Minggu, 01 Maret 2015

Alenia: Diawali Hujan dan Diakhiri Hujan


Oleh Eva Hudaeva

Kalau kita tahu novel Cintaku di Kampus Biru karya Ashadi Siregar yang kemudian difilmkan dengan Roy Marten dan Yati Octavia sebagai pemainnya, mungkin novel dengan judul Alenia yang ditulis Risalatul Hukmi ini menjadi kisah lain tentang cinta yang terjadi di UGM. Seperti nasib yang tak bisa ditampik, begitu pun cinta tak bisa dihalangi ketika sudah tiba, namun, kisah cinta dalam Alenia menjadi lain karena disuguhkan dengan persoalan rumit. Kisah cinta di dalam novel ini bukan semata soal pertemuan antara lelaki dan perempuan di kampus UGM dan selanjutnya menjalin asmara. Alenia menceritakan percintaan antara kakak-adik, tapi bukan ‘kakak-adik’ zone.

Penulis Alenia mengawali kisahnya dengan perbuatan paling eksistensial yaitu bunuh diri. Lebih eksistensial lagi karena orang yang tergantung di pohon depan rektorat UGM ini adalah mahasiswa filsafat, yang tentu saja sejenis orang yang dianggap rawan bunuh diri. Dengan biola masih dalam genggaman, mahasiswa filsafat ini seolah ingin menunjukkan kepada manusia lain bahwa kematian yang selama ini ditakutkan manusia begitu mudahnya dilakukan.

Kita sebagai pembaca novel ini dan akan beranjak ke bagian kedua sudah tertanam di benak kita bahwa mahasiswa filsafat yang mati bunuh diri inilah yang akan menjadi laku utama dalam Alenia. Dan memang kisah ini terjalin antara seorang lelaki mahaiswa filsafat yang diceritakan semester tujuh dengan gadis, mahasiswa semester pertama kampus di seberang filsafat, psikologi. Cerita mereka pun dituliskan dengan plot kilas balik.

Lelaki dan perempuan tersebut tak diberikan nama oleh penulisnya. Kita hanya dapat mengidentifikasi bahwa si lelaki adalah kakak dari perempuan itu. Hubungan kakak-adik ini dalam arti sesungguhnya, mereka berasal dari orangtua yang sama. Kakak beradik itu terpisah setelah terjadi perceraian orang tua mereka. Si adik tetap tinggal bersama uminya dan si kakak dikisahkan hilang tak diketahui rimbanya sebelum kakak-adik itu secara kebetulan bertemu di Yogyakarta, di UGM.


Cinta yang Tidak Beralasan
Kita tak dapat menghindari untuk tidak mengingat perkataan Sigmund Freud tentang Oedipus Complex ketika memahami cinta yang hadir antara kakak beradik itu. Dan benar saja, perkataan Freud ditampilkan dalam novel ini di bagian ketika si adik telah menyadari cintanya kepada kakaknya sendiri. Namun, si adik menganggap analisis Freud tak sepenuhnya benar, karena cintanya bukan terjadi kepada ibu seperti dalam analisis Freud. Akan tetapi penulis Alenia tak mengisahkan bagaimana cinta antara kakak beradik itu perlahan-lahan tumbuh. Cinta dalam kisah ini dipahami sebagai hal yang begitu saja hadir dibarengi perasaan nyaman luar biasa, dan memang penulisya tak peduli mengapa kedua tokoh utama itu saling mencintai.

Setidaknya ada dua implikasi yang disebabkan oleh tak dijelaskannya bagaimana proses cinta antara kaka-adik itu mulai tersemai. Pertama, penulis menjadi tidak punya cara lain untuk mendeskripsikan perawakan dan tampilan fisik tokoh-tokohnya. Maka dari itu, kita yang membaca hampir sama sekali tak dapat memvisualisasikan bagaimana tokoh-tokoh itu sekiranya. Padahal penulis Alenia menggunakan sistem penokohan aku-banyak, jika misalnya saja penulis mencoba mendeskripsikan kekaguman si adik dengan rupa fisik kakaknya yang menerbitkan hasrat, pembaca tidak akan dibuat terlalu buta tentang gambaran tokoh. Deskripsi yang baik justru penulis Alenia lakukan untuk mendeskripsikan sosok Jingga yang hadir di bagian akhir cerita.

Kedua, cinta yang tak jelas asal-muasalnya akan terjerumus pada cinta yang murahan. Cinta murahan yang hadir secara singkat dan mudah pula diwujudkan dalam permainan ranjang. Sebelum perpisahan, kakak beradik itu tidak ada perasaan selain rasa terlindungi dan ingin melindungi sebagai kakak-adik. Cinta mereka jadi murahan ketika pertemuan itu terjadi dan keduanya dengan mudah melakukan aktivitas ranjang hingga lima kali tiada henti!

Tidak ada yang salah dengan hubungan seksual dalam sebuah cerita, namun hubungan seksual antara kakak-adik ini akan lebih beralasan apabila sebelum perpisahan itu terjadi, penulis menawarkan hasrat yang tiada terbendung antara keduanya. Memang ada perasaan kedua tokoh utama ini untuk saling menghasrati ketika keduanya mencapai baligh. Si kakak pertama kali mimpi basah dan si adik pertama kali menstruasi, keduanya saling memimpikan tentang aktivitas seksual yang panas antara mereka. Namun, hal tersebut tidak cukup untuk menstimulasi kedua tokoh ini untuk menanggalkan perasaan sebagai saudara yang ditanamkan sejak kecil, lalu berhubungan intim seolah mereka bukan saudara, atau setidaknya merasa saudara.


Novel Stensilan?
Faktanya, kakak beradik ini bukanlah saudara kandung. Hal ini yang menjadi apologi si adik untuk tidak ragu melakukan aktivitas seksual dengan kakaknya. Tetapi, fakta tersebut baru si adik katakan ketika mereka telah usai mandi bersama dan saling peluk-berpelukan. Lalu, bagaimana perasaan si kakak saat madi bersama itu? Padahal sepengetahuannya, wanita itu adalah adik kandungnya? Tapi ah, si kakak itu tetap saja lelaki, lelaki dari darah dan daging yang tidak kuasa menahan birahi ketika disuguhkan wanita sintal yang menggoda. Barangkali perasaan si kakak saat itu sama seperti Tokoh Kita dalam Merahnya Merah Iwan Simatupang ketika Fifi dengan sukarela menyuguhkan tubuhnya untuk digarap di lapangan yang penuh cahaya kunang-kunang.

Alenia di awal  banyak menceritakan kepada kita bagaimana detail hubungan intim. Penulisnya merincikan bagaimana hubungan intim terjadi hingga sepasang lelaki dan perempuan mencapai kepuasan. Saking gamblangnya penggambaran hubungan intim tersebut, ‘burung’ Ajo Kawir (tokoh dalam novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan) yang sudah lama tertidur bagai beruang kutub hibernasi pun kemungkinan besar akan bangun bila membaca bagian awal cerita ini. Maka dari itu, di awal kita sudah dipaksa bertanya: apakah ini novel stensilan?

Sekali lagi tidak ada yang salah dengan penggambaran aktivitas seksual dalam cerita dewasa begini, dan kenyataan bahwa kehidupan mahasiswa bisa sampai sebebas itu pun tidak dapat disangkal. Namun, dalam cerita ini hampir tidak memberikan pemaknaan apapun tentang hubungan intim, tentang keperawanan. Hubungan intim hanya dimaknai sebagai kenikmatan dan keindahan yang deminya seorang dapat tidak peduli pada apapun. Memang, si adik setelah memutuskan memberikan kegadisannya pada kakaknya sendiri ia tak menyesal karena kegadisan itu menurutnya jatuh pada orang yang betul-betul tepat. Tapi tetap saja tak ada pemaknaan mendalam yang dilakukan penulis tentang hubungan intim yang dalam cerita yang ditulisnya bukan lagi menjadi barang sakral.

Ayu Utami adalah satu di antara penulis yang gemar memperlihatkan kepada pembacanya bagaimana proses hubungan intim berlangsung, namun Ayu Utami berusaha sebisa mungkin menggali apa hal yang paling esensi dalam hubungan intim. Bahkan dalam novelnya Cerita Cinta Enrico, yang terhitung liar, Ayu Utami tetap mencoba mengungkap apa-apa yang diharapkan perempuan dalam dan setelah hubungan seks berlangsung. Semisal keinginan berumah tangga, padahal si lelaki tak menganggap perempuan itu lebih dari teman tidur. Apalagi dalam Lalita, dengan riset yang teliti Ayu Utami menyebut pencapaian tertinggi dalam hubungan seksual adalah axis mundi atau poros dunia.  

Hal-hal bermakna dibalik hubungan seksual seperti itu selayaknya dipikirkan oleh penulis Alenia. Sehingga penggambaran proses hubungan seksual tidak hanya menjadi bumbu-bumbu cerita belaka.


Kecenderungan Berkhutbah
Entah siapa yang memulai kecenderunagn berkhutbah dalam ranah kepenulisan fiksi Indonesia kontemporer. Penulis-penulis muda seolah berlomba untuk mendefinisikan kehidupan dan hal-hal adiluhung dalam kehidupan. Hal seperti kebahagiaan, kematian, keindahan, apalagi cinta, masing-masing penulis punya definisi sendiri-sendiri yang terdengar lebih seperti khutbah. Definisi tentang kehidupan dan seisinya dapat ditemukan dengan mudah ditemukan dalam tulisan Bernard Batubara, Zarry Hendrik, dan yang lebih besar lagi, Dewi Lestari. Menjadi seru ketika definisi-definisi itu terasa sangat indah dan ngena banget di hati pembaca sehingga definisi tersebut berakhir sebagai quote di ranah twitter. Definisi quoteable dan tweetable.

Beberapa bagian Alenia pun mengandung khutbah seperti itu. Misalnya saja untuk menjelaskan bahwa suatu malam adalah malam terakhir liburan semester dan ada rasa antusias akan bertemu orang yang dicinta, penulis Alenia harus berputar-putar dahulu dengan pendefinisian kebahagiaan. Sepotong bagian itu begini: Tak ada hal yang mengesankan. Mungkin hanya sebarang kebahagiaan kecil bersama orang yang kita cinta. Dan mungkin begitulah kebahagiaan. Tak pernah ada yang sejati, melainkan ia hanya semacam bilik-bilik kecil yang terhampar di sepanjang jalan pelarian kita dari ketakutan akan hidup...(Alenia hal. 105).

Pendefinisian tentang segala sesuatu tentang kehidupan tak salah dalam sastra, karena fungsi sastra sendiri ialah membantu manusia menyingkapkan ceruk-ceruk yang menghalangi manusia untuk mengerti makna sesungguhnya dari kehidupan yang sedang manusia jalani. Akan tetapi, penulis muda kini sering alpa bahwa untuk mengungkapkan perenungannya tentang makna kehidupan melalui sastra, penulis harus menggunakan cerita sebagai senjatanya. Penulis muda kini lebih sering mengambil jalan pintas untuk menyampaikan hasil renungannya tentang makna kehidupan melalui khutbah, tapi cerita yang dibuatnya sendiri tak memiliki kekuatan apapun.

Jika ingin ekstrem, cerita tanpa khutbah dan pengungkapan perasaan tokoh sama sekali ada dalam model penceritaan dramatik atau objektif. Model penceritaan seperti ini disebut-sebut digunakan oleh Ernest Hemingway. Hemingway membiarkan cerita berjalan begitu saja tanpa ada intervensi penulis untuk berkhutbah atau bahkan pengungkapan pikiran dan perasaan si tokoh. Gaya penulisan seperti ini memang terasa tak asyik, bahkan dalam awal kariernya Hemingway dikritik oleh Wyndham Lewis dalam tulisan berjudul The Dumb Ox. Dalam tulisan itu Hemingway dianggap sebagai penulis yang menciptakan tokoh yang tidak mempunyai dimensi mendalam (Melani Budianta, 1997).

Gaya penulisan Hemingway ternyata malah mengantarkannya pada penghargaan Nobel dan menjadi pelopor penulisan sastra modern. Namun, khutbah dan pendefinisian tentang kehidupan sulit dihapuskan dalam budaya penulisan sastra Indoensia. Khutbah dan pendefinisian segala sesuatu itu jika ditata dengan runutan cerita yang bagus justru menjadi kekuatan dari sastra Indoneia. Khutbah tersebut yang malah menjadikan sastra Indonesia mempunyai ruh tersendiri yag tak bisa ditandingi oleh sastra dari negara manapun. Seno Gumira Ajidarma adalah satu di antara penulis yang mampu merepresentasikan hal ini.

Namun bukan runutan cerita yang bagus yang menjadi pemaafan bertaburnya khutbah dalam Alenia. Tak lain ialah beberapa khutbah berdasarkan  ajaran filsafa. Dengan menyandarkan diri pada ajaran filsafat penulis Alenia mencoba mendifinisikan kehidupan sekaligus menertawakan kehidupan yang kini sedang berangsung. Maka dari itu, novel ini pun jadi semacam diary unek-unek penulisnya melihat kehidupan kini yang mahasemerawut. Unek-unek yang paling menonjol ialah tentang agama yang kini lebih terasa menjadi beban ketimbang suatu hal yang mendamaikan dan membebaskan.

Dengan penyampaian khutbah-khutbah yang berdasarkan pemikiran filosofis, terutama filsafat Nietzsche yang paling banyak dikutip, seharusnya khutbah-khutbah dalam Alenia menjadi khutbah yang adequat. Bukan khutbah yang menggurui padahal yang diajarkan adalah doxa.


Aku-Banyak dan Pengungkapan-Pengungkapan
Beberapa kelemahan dalam Alenia selain yang telah terjabarkan sebelumnya, ialah kelemahan yang remeh-temeh namun patut dicatat. Misal penulisan kata ‘kah’ sebagai imbuhan yang berfungsi sebagai pertanyaan dan ditempatkan di akhir kata, dalam novel ini disimpan pada awal kalimat tanya, misalnya: Kah mungkin malam terlalu kejam sehingga menenggelamkannya? (Alenia hal. 156). Bisa dimengerti, mungkin penulisan kalimat seperti itu adalah keadaan ketika aturan baku kebahasaan harus menyerah pada keindahan diksi. Tetapi, apakah dengan tetap mengikuti aturan kebahasaan diksi tak akan lagi indah?

Selain itu, hal sepele lain tapi kurang diperhatikan ialah penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa yang berbaur tapi tidak ditandai mana yang baku dalam bahasa Indonesia dan mana yang tidak. Sepele saja, namun seorang penulis sulit dipercaya kualitas tulisannya apabila hal kecil seperti ini saja tak diperhatikan.

Dari berbagai kelemahan yang ada pada Alenia, hal yang paling mengagumkan dari novel ini ialah penggunakan sistem penokohan aku-banyak yang cukup berhasil. Artinya, tokoh yang digunakan ialah ornag pertama pelaku utama, namun pelaku utama ini bukan Cuma satu orang. Jadi, misal dalam bagian pertama tokoh ‘aku’ yang sedang bercerita adalah si kakak dan bagian kedua gantian si adik yang menjadi ‘aku’.

Konsekuensi dari penggunaan penokohan orang pertama pelaku utama tentu saja ketidaktahuan di luar keakuan si tokoh utama. Ketidaktahuan ini oleh penulis Alenia diatasi dengan sistem penokohan aku-banyak tersebut, namun ketidaktahuan itu tetap ada dan menjadi kemenarikan tersendiri untuk menjalin cerita.

Sistem penokohan Alenia menjadikan cerita menarik karena berhasil mengungkapkan peristiwa-peristiwa dalam cerita tanpa menghilangkan keakuan setiap tokohnya. Misalnya saja, ada satu pada awal cerita penulis Alenia  menggunakan si kakak sebagai tokoh aku untuk menggambarkan pertengakaran antara kedua orangtuanya. Lalu dalam bagian selanjutnya penulis menggunakan umi sebagai tokoh aku yang sekaligus menjelaskan seluk-beluk pertengkaran dan perselingkuhan si umi. Hal semacam ini tak lain adalah sistem penokohan aku-banyak yang berhasil melakukan pengungkapan. Dalam skala yang lebih besar, sistem penokohan aku-banyak ini telah secara halus dan wajar melakukan pengungkapan bahwa mahasiswa yang mati bunuh diri di depan rektoran UGM bukanlah si kakak. Ini hebat dan menjadikan cerita begitu utuh.

Sebetulnya sistem penokohan aku-banyak ini sudah digunakan lebih dulu oleh Radhar Panca Dahana dalam cerepennya Sepi pun Menari di Tepi Hari (2003). Lalu kemudian secara lebih masif digunakan oleh Leila S. Chudori dalam Pulang (2012). Kelemahan Leila dalam novelnya ini menurut pengamat ialah sistem penokohannya yang sering tak jelas siapa yang menjadi ‘aku’ pada bagian tertentu. Kelemahan ini pun terjadi pada Alenia. Penulisnya seringkali terlalu lama terlarut dalam perkataan-perkataan si aku tapi tak terjelaskan sejak awal bagian siapa yang sedang menjadi ‘aku’.

Alenia hingga akhir cerita tak terjelaskan artinya. Namun, hal yang paling mudah untuk disimpulkan adalah bahwa Alenia adalah cerita yang diawali hujan dan diakhiri hujan.

Selasa, 23 Desember 2014

Kaum Ibu dalam Penggalan Waktu

Oleh Eva Hudaeva

           “Kenapa ya? Bingung,”  jawab Bernike Hendrastu, mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM angkatan 2012 ketika ditanya sejarah Hari Ibu. “Banyak yang bilang aja,  tambahnya. Demikian pula dengan Marta Miracle, seorang mahasiswa Sekolah Vokasi Kebidanan UGM angkatan 2012. Namun, setiap Hari Ibu tiba ia selalu merayakan Hari Ibu dengan memberi kado pada ibunya. “Ngasih bunga sama coklat buat ibuku,” tutur Marta.
            Sejarah Hari Ibu terbentang semenjak Kongres Perempuan pertama. Kongres berlangsung tanggal 22-25 Desember 1928 di Mataram (Yogyakarta). Di tahun 1938 dijadikan sebagai Hari Ibu Nasional, dan tahun 1950 pemerintah menetapkannya sebagai Hari Besar Nasional.
            Ir. Soekarno dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi mengungkapkan kegembiraan adanya kongres wanita tahun 1928. Bagi Soekarno,  keselamatan nasional adalah berkat sokongan kaum ibu juga. “Indonesia sudah lama kehilangan ibu, kongres kaum ibu akan mempertemukan anak piatu dengan ibu kandungnya,” tulis Soekarno.
            Penetapan Hari Ibu Nasional baru dibahas pada Kongres Perempuan bulan Juli1938 di Bandung. Nyi Soeratmi Iman Soediyat, seorang peserta kongres menerangkan ada tiga kriteria untuk penetapan, yaitu hari yang berarti, hari yang bersejarah, dan hari yang dapat diterima semua aliran.
            Ada usulan untuk menjadikan Hari Kartini sebagai Hari Ibu, tapi ditolak peserta kongres karena sudah ada hari perayaan untuk Hari Kartini. Hari lahirnya Nabi Muhammad juga diajukan. Usulan itu ditolak pula karena terkesan keagamaan. “Akhirnya diputuskan hari pertama Kongres Perempuan pertama sebagai Hari Ibu Nasional,” ujar Nyi Iman.
            Semangat nasionalisme Kongres Pemuda pertama menular pada gerakan perempuan. Sekalipun demikian, menurut Mutiah Amini, S.S., M.Hum., dosen Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya UGM, bukan berarti perempuan melanjutkan kegiatan yang dilakukan lelaki. “Kongres Perempuan pertama adalah ekspresi perempuan untuk menguatkan posisinya,” jelasnya.
             Pemrakarsa Kongres Perempuan adalah perempuan peserta Kongres Pemuda 1928. Mereka adalah perempuan muda yang berprofesi sebagai guru di Yogyakarta. Soejatien, pelopornya, adalah anggota Jong  Java sejak masih berstatus pelajar. Lalu tahun 1926, bersama beberapa guru lain mendirikan Poetri Indonesia cabang Yogyakarta. Anggota organisasi ini juga menetapkan Soejatien sebagai ketua.
            Menurut Nyi Iman Soediyat, alasan awal diadakan kongres perempuan adalah belum menyatunya organisasi perempuan dalam satu wadah. Alasan lainnya, pada waktu itu datang undangan dari Kongres Perempuan Pasifik untuk menghadiri kongres perempuan Pasifik. Surat undangan itu sampai di tangan Ki Hadjar Dewantara. Karena sulit menetukan siapa dan atas nama organisasi apa perwakilan dari Indonesia datang, Ki Hadjar Dewantara mengusulkan agar semua organisasi perempuan di Indonesia berkumpul.
Maka, Soejatin, Nyi Hadjar Dewantara, dan R. A. Soekonto berinisiasi untuk mengadakan Kongres Perempuan. Organisasi-organisasi perempuan masih bersifat kedaerahan atau di bawah naungan organisasi yang didominasi laki-laki, seperti  Wanito Oetomo sebagai bagian dari Boedi Oetomo, dan Aisjijah sebagai sayap perempuan dari Moehammadijah.
            Ndalem Joyodipoero, saudara R. A. Soekonto, seorang pegawai Pakualaman, menjadikan pendopo rumahnya sebagai tempat kongres. “Tempat yang dipakai kongres namanya Djojodipoeran,” kata Nyi Iman. Sekarang, rumah bersejarah itu menjadi Balai Kajian Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional Yogyakarta.
            Susan Blackburn dalam Kongres Perempuan Pertama, Tinjauan Ulang (2007)  mencatat ada 22 organisasi yang mengirimkan perwakilannya ke Kongres Perempuan pertama. Tujuh di antarnya sebagai penyelenggara. Kongres itu diketuai oleh R. A. Soekonto.
            Untuk pertama kalinya perempuan Indonesia berkumpul mengatasnamakan bangsa Indonesia. Semangat nasionalisme ini tercermin dari penggunaan bahasa Indonesia oleh 14 orator. Tapi, hanya Nyi Hadjar Dewantara yang berpidato dalam bahasa Jawa.
            Kongres Perempuan pertama dihadiri oleh perempuan pribumi dari berbagai golongan. Sayangnya, tidak semua perempuan di seluruh Indonesia terwakili. Kongres masih Jawa sentris. “Hal ini disebabkan kurang baiknya sistem komunikasi pada waktu itu,” terang Mutiah.
            Pemerintah Hindia Belanda, menurut Susan Blackburn, tidak banyak memberikan reaksi. “Kongres perempuan hanya dianggap gerakan apolitik semata,” tulis Susan. Mutiah berargumen lain. “Intelejen (pemerintah Hindia Belanda) ditelusupkan dalam kongres, jadi tidak mungkin kongres hanya gerakan sosial.”
            Menurut Nyi Iman Soediyat, ditempatkannya perempuan sebagai makhluk nomor dua menjadi hal yang banyak dibahas dalam kongres. “Dapur, sumur, dan kasur dianggap sebagai tempat perempuan. Padahal banyak perempuan yang pemikirannya tak kalah oleh laki-laki,” terang Nyi Iman.
            Kongres Perempuan pertama menurut Mutiah menghasilkan beberapa hal. Di antaranya, terbentuk biro penyuluh dan pengaduan masalah perempuan. Selain itu, dibentuk Perikatan Perempuan Indonesia (PPI). Di tahun 1929 PPI berganti nama menjadi PPII kependekan dari Perikatan Perempuan Istri Indonesia. Pada Mei tahun yang sama, PPII menerbitkan majalah Isteri dan berpindah kantor ke Batavia (Jakarta).
            PPII sebagai federasi perempuan Indonesia pada perkembangannya berganti nama menjadi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Di Yogyakarta, ada perwakilan Yayasan Hari Ibu Kowani yang berkantor di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama. Terdapat pula Museum Hari Ibu dalam gedung itu. Namun, sejak tahun 2011 museum ditutup. Dwi Wahyu, pengurus Museum Hari Ibu menjelaskan penutupan museum karena tidak ada pegawai yang dapat fokus mengurus museum. “Pegawai yang dulu pensiun, sementara saya harus menjalankan tugas sebagai marketing Wisma Arimbi juga,” tutur Dwi.
            Nyi Iman Soediyat yang kini menjadi Dewan Pini Sepuh Majelis Luhur Taman Siswa, menganggap Kongres Perempuan pertama merupakan dasar sejarah Hari Ibu. “Di Belanda ada Moeder Dag (Hari Ibu) pada pekan kedua bulan Mei karena saat itu bunga bermekaran. Tapi di Indonesia, Hari Ibu dirayakan atas dasar sejarah,” kata Nyi Iman. Cara merayakan Hari Ibu pun berbeda. “Di luar negeri pada Hari Ibu wanita dimanjakan, tapi di Indonesia wanita diingatkan akan kewajibannya,” tambahnya.
              Maka sudah semestinya sejarah perjuangan di balik Hari Ibu nasional diperkenalkan. Museum Hari Ibu ditutup bukan berarti sosialisasi sejarah Hari Ibu berhenti pula. Bernike dan Marta tidak akan mengerti bagaimana sebaiknya merayakan Hari Ibu, jika sejarah adanya Hari Ibu pun mereka tidak kenal.

Minggu, 19 Oktober 2014

Sekelumit Cerita dari Atambua (Bagian I)


oleh Eva Hudaeva

Cerita-cerita Gerson Poyk dalam Di Bawah Matahari Bali (1982) telah menggugah minat saya untuk menulis kembali. Terutama menulis tentang Indonesia bagian timur yang juga kampung halaman Gerson. Dalam kumpulan cerpennya itu Gerson mengungkapkan hasratnya untuk kembali pada kehidupan bercocok tanam dan melaut yang damai. Entah bagaimana semua cerita dalam bukunya itu Gerson menceritakan hal yang sama: kemuakan hidup di kota besar dan tentu saja mimpi untuk hidup dari uluran tangan alam Indonesia yang kaya raya.

Biarpun cerita utamanya adalah tentang pulau pariwisata tersohor, Bali, namun cerita yang berjudul Lelaki dan Komodo yang justru lebih menarik perhatian saya. Dalam cerpennya itu, Gerson dengan telaten menceritakan tempat-tempat di Labuan Bajo yang indah dan subur. Ia menceritakan setiap tempat seperti ia menceritakan tentang tubuhnya sendiri. Gerson dalam surat Amir kepada kekasihnya di ibu kota memprediksi, sebentar lagi, jika lapangan terbang sudah selesai dibuat oleh pemerintah, maka daerah ini (Labuan Bajo) akan menjadi daerah internasional, sebuah daerah yang dikunjungi semua orang dari seluruh penjuru dunia.

Prediksi sastrawan yang menulis cerpen Mutiara di Tengah Sawah itu mungkin ada benarnya. Dengan gamblang saat ini, ketika hobi travelling menjadi tren, Labuan Bajo menjadi destinasi primadona untuk berwisata. Saya bisa memakluminya, Indonesia bagian timur memang masih menunjukkan wajah alam yang sebenarnya karena belum dipoles pembangunan. Lantas orang dari kota besar beramai-ramai mengunjungi Indonesia timur untuk sekedar melihat matahari terbit dan tenggelam. Mungkin teman saya yang kritis akan mengatakan itu adalah fenomena paradoks globalisasi. Cerita tentang Indonesia bagian timur yang saya maksud di awal bukan untuk mengkritisi fenomena pariwisata itu, saya akan bercerita saja.

“Kakak atlet kempo e?” seseorang di belakang saya tiba-tiba menegur. Dalam rasa kaget saya masih sempat berpikir, entah bagaimana orang kurus kerempeng seperti saya ini dikira atlet kempo. Ketika saya menoleh, saya mengetahui ia adalah seorang lelaki muda petugas Bandara El Tari, Kupang. Tentu saya segera meluruskan, “Oh bukan, saya ke sini hendak KKN” “Oh tadi beta lihat yang bawa tas merah dengan tulisan Sorinji Kempo,” saya bilang itu teman saya. Obrolan kami berlanjut tentang di mana saya kuliah, saya KKN di mana, dan mengapa saya jauh-jauh ke Timor untuk KKN.

Saya menginjakkan kaki di Indonesia bagian timur karena KKN PPM UGM yang membawa saya. Tidak di Labuan Bajo seperti diceritakan Gerson Poyk tapi di Pulau Timor, tepatnya di Kabupaten Belu, Kecamatan Atambua Selatan, tempat ini pun termasuk perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste.  Tidak ada alasan tegas mengapa saya memilih untuk KKN di tempat itu. Hal yang pasti saya hanya ingin tahu bagaimana kehidupan di luar Pulau Jawa—yang  selama ini menjadi pusat pembangunan Indonesia.

Tempat bernama Atambua sempat mencuat ketika film bertajuk Atambua 39 Derajat Celcius besutan Riri Riza diuncurkan pada 2012 silam. Film ini tidak menyita perhatian, karena memang film ini bukan tentang motivasi atau kisah cinta mengharukan. Film tersebut mengisahkan Ronaldo Bautista dan anaknya, Joao, mereka eksodus ketika kerusuhan yang merupakan akibat dari referendum Timor Timur pada 1999 pecah. Mereka memilih mengungsi ke Atambua. Joao selalu mendengarkan rekaman suara ibunya yang memintanya untuk pulang ke Timor Leste, sementara Ronaldo bersikukuh bahwa tanah airnya adalah Indonesia, bukan Timor Leste. Namun, pada akhirnya Ronaldo menyadari bahwa ia memang orang Timor Leste, dan hal itu tak dapat diubah oleh apapun.

Sejarah lepasnya Timor Timur dari NKRI memang tak dapat disangkal. Joseph Nevins, seorang berkebangsaan asing yang sudi menelusuri sebab-musabab terjadinya referendum Timor Timur dan pertumpahan darah yang mengikutinya. Buku berjudul Pembantaian Timor Timur (2008) menjadi wujud nyata hasil penelitian bertahun-tahunnya. Dalam bukunya itu Nevins menceritakan betapa kejam militer Indonesia memperlakukan warga sipil Timor Timur. Ia sampai heran bagaimana bisa negara yang sempat dijajah ratusan tahun seperti Indonesia dapat bertindak sekeji itu. Kemudian Nevins menyimpulkan bahwa apa yang terjadi di Timor Timur pada 1999 tak lepas dari andil masyarakat internasional. Keterlibatan pihak luar negeri ini sulit diurai menurut Nevins.

Salah satu pemandangan di Atambua
Sekalipun membuat penasaran, tentu saya tidak akan mendedah isi buku Joseph Nevins di sini. Tulisan ini bukan resensi buku tentang pengungkapan sejarah. Akan tetapi, apa yang dikatakan Nevins saya rasakan betul ketika saya tinggal di tempat yang paling banyak menerima pengungsi kerusuhan Timor Timur. Di Asuulun, tempat saya tinggal selama di Atambua, bahkan lebih banyak pengungsi Timor Timur daripada penduduk asli. Sayangnya, keadaan demikian malah bersifat patologis. Stigma negatif entah bagaimana menempel pada pengungsi Timor Timur.  Penduduk asli Atambua menganggap para eksodus Timor Timur sebagai orang yang tidak tahu diri. Maka dari itu sering pula terjadi perkelahian antara penduduk asli dan pengungsi Timtim yang tak jarang menghilangkan nyawa.

Memang kenapa pengungsi Timtim dianggap tidak tahu diri? Sulit diterka alasannya, namun jika diperhatikan, kebiasaan penduduk di sana yang suka mabuk-mabukan dan judi berpengaruh besar terhadap kerukunan antarwarga. Bagaimana tidak, anak-anak muda yang tidak lagi mampu melanjutkan sekolah dan tidak juga mempunyai pekerjaan akan menghabiskan waktunya untuk mabuk-mabukan. Jika sudah mabuk, berbagai perbuatan kriminal pun dilakukan, tak terkecuali berkelahi. Judi pun sudah seperti tradisi, dengan mudah di sepanjang jalan menuju Asuulun kita melihat mamak-mamak (sebutan untuk ibu-ibu) yang memangku anaknya bermain judi, tak ketinggalan bapak dan nenek-nenek, mereka semua berjudi bingo. Ternyata di pasar pun demikian, di los daging yang tak terpakai para lelaki akan bersila sambil menenteng kartu. Saya agak kaget dengan perjudian yang begitu terang-terangan itu.

Jika dikatakan para pengungsi Timtim tidak tahu diri, ah sulit juga dipastikan. Yang saya amati, mereka hidup terpisah dari lingkungan masyarakat asli. Kehidupan mereka pun sederhana saja. Walau pun memang ada yang mempunyai ethos kerja lebih tinggi dari penduduk asli dan mereka hidup lebih layak. Banyak di antara mereka yang masih merindukan kampung halamannya, Timor Leste, namun apa mau dikata, di Timor Leste pun tak jauh beda susahnya daripada di Indonesia. Katakanlah Pak Kalisto, seorang guru sekolah dasar Katolik. Sebelum refrendum ia seorang PNS di Timor Timur, namun ketika kekacauan pascareferendum terjadi, ia memilih untuk pindah ke Indonesia meninggalkan sebagian besar keluarganya. Di Indonesia ia kembali memulai usahanya untuk menjadi PNS. Ketika saya tanya lebih enak mana di Atambua atau Timor Leste, ia bilang sama saja.

Namun rupanya bagi para pencari kesempatan, keadaan Timor Leste sebagai negara yang masih tertatih-tatih merupakan tambang emas. Para penyelundup bensin dan cendana mendapatkan keuntungan berlipat ketika menjualnya ke Timor Leste dan tanpa cukai. Di Motaa’in, tempat pos perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste berada, para penyelundup dapat dengan leluasa menaikkan bensin dan cendana ke kapal barang. Perbuatan itu begitu telanjang dan tanpa tindakan tegas.
Tugu perbatasan Indonesia-Timor Leste
Selain tentang perjudian dan penyelundupan, perbincangan yang sering saya dengar di sana adalah tentang perbandingan keadaan atambua dengan Jawa. Rata-rata orang atambua mengakui kehebatan pembangunan di Jawa. Bahkan, anak-anak kecil di sana menggeneralisir kami dengan sebutan “jawa”. Mamak Hendik contohnya, katanya ia iri melihat orang Jawa yang begitu rajin dan dapat menggarap lahan yang begitu subur. Guru-guru di setiap sekolah dasar pun demikian, mereka meminta kemakluman kami karena anak-anak didiknya tidak sepintar anak-anak di Jawa.

Saya heran betul mengapa cara pikir lebih rendah daripada Jawa begitu menginstitusi? Apakah karena memang mereka tak merasakan pembangunan berarti selama ini? Tapi bukankah alam Atambua indah? Budaya mereka unik? Orang-oranya pun tak kalah cerdasnya? Masihkah relevan demarkasi antara Indonesia bagian barat dan timur? Pertanyaan-pertanyaan itu saya akan jawab pada catatan perjalanan saya bagian berikutnya. Bagian pertama ini hanya gambaran besar bagaiman keadaan Atambua. Semoga saja tulisan berikutnya cukup dinanti.

Sabtu, 14 Juni 2014

Corat-Coret setelah Debat Pertama

Oleh Eva Hudaeva


 Jika Jürgen Habermas menyaratkan adanya keiklasan dalam praxis manusia yang tak lain adalah komunikasi. Komunikasi yang ditujukan untuk mencapai masyarakat emansipatoris. Maka, ketulusan itulah menurut saya syarat yang paling sulit dipenuhi.
            Debat Capres-Cawapres menurut saya adalah cara yang cukup solutif untuk mengadakan komunikasi guna memecahkan segudang problem bangsa ini. Selain berkomunikasi, debat Capres-Cawapres menjadi alternatif membina rasionalitas masyarakat pemilih di tengah demokrasi Indonesia yang tentu saja tidak seperti negara polis. Demokrasi modern menuntut perwakilan dan sistem pemilihan wakil yang lebih efisien yang sekatang kita sebut voting.
            Tak terbayangkan, bila hanya ada voting tanpa ada pergulatan pendapat sebelumnya, tentu sulit dikatakan Indonesia menganut demokrasi. Pergulatan pendapat yang terjadi di debat Capres-Cawapres tentu memberikan masyarakat pertimbangan akan berbuat apa di bilik suara nanti. Namun, bukan sekedar visi misi yang saya cari dari pendapat satu pasangan dan pasangan yang lain di acara debat itu, tapi ya itu tadi: ketulusan.
            Sebelum menyimak debat Capres-Cawapres yang kedua, saya ingin memaparkan corat-coret saya ketika debat Capres-Cawapres berlangsung. Saya tak bermaksud untuk memberi masukan preferensi pasangan tertentu. Saya hanya mencoba menguji asumsi dan alur logika pendapat yang dikemukakan Capres –Cawapres dalam debat pertama itu. Mungkin analisis saya tak bernas, namun setidaknya pertanyaan: apakah saya menemukan ketulusan itu?, dapat terjawab.

Dua Term Prahara
 Tema debat yang menyoal demokrasi di Indonesia membuat pasangan Capres-Cawapres nomor urut 1, Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa (Prahara) bersikukuh menggaungkan dua term, demokrasi adalah alat dan kebocoran sumber daya alam Indonesia. Prabowo dalam jawaban awalnya menyatakan bahwa demokrasi adalah hal yang harus perbaiki, karena demokrasi adalah cita-cita terbesar ke-3 negara. Demokrasi adalah alat untuk dan cita-cita yang kuat. Pemerintahan yang bersih adalah tujuan. Kepastian hukum memberi jaminan kepada warganya untuk melestarikan demokrasi yang membawa kesejahteraan.
            Lalu calon wakilnya, Hatta Rajasa meneruskan dengan suara sengaunya, bahwa demokrasi bukan hanya alat tapi demokrasi juga sistem nilai kesejahteraan. Kepastian hukum menjamin setiap warga negara setara di hadapan hukum. Kepastian hukum menjamin warga dapat menyalurkan hak politik tanpa diskriminasi, termasuk hak politik. Dan, lembaga demokrasi harus berjalan sebaik sebuah demokrasi yang produktif.
            Lalu pertanyaan saya: Apa hubungan antara demokrasi dan kesejahteraan? Demokrasi memang bukan tujuan pada dirinya sendiri, ada nilai-nilai yang lebih agung yang hendak dicapai demokrasi. Lalu apakah satu di antara nilai itu adalah kesejahteraan? Barangkali betul, namun pasangan ini luput dengan nilai lain, yaitu kebebasan manusia. Kebebasan dalam hal bergerak maupun berpikir kritis. Jika memang pasangan ini berpikir kepastian hukum dapat menjamin hak warga negara untuk mendapatkan hak-haknya, apakah kebebasan ini ada di dalam hak yang mereka maksud? Jika yang mereka maksud hanya ksejahteraan, itu hanya persoalan perut. Siapa pula yang akan berpikir kritis ketika perutnya sudah penuh?
            Saya jadi teringat perkataan Ayu Utami dalam Maya (2013). Ayu menceritakan kepada pembaca bahwa zaman Orde Baru menjejalkan beras dan bahan pangan lain sebanyak-banyaknya ke mulut masyarakat agar otak masyarakat tak akan berpikir tentang revolusi. Memang tak ada salahnya bicara tentang kesejahteraan masyarakat di negara berkemebang seprti Indonesia ini, namun jika sudah dikontekskan dengan demokrasi rasa-rasanya akan lain tendensinya. Demokrasi memang alat, saya pernah baca teori tentang itu, demokrasi memang ingin mencapai tujuan teretentu, tapi bukankah akan lebih baik jika teori ini dipahami secara kseluruhan?
             Perihal kebocoran sumber daya alam Indonesia, term ini banyak menuai reaksi. Pertama, guyonan, ada yang bilang jika Prabowo jadi presiden maka tukang tambal dan tukang cat akan laku. Kedua, ketakutan yang menghinggapi pendukung rival Prabowo, Joko Widodo (Jokowi). Pasalnya, pernah suatu akun populer tapi misterius berlabel @TrioMacan2000_ merilis skema rumit yang menunjukkan bahwa Jokowi disokong oleh pihak asing dari Amerika Serikat dan Republik Rakyat Cina. James Riady disebut-sebut sebagai cukong yang mendanai Jokowi agar bisa menjadikan presiden boneka. Berita itu makin santer, dan berulang kali dituliskan di laman jurnalisme warga besar Kompasiana. Jika demikan kabarnya, bukan tidak mungkin para pendukung Jokowi yang ketakutan Indonesia makin dijadikan lahan ekploitasi asing akan beralih mendukung Prabowo.
            Reaksi ketiga terhadap term “kebocoran sumber daya alam Indonesia” itu datang dari John Roosa, seorang pengamat politik Orba, dalam tulisannya berjudul Dua Tubuh Soekarno.Tulisan Roosa ini dipublikasikan jauh sebelum debat Capres-Cawapres pertama diadakan, yaitu 26 Mei 2014 kemudian dimuat kembali oleh kanal gerakan kritis, Indoprogress.com pada 10 Juni 2014. Roosa menunjukkan bahwa orasi-orasi yang diumbar Prabowo adalah suatu usaha peniruan Prabowo terhadap orator ulung dan kharismatik negeri ini, Soekarno. Isi orasi Prabowo tak beda dengan apa yang dikatakannya dengan “kebocoran sumber daya alam Indonesia”. Bagi Roosa, retorika anti-imprealis dan tuduhan kepada perusahaan asing yang membuat kebijakan neoliberal, adalah hal yang sulit didengar dari seorang kapitalis makmur seperti Prabowo.
            Selain reaksi pertama yang berupa guyon itu, reaksi terhadap “kebocoran sumber daya” Prabowo tentu  mengerikan. Baik yang dituduhkan kepada Jokowi yang katanya disokong kekuatan asing agar dapat dikendalikan, maupun Prabowo yang hanya beretorika tentang anti-imperealis, keduanya sulit diterima. Sayangnya, kedua isu itu perlu penelusuran fakta mendalam dan tentu saja disertai  ketulusan untuk melakukan penelusuran itu hanya untuk masyarakat. Sampai saat ini belum ada yang melakukannya. Jikapun ada, fakta dibengkokkan atau kurang mumpuni.

Jendral yang Marah-Marah
Prabowo sempat naik pitam ketika Jusuf Kalla menyentilnya dengan pertanyaan bagaimana program Prabowo dalam rangka menyelesaikan kasus pelanggaran HAM. Dengan menghubung-hubungkannya dengan adagium yang dikatakan Prabowo bahwa tak ada pengikut yang jelek yang ada hanya pemimpin yang jelek, JK dengan nakal menanyakan hal yang sensitif bagi mantan Komandan Jenderal Kopassus itu. Prabowo tersinggung dan segera menuduh balik, bahwa JK memang sengaja menyeret dia pada obrolan tentang dirinya yang disebut-sebut sebagai otak di balik peristiwa pembunuhan dan penghilang paksa aktivis pada 1998.
            Bersungut-sungut Prabowo mengatakan bahwa ia adalah prajurit yang bertugas untuk melindungi segenap tumpah darah Indonesia. Kata Prabowo dirinya adalah abdi negara, maka dari itu ia berusaha untuk melindungi hak asasi masyarakat dari kelompok-kelompok radikal. Kelompok radikal itu bagi Prabowo adalah ancaman. Tak berkurang emosinya Prabowo berdalih ia menjalankan tugas itu sebaik mungkin, dan atasan yang menilai kinerjanya.”Jadi tanyakanlah pada atasan saya waktu it,” kata Prabowo.
            Kejadian ini mirip-mirip seperti yang dikatakan Wiji Thukul dalam puisinya Para Jendral Marah-Marah, dalam bait pertamanya:
            Pagi ini kemarahannya disiarkan
            oleh televisi. Tapi aku tidur. Istriku yang menonton.
            Istriku kaget. Sebab seorang letnan jendral menyeret-nyeret namaku.
            Dengan tergopoh-gopoh selimutku ditarik-tariknya, Dengan mata masih lengket aku        bertanya: mengapa? Hanya beberapa patah kata keluar dari mulutnya: “Namamu di      televisi...” Kalimat itu terus dia ulang seperti otomatis. ...

Lihatlah Pak Wiji Thukul, (mantan) jenderal itu masih suka marah-marah, dan kau masih saja mendengarkannya dengan tertidur. Tidur yang panjang. Entah di mana rimbamu.
            Selain kemarahan Prabowo yang tak terbendung, hal yang menarik dari perseteruan pendapat antara JK dan Prabowo adalah asumsi Parbowo tentang HAM. Dari pernyataan Prabowo bahwa ia prajurit yang melindungi HAM masyarakat dari kelompok-kelopok radikal yang mengancam. Berarti, yang punya HAM hanya masyarakat (yang tak jelas kategorinya itu), sedangkan kelompok-kelompok radikal (yang juga manusia) tak mempunyai HAM. Padahal sebelum marah-marah Prabowo sempat mencoba untuk mendefinisikan apa itu HAM. Katanya, HAM yang paling dasar adalah hak untuk hidup. Lalu, jika HAM masih diterangkan sebagai Hak Asasi Manusia, dan jika  sedikit banyak Prabowo terlibat dalam penghilangan paksa dan pembunuhan aktivis itu, maka Prabowo telah melanggar HAM atas nama HAM? Atau mungkin yang dimaksud Prabowo adalah Hak Asasi Masyarakat?
             Perdebatan antara JK dan Prabowo dalam hal HAM ini menjadi peristiwa paling menggemparkan setelah kedua pasangan itu turun panggung. Tim pemenangan Prabowo berkilah bahwa pertanyaan JK tentang HAM justru menjadi boomerang bagi kubu Jokowi-JK. Katanya, jika ditelusur, atasan Parbowo dulu tak lain adalah Wiranto yang sekarang bercokol di tenda koalisi Jokowi-JK. Ini pun menjadi sangat menarik, dalam surat pemberhentian Prabowo (yang beredar di media sosial) diterangkan dengan jelas mengapa ia diberhentikan, di antaranya melanggar wewenang komando, yaitu melaksanakan operasi yang melibatkan aktivis-aktivis yang seharusnya wewenang Pangab Wiranto. Begitu banyak pelanggaran tugas yang dilakukan Prabowo yang tercantum dalam surat yang seharusnya rahasia itu.
             Anehnya, bagaimana bisa seorang pelanggar tugas yang berlipat-lipat dan berulang seperti Prabowo diberhentikan secara hormat? Adakah yang salah dengan pertimbangan atasan-atasan Prabowo waktu itu? Rasa-rasanya masyarakat berhak mengetahui hal itu. Tak dapat dibenarkan apa yang dikatakan Prabowo baru-baru ini, bahwa soal ’98 tak usah dibicarakan lagi. Hey, perasaan ini belum selesai sudah disuruh move on?
            Soal HAM dan diskriminasi Jokowi beda asumsi dengan Prabowo. Soal keberagaman Jokowi tak mau membicarakannya lagi. “Keberagaman sudah final,” kata Jokowi. Pernyataan Jokowi mengindikasikan bahwa keberagaman memang kenyataan hidup manusia yang tak teringkari. Membicarakan tentang keberagaman hanya semakin mengukuhkan diskriminasi itu sendiri. Secara pribadi, saya memang agak terganggu dengan ide tentang multikulturalisme ini. Pertanyaan saya: Bukankah dengan terus-menerus membahas keberagaman berarti melanggengkan diskriminasi? Mungkinkah multikulturalisme mengandung paradoks? Lantas Jokowi menceritakan prestasinya dalam hal HAM dan diskriminasi, yaitu kasus Lurah Susan. Bagi Jokowi, semua orang berhak untuk menjadi pemimpin asal berkapabilitas, persoalan SARA tak relevan untuk jadi ukuran kapabilitas seorang untuk jadi pemimpin. Maka Jokowi tetap berani mengangkat Susan sebagai Lurah di sebuah daerah yang kata Jokowi agama masyarakat mayoritas berbeda dengan Susan.
            Penegasan bahwa keberagaman adalah hal yang mutlak juga dikemukakan Hatta Rajasa. Kalimat Hatta begini: keberagaman adalah anugrah Allah SWT. Pengungkapan “Allah SWT” yang tak lain adalah sebutan Tuhan bagi umat Islam telah merusak argumen Hatta. Bukankah anugrah itu diberikan kepada setiap manusia bukan sekedar umat Islam? Bukankah tak semua masyarakat Indonesia menganggap Allah SWT sebagai Tuhan-nya dan memberikan anugerah itu? Sekali lagi ini paradoks. Dapat kita kira-kira, dalam hal asumsi tentang HAM dan diskriminasi, Jokowi lebih terasa tulus ketimbang pasangan di seberangnya.


Kata Para Pekerja
Jokowi pasti sudah mempersiapkan dengan baik jawaban untuk pertanyaan apa itu demokrasi. Dengan tanggap ia mengatakan, demokrasi baginya adalah mendengar suara rakyat dan melaksanakannya. Ia anggap demokrasi adalah berdialog dan bermusyawarah. Lebih teknis lagi Jokowi menerangkan programnya untuk menciptakan pemerintahan yang bersih. Di antaranya ialah sistem rekrutmen yang mengutamakan calon yang baik dan seleksi yang ketat. Lalu menciptakan e-Goverment Sistem atau birokrasi berbasis digital.
            Jerja nyata yang direncanakan Jokowi adalah perihal pemekaran wilayah. Baginya, pemekaran wilayah dapat saja dilakukan dengan syarat itu memang untuk kepentingan masyarakat. Syarat lain juga adalah kesanggupan wilayah untuk memenuhi kebutuhannya dari PAD (Pendapatan Asli Daerah). Jika syarat itu tak terpenuhi, bagi Jokowi daerah itu layak untuk ditarik otonominya.
            Satu-satunya kerja nyata yang digadang-gadang Prabowo adalah agendanya untuk menaikkan gaji pegawai pemerintahan. Prabowo berasumsi bahwa korupsi adalah akibat dari kurang sejahteranya para birokrat. Dengan menaikkan gaji birokrat, maka otomatis korupsi berkurang. Argumen ini jelas mengundang pertanyaan: memang gaji puluhan juta disertai berbagai tunjangan dan bonus untuk para birokrat itu tak bisa membuat mereka hidup layak di zaman seperti ini? Bukankah faktor utama dari korupsi adalah kerakusan? Tak hanya pertanyaan itu, implikasi dari rencana Prabowo ini diungkapkan pendukung Jokowi, yaitu menaikkan pajak yang harus dibayar masyarakat.
            Kerja yang akan dilakukan Jokowi memang lebih terdengar realistis. Apalagi disandingkan dengan orasi Prabowo yang selalu bersikap anti-imperealis. Diragukan Prabowo memahami skema kongkalingkong asing untuk mengeruk kekayaan Indonesia. Ketahuilah skema itu berskala multinasional, dan yang pasti, rumit.
            Memang Jokowi terkenal sebagai pemimpin “jaga toko”, ia akan masuk ke gang dan got-got untuk memeriksa ketertiban dan kenyamanan warganya. Hal ini yang menjadi sasran utama para pendukung Prabowo. Sesaat setelah debat Capres-Cawapres pertama Tantowi Yahya berkomentar, “Kita butuh pemimpin yang mempunyai grand design, bukan hanya kerja, kerja, dan kerja.” Jika Tantowo agak cermat memerhatikan, Jokowi sudah mengatakan apa grand designnya, yaitu pembangunan jangka panjang yang dalam bahasa Jokowi, dimasukkan kedalamnya hal bersifat ideologis. Kecenderungan serangan dari pendukung Prabowo tentang kerja nyata ini selanjutnya ialah soal sikap Jokowi yang menurut mereka terkesan menyepelekan persoalan. Bagi Jokowi segala persoalan yang penting adalah dikerjakan, persoalannya adalah niat atau tidak niat, mau atau tidak mau.
            Kedua kubu bakal presiden ini tanpa meletakkan emosionalistas dan fanatismenya mencoba mencari celah kelemahan dari rival idolanya. Bila saja fanatisme dan emosionalitas itu dikesampingkan sejenak, para pendukung itu mungkin akan merasa aneh jika punya grand design tanpa kerja, dan punya kerja tanpa grand design. Bukankah itu bahasa lain dari visi dan misi yang selalu ditanyakan kepada setiap calon pemimpin sekalipun itu calon ketua kelas?


Dan Akhirnya Keraguan
Banyak orang bilang first impression besar pengaruhnya. Barangkali itu benar, tapi saya tak hanya ingin mengagungngkan impresi (kesan) yang sifatnya empiris atau pengalama inderawi sahaja, tapi saya ingin juga memahami (conceive) yang lebih bersangkutan dengan rasionalitas. Saya mencoba memahami ketulusan itu berada di hati pasangan yang mana. Sekalipun saya tak tahu pasti, tapi dari asumsi argumennya saya mencoba menerka. Akhirnya yang saya dapat hanya keraguan. Saya ragu dengan ketulusan Prabowo ketika ia mengaku hati nuraninya bersih. Saya ragu kepada pasangan Jokowi-JK ketika JK mengatakan bahwa mereka tulus. Saya ragu, apakah masih bisa disebut ketulusan dan kebersihan hati nurani jika dikatakan?
             Dan akhirnya mari kita lihat debat Capres-Cwapres senjutnya yang akan diadakan nanti malam. Kabarnya Prabowo bersama tim suksesnya sudah melaksanakan simulasi debat. Mungkin mereka menyadari argumen Prabowo selalu memutar dan kerap silap menyetujui argumen lawannya. Ah mari kita saksikan saja debat itu.

            Bagitu dulu saja. Tabik. 

Selasa, 01 April 2014

Aslinya Mana?

(Tulisan untuk memenuhi tugas pelatihan menulis yang diadakan BPMF Pijar, 1 April 2014)
Oleh Eva Hudaeva 

Di hari raya nyepi tahun ini kompleks pertokoan buku di Taman Pintar Yogyakarta tak ikut sepi. Tempat itu tetap ramai seolah tak mengenal libur. Di satu sudut di lantai dua tempat itu ada Iwan, penjaga Toko Buku 4 Saudara. Saya dan rekan saya, Maulana menghampirinya. Ia masih muda dan saat itu berambut basah seperti baru saja mandi.
            Iwan mendongak sejenak dari telefon genggam di tangannya dan “monggo mas, mbak,” katanya. Maulana langsung menebarkan pandang ke berbagai buku yang dipajang di toko Iwan, sedangkan saya tertegun melihat beberapa buku. Buku-buku itu gampang ditebak bukanlah buku asli. Semua judul buku Raditya Dika, Merry Ryana, Andrea Hirata, Tere Liye, dan yang yang hampir selalu ada adalah buku Pramoedya Ananta Toer. Satu buku saya angkat, “Berapa ini mas?” “Rumah Kaca itu dualima mbak.” “Aslinya berapa mas?,” Maulana menyela. “Kalau asli ya sembilan puluh ribuan mas.”
            Iwan mengaku bahwa ia mendapatkan buku-buku bajakan itu dari pemasok, namun ia tak menjelaskan siapa. Pembeli buku-buku itu pun dari beragam kalangan. Menurut keterangan Iwan, para pembeli yang tak bermaksud untuk benar-benar mengoleksi merasa lebih baik membeli buku bajakan yang murah-murah saja.
              Saya terkaget melihat satu buku yang saya idamkan namun tak pernah saya lihat sebelumnya: Menggelinding 1 karya Pramoedya Ananta Toer. Tentu Menggelinding 1 itu bajakan pula. Saya tak bermaksud membeli hingga, “Jilid duanya ada mas?” “Oh belum ada mbak,” tandas Iwan.
            Sebelum mengunjungi toko Iwan kami sebenarnya sudah lebih dulu menyambangi markas baru Indonesia Boekoe (Iboekoe). Setelah tersesat kami sampai juga di rumah bertingkat dua dengan halaman lapang di Sewon, Batul, selatan Yogya. Di beranda rumah berkapur abu-abu itu orang yang saya tuju, Faiz Fashaul, sedang memperbaiki palu yang terlepas dari pegangannya. Sambil menunggu Faiz selesai dengan palunya, kami melihat-lihat isi rumah yang masih berantakan dan berdebu itu. Di antara barang-barang yang tak teratur ada potret Mas Tirto Adhi Suryo teronggok belum terpasang.
            Tak lama kemudain Faiz mengajak kami menuju lantai dua, dan kami mengobrol di balkon yang menyajikan pemandangan sawah menguning. Faiz sudah tahu maksud kedatangan kami, maka tak ragu ia memulai: “Soal penyalinan buku, saya pribadi melilihatnya dari azas kemanfaatan.” Bagi Faiz, memfotokopi buku jika memang dimanfaatkan untuk kepentingan akademis, masih bisa ditolerir. Usaha memperbanyak buku untuk kepentingan akademik di Yogya memang banyak. Satu di antaranya  Corsa Photo Copy di Petung, Papringan. Jasa fotokopi ini menyediakan daftar buku yang mereka punyai masternya dan siap difotokopi.
            Namun, sebagai kerani Iboekoe, Faiz meneyebutkan dua hal yang harus diingat jika akan menyalin buku. Pertama, diperhatikan apakah buku masih banyak di pasaran atau atau tidak. Kedua, periksa usia buku dan keadaan fisik buku. Jika buku yang sudah sangat tua, ketika difotokopi akan rusak dan tak bisa lagi dijilid. Faiz tak menyangkal bahwa penjualan buku bajakan sudah menjadi barang lumrah. “Realitasnya banyak orang memfotokopi buku untuk tujuan komersial, dan itu memang patut disayangkan,” kata Faiz.
             Hal tersebut kami buktikan setelah beranjak dari kandang Ibokoe. Kami bertandang ke trotoar Jalan H. Kahar Muzakir, Terban, yang memang dikuasai pedagang buku dengan gaya kaki lima. Toko Buku Fajar, kami bertengger di situ. “Buku-buku Pramodya,” seorang lelaki setengah baya menawarkan sambil menunjuk tumpukan buku yang tinggi.
            Saya sampai menerka-nerka bahwa buku-buku Parmoedya Ananta Toer adalah buku yang paling banyak dibajak. Setelah lepas dari vandalisme Orde Baru rupanya Pram masuk ke era baru bernama pembajakan. Pram terhadap pembajakan sama berangnya dengan pembakaran bukunya oleh Orba. Pembajakan itulah awal kerenggangan antara ia dan karibnya, Jusuf Ishak. Pembajakan itu pula asal-muasal runtuhnya Hasta Mitra dan benih-benih lahirnya Lentera Dipantara.
            Di toko lelaki setengah baya yang kemudian saya ketahui namanya adalah Paridi itu, saya melihat hampir semua buku yang ia jual adalah buku bajakan. Terlihat buku-buku itu berkertas buram dan berkulit muka tak cerah, buku Menggelinding 1 juga nongkrong di situ. “Buku-buku Pramoedya memang banyak yang cari, itu buku memang sepanjang masa,” kata Paridi.
            Paridi menerangkan proses memperoleh buku itu, biasanya ia memberikan master buku asli kepada seseorang yang memang berprofesi memperbanyak buku secara tak resmi. “Seperti buku Menggelinding itu, saya pinjam dari mahasiswa UIN Yogya, setelah difotokopi saya kembalikan,” jelas Paridi. Kadang-kadang Paridi dikirimi pesan singkat oleh orang itu jika ada cetakan buku baru.
            Maulana tiba-tiba mengeluh buku Gadis Pantai karya Pramodya Ananta Toer miliknya yang dibeli beberapa waktu lalu di toko milik Paridi ternyata tak lengkap halamannya. Maulana mafhum karena memang buku itu pun bajakan. Di luar dugaan, Paridi ternyata memperbolehkan buku itu ditukarkan. “Tapi sudah lama,” Maulana berkomentar. “Tidak apa-apa,” bela Paridi.
              Maulana dan Paridi jadi mengobrol lebih santai yang diawali dengan pertanyaan klasik: aslinya mana? “Solo,” jawab Maulana. “Oh malah yang memasok buku-buku ini dari Solo lho mas, tapi lebih banyak dipasarkan di Yogya,” kata lelaki asal Purwerejo itu. Ingin saya menyela di tengah obrolan mereka dengan pertanyaan klasik pula: aslinya mana? Tapi saya sembari menunjuk buku dagangan Paridi.
            Soal pembajakan buku demikian itu, selain menyayangkan ternyata Faiz juga punya cara pandang lain. Menurutnya, monopoli perdaganga buku oleh penerbit-penerbit dan toko-toko buku besar adalah satu di antara penyebab maraknya pembajakan buku. Beberapa orang jadi memebajak buku hanya untuk bertahan hidup. “Lagi pula yang dibajak sudah kaya kok, ya gak apa-apa dibajak aja,” tutur Faiz.
            Selain monopoli perdagangan buku, faktor lain yang tak kalah besar pengaruhnya terhadap pembajakan buku adalah tidak adanya regulasi yang jelas tentang perbukuan. “Dari dulu undang-undang tentang perbukuan oleh Komisi X DPR RI digodok terus gak mateng-mateng,” Faiz menambahkan.
            Lagi pula, menurut Faiz, di negara berkembang begini untuk membeli buku asli terasa mahal sekali. “Pada akhirnya isi undang-undang hak cipta yang tercetak di setiap buku menjadi formalitas semata,” begitu kalimat Faiz yang mengakhiri obrolan kami yang sering diselingi gemerisik angin menabrak pohon bambu Cina.