“Nasi panas, rendang bumbunya kental
berminyak-minyak, telur balado, segelas teh hangat, dan jangan lupa pisang raja
yang warnanya kuning keemas-emasan.” Begitu Kakek dan Si Pincang menghafalkan
makanan yang mereka damba-dambakan. Bagaimana tidak mereka mendambakan makanan
lezat itu, yang mereka punya hanya labu siam setengah busuk yang diolah dalam
kaleng bekas kemasan biskuit. Tapi bagaimana lagi, Si Pincang dan Kakek hanya
penghuni kolong jembatan di kota besar yang kejam. Rumah kardus kumuh tempat
mereka bernaung, tak terbayangkan senangnya mereka bila dapat makan enak.
Tak disangka-sangka Si Pincang dan
Kakek dapat melahap makanan yang mereka hampir lupa bagaimana rasanya itu.
Sayang sekali, nasi rames telur balado itu pertanda perginya beberapa anggota
kolong jembatan yang selama ini menemani mereka. Bopeng dan Ina membawakan
mereka nasi rames dan pisang raja sebagai tanda pamitan. Bopeng sudah menjadi
kelasi dan akan berlayar esok hari, sedangkan Ina menyampaikan pesan Ani yang
pergi karena dinikahi oleh pria langganannya. Ina pun bermaksud pergi untuk
mendapat kejelasan hidup, ia menikah dengan tukang becak yang selama ini mengantarkan
ia dan Ani pergi melacur. Si Pincang pun harus ikut hengkang dari kolong
jembatan karena harus mengantar Ati, wanita malang yang dibawa Bopeng.
Demikian gambaran kemiskinan yang coba ditunjukkan Iwan
Simatupang dalam naskah teaternya yang berjudul RT 0/ RW 0. Dalam naskah tersebut
Iwan Simatupang memperlihatkan hasilnya menelaah kehidupan gelandangan. Cara
pandang kaum gelandangan terhadap kehidupan, termasuk stigma yang melekat pada
gelandangan tak luput dari perhatian sastrawan yang menulis novel Ziarah itu.
Naskah Iwan Simatupang tersebut depentaskan oleh Forum
Seni Budaya (FSB) Retorika di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta pada
23/12 malam. Dalam pementasan itu, Kakek
diperankan oleh Ilham Azmil Putra dan Bintang Kichi Emzita sebagai Si Pincang, keduanya
berakting ciamik. Ina diperankan Artha Anindita Kusuma Dewi, Ica Bukit sebagai Ani.
Kemudian Pascal Caboet berperan sebagai Bopeng, dan Ati diperankan Annisa Bena.
Pentas teater itu dibuka dengan
hiburan musik akustik dari Sande Monink yang membawakan tiga buah lagu. Tak terlalu
banyak penonton yang hadir, namun Ade Swendi, seorang penonton dari UPN
berkomentar pementasan teater malam itu cukup berkesan. “Hanya publikasi
pementasan itu kurang ramai,” keluh Ade.
Arvian Redya Putra, sutradara
pementasan itu, mengatakan alasan naskah itu dipilih karena komunikatif dan
dengan jelas menggambarkan kondisi kota besar. Arvi pun tak menyangkal masih
ada ketidaksempuranaan dalam eksekusi naskah tersebut. “Beberapa aktor masih
gugup, ligting dan sound pun mengalami gangguan,” jelas
Arvi. Shoimardiyah, ketua FSB Retorika yang bermarkas di Fakultas Filsafat UGM,
juga mengakui masih ada kendala-kendala teknis yang menjadikan pementasan malam
itu kurang memuaskan. Sekalipun demikian, Arvi dan Shoim merasa bangga dengan
hasil kerja keras anggota FSB Retorika. [Eva|Pijar]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar