, terpinggirkan karena tidak mempunyai pengetahuan memadai
tentang pariwisata. Mereka hanya tahu banyak orang datang ke Bali dan mereka
bisa memanfaatkan itu dengan menajajakkan buah tangan khas Bali. Anehnya,
memanfaatkan kedatangan wisatawan itu malah menjadikan pedangang-pedagang
gelang tadi merelakan diri menengadah demi rupiah hasil penukaran dengan dolar.
Sementara ada orang (asli Bali atau
bukan) yang memanfaatkan kedatangan wisatawan itu dengan mendirikan hotel
berbintang dan kafe-kafe untuk nongkrong para turis. Kafe-kafe yang menurutku
tak asing di negara asal mereka. Untuk apa mereka datang jauh-jauh ke Bali
kalau kafe dan hotel dengan merek dagang itu juga yang mereka temui? Bukankah mereka
penasaran dengan keunikan Bali yang tak mungkin mereka temui di tempat lain?
Putu Setia tak banyak membahas hal ini dalam bukunya, ia lebih berfokus pada
budaya Bali yang tak terasa lagi kekidmatannya karena desakan pariwisata.
Tak ada seorangpun menyangkal Bali
adalah pulau dengan budaya Hindu yang kuat dan budaya itu terwujud dalam
upacara-upacara dan kesenian yang tak kalah mengagumkan. Kebudayaan Bali yang
agung itu ternyata tak luput dari sentuhan makhluk bernama industri pariwisata.
Putu Setia menyadari, bahwa budaya dan kesenian Bali banyak yang sudah terasa campah atau hambar. Tari-tarian sakral
bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja sesuai keinginan wisatawan. Rumah-rumah
di pinggir jalan sengaja dirancang dengan ukiran-ukiran khas Bali untuk menarik
wisatawan. Upacara-upacara keagamaan menjadi objek pariwisata pula, yang tak
jarang terjadi salah kaprah wisatawan terhadap upacara-upacara itu. Putu Setia
mencoba meluruskan kesalahkaprahan itu.
Sayang sekali, aku belum terlalu
puas dengan jawaban Putu Setia. Aku pun belum bisa menyimpulkan apa kekurangan
itu. Mungkinkah aku harus datang kembali ke Bali dan mencari buku Putu Setia seri
kedua yang berjudul Mendebat Bali? Atau
aku ke Bali untuk mengunjungi tempat-tempat yang tak terlalu terkenal sebagai
tempat pariwisata?
Ah, Waktu itu aku belum berpikir
demikian. Waktu itu aku hanya memutuskan untuk beranjak dari pasir Pantai Kuta,
dan tak disangka-sangka dua gadis berkulit merah berlarian dan buah dada mereka
terayun-ayun. Aku sudah berdiri dan melihat mereka menghampiri seorang lelaki
pribumi setengah baya yang menawarkan sebuah patung kecil dari kayu. “Seventy thousand,” kata lelaki penjual patung itu. “Thirsty,” teriak kedua gadis bule itu dengan riang, dan payu dara
mereka masih melonjak-lonjak. “Oh no, seventy,”
timbal lelaki penjual patung. “Thirsty,”
kali ini dua gadis bule itu pergi masih dengan riang menuju beberapa kaleng
minuman bersoda. “Ah,” keluhku dalam hati sambil berlalu.
Perjalanan pulang dari Bali yang
amat lama memberikanku kesempatan untuk berpikir tentang apa yang terjadi di Pantai
Kuta itu. Di pagi-pagi buta aku mengintip lewat jendela bis, dan keduakalinya aku
melihat museum gula Gondang Winangoen di Klaten. Dalam perjalanan menuju Bali
beberapa hari sebelumnya aku langsung teringat pada Nyai Ontosoroh ketika
melihat pabrik gula itu. Nyai Ontosoroh, gundik gubermen pabrik gula bernama
Hermann Mallema dalam tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Aku membayangkan
betapa warga Klaten diperbudak dengan pabrik gula pimpinan kolonial waktu itu.
Beberapa orang memanfaatkan dengan menghamba pada gubermen, contohnya ayah Nyai
Ontosoroh yang menyerahkan gadisnya agar ia dapat jabatan prestisius di pabrik
gula.
Untuk kedua kalinya aku melihat museum
pabrik gula itu yang mampir di pikranku bukan sekedar kemalangan Nyai
Ontosoroh. Namun, gula yang dulu menjadi representasi modal dan setiap orang
menyerahkan diri pada kekuatan gula. Kini, manisnya modal bukan sekedar dirasa
dari gula, namun manisnya punya rupa lain-lain, satu di antaranya disebut industri
pariwisata.
Yogyakarta, Januari 2014
Yogyakarta, Januari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar