oleh Eva Hudaeva
Cerita-cerita
Gerson Poyk dalam Di Bawah Matahari Bali (1982) telah menggugah minat saya untuk
menulis kembali. Terutama menulis tentang Indonesia bagian timur yang juga
kampung halaman Gerson. Dalam kumpulan cerpennya itu Gerson mengungkapkan
hasratnya untuk kembali pada kehidupan bercocok tanam dan melaut yang damai. Entah
bagaimana semua cerita dalam bukunya itu Gerson menceritakan hal yang sama:
kemuakan hidup di kota besar dan tentu saja mimpi untuk hidup dari uluran
tangan alam Indonesia yang kaya raya.
Biarpun
cerita utamanya adalah tentang pulau pariwisata tersohor, Bali, namun cerita
yang berjudul Lelaki dan Komodo yang
justru lebih menarik perhatian saya. Dalam cerpennya itu, Gerson dengan telaten
menceritakan tempat-tempat di Labuan Bajo yang indah dan subur. Ia menceritakan
setiap tempat seperti ia menceritakan tentang tubuhnya sendiri. Gerson dalam
surat Amir kepada kekasihnya di ibu kota memprediksi, sebentar lagi, jika
lapangan terbang sudah selesai dibuat oleh pemerintah, maka daerah ini (Labuan
Bajo) akan menjadi daerah internasional, sebuah daerah yang dikunjungi semua
orang dari seluruh penjuru dunia.
Prediksi
sastrawan yang menulis cerpen Mutiara di
Tengah Sawah itu mungkin ada benarnya. Dengan gamblang saat ini, ketika
hobi travelling menjadi tren, Labuan Bajo
menjadi destinasi primadona untuk berwisata. Saya bisa memakluminya, Indonesia
bagian timur memang masih menunjukkan wajah alam yang sebenarnya karena belum
dipoles pembangunan. Lantas orang dari kota besar beramai-ramai mengunjungi
Indonesia timur untuk sekedar melihat matahari terbit dan tenggelam. Mungkin teman
saya yang kritis akan mengatakan itu adalah fenomena paradoks globalisasi. Cerita
tentang Indonesia bagian timur yang saya maksud di awal bukan untuk mengkritisi
fenomena pariwisata itu, saya akan bercerita saja.
“Kakak
atlet kempo e?” seseorang di belakang saya tiba-tiba menegur. Dalam rasa kaget
saya masih sempat berpikir, entah bagaimana orang kurus kerempeng seperti saya
ini dikira atlet kempo. Ketika saya menoleh, saya mengetahui ia adalah seorang
lelaki muda petugas Bandara El Tari, Kupang. Tentu saya segera meluruskan, “Oh
bukan, saya ke sini hendak KKN” “Oh tadi beta lihat yang bawa tas merah dengan tulisan
Sorinji Kempo,” saya bilang itu teman saya. Obrolan kami berlanjut tentang di
mana saya kuliah, saya KKN di mana, dan mengapa saya jauh-jauh ke Timor untuk
KKN.
Saya
menginjakkan kaki di Indonesia bagian timur karena KKN PPM UGM yang membawa
saya. Tidak di Labuan Bajo seperti diceritakan Gerson Poyk tapi di Pulau Timor,
tepatnya di Kabupaten Belu, Kecamatan Atambua Selatan, tempat ini pun termasuk
perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste. Tidak ada alasan tegas mengapa saya memilih
untuk KKN di tempat itu. Hal yang pasti saya hanya ingin tahu bagaimana
kehidupan di luar Pulau Jawa—yang selama
ini menjadi pusat pembangunan Indonesia.
Tempat
bernama Atambua sempat mencuat ketika film bertajuk Atambua 39 Derajat Celcius besutan Riri Riza diuncurkan pada 2012
silam. Film ini tidak menyita perhatian, karena memang film ini bukan tentang
motivasi atau kisah cinta mengharukan. Film tersebut mengisahkan Ronaldo
Bautista dan anaknya, Joao, mereka eksodus ketika kerusuhan yang
merupakan akibat dari referendum Timor Timur pada 1999 pecah. Mereka memilih mengungsi
ke Atambua. Joao selalu mendengarkan rekaman suara ibunya yang memintanya untuk
pulang ke Timor Leste, sementara Ronaldo bersikukuh bahwa tanah airnya adalah
Indonesia, bukan Timor Leste. Namun, pada akhirnya Ronaldo menyadari bahwa ia
memang orang Timor Leste, dan hal itu tak dapat diubah oleh apapun.
Sejarah
lepasnya Timor Timur dari NKRI memang tak dapat disangkal. Joseph Nevins,
seorang berkebangsaan asing yang sudi menelusuri sebab-musabab terjadinya referendum
Timor Timur dan pertumpahan darah yang mengikutinya. Buku berjudul Pembantaian Timor Timur (2008) menjadi
wujud nyata hasil penelitian bertahun-tahunnya. Dalam bukunya itu Nevins
menceritakan betapa kejam militer Indonesia memperlakukan warga sipil Timor Timur.
Ia sampai heran bagaimana bisa negara yang sempat dijajah ratusan tahun seperti
Indonesia dapat bertindak sekeji itu. Kemudian Nevins menyimpulkan bahwa apa
yang terjadi di Timor Timur pada 1999 tak lepas dari andil masyarakat
internasional. Keterlibatan pihak luar negeri ini sulit diurai menurut Nevins.
