Rabu, 01 Januari 2014

FSB Retorika di RT 0/ RW 0



            “Nasi panas, rendang bumbunya kental berminyak-minyak, telur balado, segelas teh hangat, dan jangan lupa pisang raja yang warnanya kuning keemas-emasan.” Begitu Kakek dan Si Pincang menghafalkan makanan yang mereka damba-dambakan. Bagaimana tidak mereka mendambakan makanan lezat itu, yang mereka punya hanya labu siam setengah busuk yang diolah dalam kaleng bekas kemasan biskuit. Tapi bagaimana lagi, Si Pincang dan Kakek hanya penghuni kolong jembatan di kota besar yang kejam. Rumah kardus kumuh tempat mereka bernaung, tak terbayangkan senangnya mereka bila dapat makan enak.
            Tak disangka-sangka Si Pincang dan Kakek dapat melahap makanan yang mereka hampir lupa bagaimana rasanya itu. Sayang sekali, nasi rames telur balado itu pertanda perginya beberapa anggota kolong jembatan yang selama ini menemani mereka. Bopeng dan Ina membawakan mereka nasi rames dan pisang raja sebagai tanda pamitan. Bopeng sudah menjadi kelasi dan akan berlayar esok hari, sedangkan Ina menyampaikan pesan Ani yang pergi karena dinikahi oleh pria langganannya. Ina pun bermaksud pergi untuk mendapat kejelasan hidup, ia menikah dengan tukang becak yang selama ini mengantarkan ia dan Ani pergi melacur. Si Pincang pun harus ikut hengkang dari kolong jembatan karena harus mengantar Ati, wanita malang yang dibawa Bopeng.
            Demikian gambaran kemiskinan yang coba ditunjukkan Iwan Simatupang dalam naskah teaternya yang berjudul RT 0/ RW 0. Dalam naskah tersebut Iwan Simatupang memperlihatkan hasilnya menelaah kehidupan gelandangan. Cara pandang kaum gelandangan terhadap kehidupan, termasuk stigma yang melekat pada gelandangan tak luput dari perhatian sastrawan yang menulis novel Ziarah itu.

            Naskah Iwan Simatupang tersebut depentaskan oleh Forum Seni Budaya (FSB) Retorika di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta pada 23/12 malam. Dalam pementasan  itu, Kakek diperankan oleh Ilham Azmil Putra dan Bintang Kichi Emzita sebagai Si Pincang, keduanya berakting ciamik. Ina diperankan Artha Anindita Kusuma Dewi, Ica Bukit sebagai Ani. Kemudian Pascal Caboet berperan sebagai Bopeng, dan Ati diperankan Annisa Bena.

            Pentas teater itu dibuka dengan hiburan musik akustik dari Sande Monink yang membawakan tiga buah lagu. Tak terlalu banyak penonton yang hadir, namun Ade Swendi, seorang penonton dari UPN berkomentar pementasan teater malam itu cukup berkesan. “Hanya publikasi pementasan itu kurang ramai,” keluh Ade.

            Arvian Redya Putra, sutradara pementasan itu, mengatakan alasan naskah itu dipilih karena komunikatif dan dengan jelas menggambarkan kondisi kota besar. Arvi pun tak menyangkal masih ada ketidaksempuranaan dalam eksekusi naskah tersebut. “Beberapa aktor masih gugup, ligting dan sound pun mengalami gangguan,” jelas Arvi. Shoimardiyah, ketua FSB Retorika yang bermarkas di Fakultas Filsafat UGM, juga mengakui masih ada kendala-kendala teknis yang menjadikan pementasan malam itu kurang memuaskan. Sekalipun demikian, Arvi dan Shoim merasa bangga dengan hasil kerja keras anggota FSB Retorika. [Eva|Pijar]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar