Oleh
Eva Hudaeva
Kalau kita tahu novel Cintaku di Kampus Biru karya Ashadi Siregar yang kemudian difilmkan
dengan Roy Marten dan Yati Octavia sebagai pemainnya, mungkin novel dengan
judul Alenia yang ditulis Risalatul Hukmi
ini menjadi kisah lain tentang cinta yang terjadi di UGM. Seperti nasib yang
tak bisa ditampik, begitu pun cinta tak bisa dihalangi ketika sudah tiba,
namun, kisah cinta dalam Alenia menjadi
lain karena disuguhkan dengan persoalan rumit. Kisah cinta di dalam novel ini
bukan semata soal pertemuan antara lelaki dan perempuan di kampus UGM dan
selanjutnya menjalin asmara. Alenia menceritakan
percintaan antara kakak-adik, tapi bukan ‘kakak-adik’ zone.
Penulis Alenia
mengawali kisahnya dengan perbuatan paling eksistensial yaitu bunuh diri. Lebih
eksistensial lagi karena orang yang tergantung di pohon depan rektorat UGM ini
adalah mahasiswa filsafat, yang tentu saja sejenis orang yang dianggap rawan
bunuh diri. Dengan biola masih dalam genggaman, mahasiswa filsafat ini seolah
ingin menunjukkan kepada manusia lain bahwa kematian yang selama ini ditakutkan
manusia begitu mudahnya dilakukan.
Kita sebagai pembaca novel ini dan akan beranjak ke
bagian kedua sudah tertanam di benak kita bahwa mahasiswa filsafat yang mati
bunuh diri inilah yang akan menjadi laku utama dalam Alenia. Dan memang kisah ini terjalin antara seorang lelaki
mahaiswa filsafat yang diceritakan semester tujuh dengan gadis, mahasiswa semester
pertama kampus di seberang filsafat, psikologi. Cerita mereka pun dituliskan
dengan plot kilas balik.
Lelaki dan perempuan tersebut tak diberikan nama
oleh penulisnya. Kita hanya dapat mengidentifikasi bahwa si lelaki adalah kakak
dari perempuan itu. Hubungan kakak-adik ini dalam arti sesungguhnya, mereka berasal
dari orangtua yang sama. Kakak beradik itu terpisah setelah terjadi perceraian
orang tua mereka. Si adik tetap tinggal bersama uminya dan si kakak dikisahkan
hilang tak diketahui rimbanya sebelum kakak-adik itu secara kebetulan bertemu
di Yogyakarta, di UGM.
Cinta
yang Tidak Beralasan
Kita tak dapat menghindari untuk tidak mengingat perkataan
Sigmund Freud tentang Oedipus Complex ketika memahami cinta yang hadir antara
kakak beradik itu. Dan benar saja, perkataan Freud ditampilkan dalam novel ini
di bagian ketika si adik telah menyadari cintanya kepada kakaknya sendiri. Namun,
si adik menganggap analisis Freud tak sepenuhnya benar, karena cintanya bukan
terjadi kepada ibu seperti dalam analisis Freud. Akan tetapi penulis Alenia tak mengisahkan bagaimana cinta
antara kakak beradik itu perlahan-lahan tumbuh. Cinta dalam kisah ini dipahami
sebagai hal yang begitu saja hadir dibarengi perasaan nyaman luar biasa, dan
memang penulisya tak peduli mengapa kedua tokoh utama itu saling mencintai.
Setidaknya ada dua implikasi yang disebabkan oleh
tak dijelaskannya bagaimana proses cinta antara kaka-adik itu mulai tersemai. Pertama,
penulis menjadi tidak punya cara lain untuk mendeskripsikan perawakan dan
tampilan fisik tokoh-tokohnya. Maka dari itu, kita yang membaca hampir sama
sekali tak dapat memvisualisasikan bagaimana tokoh-tokoh itu sekiranya. Padahal
penulis Alenia menggunakan sistem penokohan
aku-banyak, jika misalnya saja penulis mencoba mendeskripsikan kekaguman si adik
dengan rupa fisik kakaknya yang menerbitkan hasrat, pembaca tidak akan dibuat
terlalu buta tentang gambaran tokoh. Deskripsi yang baik justru penulis Alenia lakukan untuk mendeskripsikan
sosok Jingga yang hadir di bagian akhir cerita.
Kedua, cinta yang tak jelas asal-muasalnya akan
terjerumus pada cinta yang murahan. Cinta murahan yang hadir secara singkat dan
mudah pula diwujudkan dalam permainan ranjang. Sebelum perpisahan, kakak
beradik itu tidak ada perasaan selain rasa terlindungi dan ingin melindungi
sebagai kakak-adik. Cinta mereka jadi murahan ketika pertemuan itu terjadi dan
keduanya dengan mudah melakukan aktivitas ranjang hingga lima kali tiada henti!
Tidak ada yang salah dengan hubungan seksual dalam
sebuah cerita, namun hubungan seksual antara kakak-adik ini akan lebih
beralasan apabila sebelum perpisahan itu terjadi, penulis menawarkan hasrat
yang tiada terbendung antara keduanya. Memang ada perasaan kedua tokoh utama
ini untuk saling menghasrati ketika keduanya mencapai baligh. Si kakak pertama
kali mimpi basah dan si adik pertama kali menstruasi, keduanya saling memimpikan
tentang aktivitas seksual yang panas antara mereka. Namun, hal tersebut tidak
cukup untuk menstimulasi kedua tokoh ini untuk menanggalkan perasaan sebagai
saudara yang ditanamkan sejak kecil, lalu berhubungan intim seolah mereka bukan
saudara, atau setidaknya merasa saudara.
Novel
Stensilan?
Faktanya, kakak beradik ini bukanlah saudara
kandung. Hal ini yang menjadi apologi si adik untuk tidak ragu melakukan
aktivitas seksual dengan kakaknya. Tetapi, fakta tersebut baru si adik katakan
ketika mereka telah usai mandi bersama dan saling peluk-berpelukan. Lalu,
bagaimana perasaan si kakak saat madi bersama itu? Padahal sepengetahuannya,
wanita itu adalah adik kandungnya? Tapi ah, si kakak itu tetap saja lelaki,
lelaki dari darah dan daging yang tidak kuasa menahan birahi ketika disuguhkan
wanita sintal yang menggoda. Barangkali perasaan si kakak saat itu sama seperti
Tokoh Kita dalam Merahnya Merah Iwan
Simatupang ketika Fifi dengan sukarela menyuguhkan tubuhnya untuk digarap di
lapangan yang penuh cahaya kunang-kunang.
Alenia di awal banyak menceritakan kepada kita bagaimana detail hubungan intim. Penulisnya
merincikan bagaimana hubungan intim terjadi hingga sepasang lelaki dan perempuan
mencapai kepuasan. Saking gamblangnya penggambaran hubungan intim tersebut, ‘burung’
Ajo Kawir (tokoh dalam novel Seperti
Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan) yang sudah lama tertidur
bagai beruang kutub hibernasi pun kemungkinan besar akan bangun bila membaca
bagian awal cerita ini. Maka dari itu, di awal kita sudah dipaksa bertanya:
apakah ini novel stensilan?
Sekali lagi tidak ada yang salah dengan penggambaran
aktivitas seksual dalam cerita dewasa begini, dan kenyataan bahwa kehidupan
mahasiswa bisa sampai sebebas itu pun tidak dapat disangkal. Namun, dalam cerita
ini hampir tidak memberikan pemaknaan apapun tentang hubungan intim, tentang
keperawanan. Hubungan intim hanya dimaknai sebagai kenikmatan dan keindahan yang
deminya seorang dapat tidak peduli pada apapun. Memang, si adik setelah
memutuskan memberikan kegadisannya pada kakaknya sendiri ia tak menyesal karena
kegadisan itu menurutnya jatuh pada orang yang betul-betul tepat. Tapi tetap
saja tak ada pemaknaan mendalam yang dilakukan penulis tentang hubungan intim
yang dalam cerita yang ditulisnya bukan lagi menjadi barang sakral.
Ayu Utami adalah satu di antara penulis yang gemar memperlihatkan
kepada pembacanya bagaimana proses hubungan intim berlangsung, namun Ayu Utami
berusaha sebisa mungkin menggali apa hal yang paling esensi dalam hubungan
intim. Bahkan dalam novelnya Cerita Cinta
Enrico, yang terhitung liar, Ayu Utami tetap mencoba mengungkap apa-apa
yang diharapkan perempuan dalam dan setelah hubungan seks berlangsung. Semisal keinginan
berumah tangga, padahal si lelaki tak menganggap perempuan itu lebih dari teman
tidur. Apalagi dalam Lalita, dengan
riset yang teliti Ayu Utami menyebut pencapaian tertinggi dalam hubungan
seksual adalah axis mundi atau poros
dunia.
Hal-hal bermakna dibalik hubungan seksual seperti itu selayaknya dipikirkan oleh penulis Alenia. Sehingga penggambaran proses hubungan seksual tidak hanya menjadi bumbu-bumbu cerita belaka.
Kecenderungan
Berkhutbah
Entah siapa yang memulai kecenderunagn berkhutbah
dalam ranah kepenulisan fiksi Indonesia kontemporer. Penulis-penulis muda
seolah berlomba untuk mendefinisikan kehidupan dan hal-hal adiluhung dalam
kehidupan. Hal seperti kebahagiaan, kematian, keindahan, apalagi cinta, masing-masing
penulis punya definisi sendiri-sendiri yang terdengar lebih seperti khutbah. Definisi
tentang kehidupan dan seisinya dapat ditemukan dengan mudah ditemukan dalam
tulisan Bernard Batubara, Zarry Hendrik, dan yang lebih besar lagi, Dewi
Lestari. Menjadi seru ketika definisi-definisi itu terasa sangat indah dan ngena banget di hati pembaca sehingga
definisi tersebut berakhir sebagai quote
di ranah twitter. Definisi quoteable
dan tweetable.
Beberapa bagian Alenia
pun mengandung khutbah seperti itu. Misalnya saja untuk menjelaskan bahwa suatu
malam adalah malam terakhir liburan semester dan ada rasa antusias akan bertemu
orang yang dicinta, penulis Alenia
harus berputar-putar dahulu dengan pendefinisian kebahagiaan. Sepotong bagian
itu begini: Tak ada hal yang mengesankan.
Mungkin hanya sebarang kebahagiaan kecil bersama orang yang kita cinta. Dan mungkin
begitulah kebahagiaan. Tak pernah ada yang sejati, melainkan ia hanya semacam
bilik-bilik kecil yang terhampar di sepanjang jalan pelarian kita dari ketakutan akan hidup...(Alenia hal. 105).
Pendefinisian tentang segala sesuatu tentang kehidupan
tak salah dalam sastra, karena fungsi sastra sendiri ialah membantu manusia menyingkapkan
ceruk-ceruk yang menghalangi manusia untuk mengerti makna sesungguhnya dari
kehidupan yang sedang manusia jalani. Akan tetapi, penulis muda kini sering
alpa bahwa untuk mengungkapkan perenungannya tentang makna kehidupan melalui
sastra, penulis harus menggunakan cerita sebagai senjatanya. Penulis muda kini
lebih sering mengambil jalan pintas untuk menyampaikan hasil renungannya
tentang makna kehidupan melalui khutbah, tapi cerita yang dibuatnya sendiri tak
memiliki kekuatan apapun.
Jika ingin ekstrem, cerita tanpa khutbah dan
pengungkapan perasaan tokoh sama sekali ada dalam model penceritaan dramatik
atau objektif. Model penceritaan seperti ini disebut-sebut digunakan oleh
Ernest Hemingway. Hemingway membiarkan cerita berjalan begitu saja tanpa ada
intervensi penulis untuk berkhutbah atau bahkan pengungkapan pikiran dan perasaan
si tokoh. Gaya penulisan seperti ini memang terasa tak asyik, bahkan dalam awal
kariernya Hemingway dikritik oleh Wyndham Lewis dalam tulisan berjudul The Dumb Ox. Dalam tulisan itu Hemingway
dianggap sebagai penulis yang menciptakan tokoh yang tidak mempunyai dimensi
mendalam (Melani Budianta, 1997).
Gaya penulisan Hemingway ternyata malah
mengantarkannya pada penghargaan Nobel dan menjadi pelopor penulisan sastra modern.
Namun, khutbah dan pendefinisian tentang kehidupan sulit dihapuskan dalam
budaya penulisan sastra Indoensia. Khutbah dan pendefinisian segala sesuatu itu
jika ditata dengan runutan cerita yang bagus justru menjadi kekuatan dari sastra
Indoneia. Khutbah tersebut yang malah menjadikan sastra Indonesia mempunyai ruh
tersendiri yag tak bisa ditandingi oleh sastra dari negara manapun. Seno Gumira
Ajidarma adalah satu di antara penulis yang mampu merepresentasikan hal ini.
Namun bukan runutan cerita yang bagus yang menjadi
pemaafan bertaburnya khutbah dalam Alenia.
Tak lain ialah beberapa khutbah berdasarkan ajaran filsafa. Dengan menyandarkan diri pada
ajaran filsafat penulis Alenia mencoba
mendifinisikan kehidupan sekaligus menertawakan kehidupan yang kini sedang
berangsung. Maka dari itu, novel ini pun jadi semacam diary unek-unek
penulisnya melihat kehidupan kini yang mahasemerawut. Unek-unek yang paling
menonjol ialah tentang agama yang kini lebih terasa menjadi beban ketimbang
suatu hal yang mendamaikan dan membebaskan.
Dengan penyampaian khutbah-khutbah yang berdasarkan
pemikiran filosofis, terutama filsafat Nietzsche yang paling banyak dikutip,
seharusnya khutbah-khutbah dalam Alenia menjadi
khutbah yang adequat. Bukan khutbah yang menggurui padahal yang diajarkan adalah
doxa.
Aku-Banyak
dan Pengungkapan-Pengungkapan
Beberapa kelemahan dalam Alenia selain yang telah terjabarkan sebelumnya, ialah kelemahan
yang remeh-temeh namun patut dicatat. Misal penulisan kata ‘kah’ sebagai
imbuhan yang berfungsi sebagai pertanyaan dan ditempatkan di akhir kata, dalam
novel ini disimpan pada awal kalimat tanya, misalnya: Kah mungkin malam terlalu kejam sehingga menenggelamkannya? (Alenia
hal. 156). Bisa dimengerti, mungkin penulisan kalimat seperti itu adalah keadaan
ketika aturan baku kebahasaan harus menyerah pada keindahan diksi. Tetapi,
apakah dengan tetap mengikuti aturan kebahasaan diksi tak akan lagi indah?
Selain itu, hal sepele lain tapi kurang diperhatikan
ialah penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa yang berbaur tapi tidak
ditandai mana yang baku dalam bahasa Indonesia dan mana yang tidak. Sepele saja,
namun seorang penulis sulit dipercaya kualitas tulisannya apabila hal kecil
seperti ini saja tak diperhatikan.
Dari berbagai kelemahan yang ada pada Alenia, hal yang paling mengagumkan dari
novel ini ialah penggunakan sistem
penokohan aku-banyak yang cukup berhasil. Artinya, tokoh yang digunakan ialah
ornag pertama pelaku utama, namun pelaku utama ini bukan Cuma satu orang. Jadi,
misal dalam bagian pertama tokoh ‘aku’ yang sedang bercerita adalah si kakak
dan bagian kedua gantian si adik yang menjadi ‘aku’.
Konsekuensi dari penggunaan penokohan orang pertama
pelaku utama tentu saja ketidaktahuan di luar keakuan si tokoh utama. Ketidaktahuan
ini oleh penulis Alenia diatasi
dengan sistem penokohan aku-banyak tersebut, namun ketidaktahuan itu tetap ada
dan menjadi kemenarikan tersendiri untuk menjalin cerita.
Sistem penokohan Alenia
menjadikan cerita menarik karena berhasil mengungkapkan peristiwa-peristiwa
dalam cerita tanpa menghilangkan keakuan setiap tokohnya. Misalnya saja, ada
satu pada awal cerita penulis Alenia menggunakan si kakak sebagai tokoh aku untuk
menggambarkan pertengakaran antara kedua orangtuanya. Lalu dalam bagian
selanjutnya penulis menggunakan umi sebagai tokoh aku yang sekaligus
menjelaskan seluk-beluk pertengkaran dan perselingkuhan si umi. Hal semacam ini
tak lain adalah sistem penokohan aku-banyak yang berhasil melakukan
pengungkapan. Dalam skala yang lebih besar, sistem penokohan aku-banyak ini
telah secara halus dan wajar melakukan pengungkapan bahwa mahasiswa yang mati
bunuh diri di depan rektoran UGM bukanlah si kakak. Ini hebat dan menjadikan
cerita begitu utuh.
Sebetulnya sistem penokohan aku-banyak ini sudah
digunakan lebih dulu oleh Radhar Panca Dahana dalam cerepennya Sepi pun Menari di Tepi Hari (2003). Lalu
kemudian secara lebih masif digunakan oleh Leila S. Chudori dalam Pulang (2012). Kelemahan Leila dalam
novelnya ini menurut pengamat ialah sistem penokohannya yang sering tak jelas
siapa yang menjadi ‘aku’ pada bagian tertentu. Kelemahan ini pun terjadi pada Alenia. Penulisnya seringkali terlalu
lama terlarut dalam perkataan-perkataan si aku tapi tak terjelaskan sejak awal
bagian siapa yang sedang menjadi ‘aku’.
Alenia hingga
akhir cerita tak terjelaskan artinya. Namun, hal yang paling mudah untuk
disimpulkan adalah bahwa Alenia adalah
cerita yang diawali hujan dan diakhiri hujan.