![]() |
| Salah satu pemandangan di Atambua |
Sekalipun
membuat penasaran, tentu saya tidak akan mendedah isi buku Joseph Nevins di
sini. Tulisan ini bukan resensi buku tentang pengungkapan sejarah. Akan tetapi,
apa yang dikatakan Nevins saya rasakan betul ketika saya tinggal di tempat yang
paling banyak menerima pengungsi kerusuhan Timor Timur. Di Asuulun, tempat saya
tinggal selama di Atambua, bahkan lebih banyak pengungsi Timor Timur daripada
penduduk asli. Sayangnya, keadaan demikian malah bersifat patologis. Stigma
negatif entah bagaimana menempel pada pengungsi Timor Timur. Penduduk asli Atambua menganggap para eksodus
Timor Timur sebagai orang yang tidak tahu diri. Maka dari itu sering pula
terjadi perkelahian antara penduduk asli dan pengungsi Timtim yang tak jarang
menghilangkan nyawa.
Memang
kenapa pengungsi Timtim dianggap tidak tahu diri? Sulit diterka alasannya,
namun jika diperhatikan, kebiasaan penduduk di sana yang suka mabuk-mabukan dan
judi berpengaruh besar terhadap kerukunan antarwarga. Bagaimana tidak,
anak-anak muda yang tidak lagi mampu melanjutkan sekolah dan tidak juga
mempunyai pekerjaan akan menghabiskan waktunya untuk mabuk-mabukan. Jika sudah
mabuk, berbagai perbuatan kriminal pun dilakukan, tak terkecuali berkelahi. Judi
pun sudah seperti tradisi, dengan mudah di sepanjang jalan menuju Asuulun kita
melihat mamak-mamak (sebutan untuk ibu-ibu) yang memangku anaknya bermain judi,
tak ketinggalan bapak dan nenek-nenek, mereka semua berjudi bingo. Ternyata di pasar pun demikian,
di los daging yang tak terpakai para lelaki akan bersila sambil menenteng
kartu. Saya agak kaget dengan perjudian yang begitu terang-terangan itu.
Jika
dikatakan para pengungsi Timtim tidak tahu diri, ah sulit juga dipastikan. Yang
saya amati, mereka hidup terpisah dari lingkungan masyarakat asli. Kehidupan mereka
pun sederhana saja. Walau pun memang ada yang mempunyai ethos kerja lebih
tinggi dari penduduk asli dan mereka hidup lebih layak. Banyak di antara mereka
yang masih merindukan kampung halamannya, Timor Leste, namun apa mau dikata, di
Timor Leste pun tak jauh beda susahnya daripada di Indonesia. Katakanlah Pak Kalisto, seorang guru sekolah
dasar Katolik. Sebelum refrendum ia seorang PNS di Timor Timur, namun ketika
kekacauan pascareferendum terjadi, ia memilih untuk pindah ke Indonesia
meninggalkan sebagian besar keluarganya. Di Indonesia ia kembali memulai usahanya
untuk menjadi PNS. Ketika saya tanya lebih enak mana di Atambua atau Timor
Leste, ia bilang sama saja.
Namun
rupanya bagi para pencari kesempatan, keadaan Timor Leste sebagai negara yang
masih tertatih-tatih merupakan tambang emas. Para penyelundup bensin dan cendana
mendapatkan keuntungan berlipat ketika menjualnya ke Timor Leste dan tanpa
cukai. Di Motaa’in, tempat pos perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste berada,
para penyelundup dapat dengan leluasa menaikkan bensin dan cendana ke kapal
barang. Perbuatan itu begitu telanjang dan tanpa tindakan tegas.
![]() |
| Tugu perbatasan Indonesia-Timor Leste |
Selain
tentang perjudian dan penyelundupan, perbincangan yang sering saya dengar di
sana adalah tentang perbandingan keadaan atambua dengan Jawa. Rata-rata orang
atambua mengakui kehebatan pembangunan di Jawa. Bahkan, anak-anak kecil di sana
menggeneralisir kami dengan sebutan “jawa”. Mamak Hendik contohnya, katanya ia
iri melihat orang Jawa yang begitu rajin dan dapat menggarap lahan yang begitu
subur. Guru-guru di setiap sekolah dasar pun demikian, mereka meminta
kemakluman kami karena anak-anak didiknya tidak sepintar anak-anak di Jawa.
Saya
heran betul mengapa cara pikir lebih rendah daripada Jawa begitu menginstitusi?
Apakah karena memang mereka tak merasakan pembangunan berarti selama ini? Tapi
bukankah alam Atambua indah? Budaya mereka unik? Orang-oranya pun tak kalah
cerdasnya? Masihkah relevan demarkasi antara Indonesia bagian barat dan timur? Pertanyaan-pertanyaan itu saya akan jawab pada catatan perjalanan
saya bagian berikutnya. Bagian pertama ini hanya gambaran besar bagaiman
keadaan Atambua. Semoga saja tulisan berikutnya cukup dinanti.


Jelas, tegas, berisi dan pasti dinanti...
BalasHapus