Oleh Eva Hudaeva
“Kenapa ya? Bingung,” jawab Bernike Hendrastu, mahasiswa Fakultas
Kehutanan UGM angkatan 2012 ketika ditanya sejarah Hari Ibu. “Banyak yang
bilang aja,” tambahnya. Demikian pula dengan Marta
Miracle, seorang mahasiswa Sekolah Vokasi Kebidanan UGM angkatan 2012. Namun,
setiap Hari Ibu tiba ia selalu merayakan Hari Ibu dengan memberi kado pada
ibunya. “Ngasih bunga sama coklat buat ibuku,” tutur Marta.
Sejarah
Hari Ibu terbentang semenjak Kongres Perempuan pertama. Kongres berlangsung tanggal
22-25 Desember 1928 di Mataram (Yogyakarta). Di tahun 1938 dijadikan sebagai
Hari Ibu Nasional, dan tahun 1950 pemerintah menetapkannya sebagai Hari Besar
Nasional.
Ir.
Soekarno dalam buku Di Bawah Bendera
Revolusi mengungkapkan kegembiraan adanya kongres wanita tahun 1928. Bagi
Soekarno, keselamatan nasional adalah
berkat sokongan kaum ibu juga. “Indonesia sudah lama kehilangan ibu, kongres
kaum ibu akan mempertemukan anak piatu dengan ibu kandungnya,” tulis Soekarno.
Penetapan
Hari Ibu Nasional baru dibahas pada Kongres Perempuan bulan Juli1938 di
Bandung. Nyi Soeratmi Iman Soediyat, seorang peserta kongres menerangkan ada
tiga kriteria untuk penetapan, yaitu hari yang berarti, hari yang bersejarah, dan
hari yang dapat diterima semua aliran.
Ada
usulan untuk menjadikan Hari Kartini sebagai Hari Ibu, tapi ditolak peserta
kongres karena sudah ada hari perayaan untuk Hari Kartini. Hari lahirnya Nabi
Muhammad juga diajukan. Usulan itu ditolak pula karena terkesan keagamaan. “Akhirnya
diputuskan hari pertama Kongres Perempuan pertama sebagai Hari Ibu Nasional,”
ujar Nyi Iman.
Semangat
nasionalisme Kongres Pemuda pertama menular pada gerakan perempuan. Sekalipun
demikian, menurut Mutiah Amini, S.S., M.Hum.,
dosen Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya UGM, bukan berarti perempuan
melanjutkan kegiatan yang dilakukan lelaki. “Kongres Perempuan pertama adalah
ekspresi perempuan untuk menguatkan posisinya,” jelasnya.
Pemrakarsa Kongres Perempuan adalah perempuan peserta
Kongres Pemuda 1928. Mereka adalah perempuan muda yang berprofesi sebagai guru
di Yogyakarta. Soejatien, pelopornya, adalah anggota Jong Java sejak masih berstatus pelajar. Lalu
tahun 1926, bersama beberapa guru lain mendirikan Poetri Indonesia cabang
Yogyakarta. Anggota organisasi ini juga menetapkan Soejatien sebagai ketua.
Menurut
Nyi Iman Soediyat, alasan awal diadakan kongres perempuan adalah belum
menyatunya organisasi perempuan dalam satu wadah. Alasan lainnya, pada waktu
itu datang undangan dari Kongres Perempuan Pasifik untuk menghadiri kongres
perempuan Pasifik. Surat undangan itu sampai di tangan Ki Hadjar Dewantara. Karena
sulit menetukan siapa dan atas nama organisasi apa perwakilan dari Indonesia
datang, Ki Hadjar Dewantara mengusulkan agar semua organisasi perempuan di
Indonesia berkumpul.
Maka,
Soejatin, Nyi Hadjar Dewantara, dan R. A. Soekonto berinisiasi untuk mengadakan
Kongres Perempuan. Organisasi-organisasi perempuan masih bersifat kedaerahan
atau di bawah naungan organisasi yang didominasi laki-laki, seperti Wanito Oetomo sebagai bagian dari Boedi
Oetomo, dan Aisjijah sebagai sayap perempuan dari Moehammadijah.
Ndalem
Joyodipoero, saudara R. A. Soekonto, seorang pegawai Pakualaman, menjadikan
pendopo rumahnya sebagai tempat kongres. “Tempat yang dipakai kongres namanya
Djojodipoeran,” kata Nyi Iman. Sekarang, rumah bersejarah itu menjadi Balai
Kajian Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional Yogyakarta.
Susan
Blackburn dalam Kongres Perempuan
Pertama, Tinjauan Ulang (2007)
mencatat ada 22 organisasi yang mengirimkan perwakilannya ke Kongres
Perempuan pertama. Tujuh di antarnya sebagai penyelenggara. Kongres itu diketuai
oleh R. A. Soekonto.
Untuk
pertama kalinya perempuan Indonesia berkumpul mengatasnamakan bangsa Indonesia.
Semangat nasionalisme ini tercermin dari penggunaan bahasa Indonesia oleh 14
orator. Tapi, hanya Nyi Hadjar Dewantara yang berpidato dalam bahasa Jawa.
Kongres
Perempuan pertama dihadiri oleh perempuan pribumi dari berbagai golongan. Sayangnya,
tidak semua perempuan di seluruh Indonesia terwakili. Kongres masih Jawa
sentris. “Hal ini disebabkan kurang baiknya sistem komunikasi pada waktu itu,”
terang Mutiah.
Pemerintah
Hindia Belanda, menurut Susan Blackburn, tidak banyak memberikan reaksi.
“Kongres perempuan hanya dianggap gerakan apolitik semata,” tulis Susan. Mutiah
berargumen lain. “Intelejen (pemerintah Hindia Belanda) ditelusupkan dalam
kongres, jadi tidak mungkin kongres hanya gerakan sosial.”
Menurut
Nyi Iman Soediyat, ditempatkannya perempuan sebagai makhluk nomor dua menjadi
hal yang banyak dibahas dalam kongres. “Dapur, sumur, dan kasur dianggap
sebagai tempat perempuan. Padahal banyak perempuan yang pemikirannya tak kalah
oleh laki-laki,” terang Nyi Iman.
Kongres
Perempuan pertama menurut Mutiah menghasilkan beberapa hal. Di antaranya, terbentuk
biro penyuluh dan pengaduan masalah perempuan. Selain itu, dibentuk Perikatan
Perempuan Indonesia (PPI). Di tahun 1929 PPI berganti nama menjadi PPII
kependekan dari Perikatan Perempuan Istri Indonesia. Pada Mei tahun yang sama,
PPII menerbitkan majalah Isteri dan berpindah
kantor ke Batavia (Jakarta).
PPII
sebagai federasi perempuan Indonesia pada perkembangannya berganti nama menjadi
Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Di Yogyakarta, ada perwakilan Yayasan Hari
Ibu Kowani yang berkantor di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama. Terdapat pula
Museum Hari Ibu dalam gedung itu. Namun, sejak tahun 2011 museum ditutup. Dwi
Wahyu, pengurus Museum Hari Ibu menjelaskan penutupan museum karena tidak ada
pegawai yang dapat fokus mengurus museum. “Pegawai yang dulu pensiun, sementara
saya harus menjalankan tugas sebagai marketing
Wisma Arimbi juga,” tutur Dwi.
Nyi
Iman Soediyat yang kini menjadi Dewan Pini Sepuh Majelis Luhur Taman Siswa,
menganggap Kongres Perempuan pertama merupakan dasar sejarah Hari Ibu. “Di
Belanda ada Moeder Dag (Hari Ibu)
pada pekan kedua bulan Mei karena saat itu bunga bermekaran. Tapi di Indonesia,
Hari Ibu dirayakan atas dasar sejarah,” kata Nyi Iman. Cara merayakan Hari Ibu
pun berbeda. “Di luar negeri pada Hari Ibu wanita dimanjakan, tapi di Indonesia
wanita diingatkan akan kewajibannya,” tambahnya.
Maka sudah semestinya sejarah
perjuangan di balik Hari Ibu nasional diperkenalkan. Museum Hari Ibu ditutup
bukan berarti sosialisasi sejarah Hari Ibu berhenti pula. Bernike dan Marta
tidak akan mengerti bagaimana sebaiknya merayakan Hari Ibu, jika sejarah adanya
Hari Ibu pun mereka tidak kenal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar