Oleh Eva Hudaeva
Depan
kantor tuan bupati
Tersungkur
seorang petani
Karena
tanah
Karena
tanah
Dalam
kantor barisan tani
Silapar
marah
Karena
darah
Karena
darah
Tanah
dan darah
Memutar
sedjarah
Dari
sini njala api
Dari
sini damai abadi... (Matinja
Seorang Petani, Agam Wispi: 1963)
Pertanian dan pangan menjadi tonggak analisis
Marxisme untuk membuktikan bahwa teori kelas yang diusung paham ini bukanlah
konsep yang ahistoris (Mandel, 2006). Pembuktian ini merujuk pada revolusi
neolitik yang menurut Marxian adalah masa ketika manusia sudah hidup tak
bergantung pada alam, tapi mampu mengolah alam. Revolusi neolitik inilah yang timbul
karena perkembangan teknik pertanian dan peternakan. Ternyata revolusi neolitik
tak lama membawa kesejahteraan bagi manusia. Tangan-tangan serakah dan bengis berusaha
menguasai hasil kerja keras petani yang melimpah. Kekuasaan itu dirancang
sedemikian rupa sehingga terlihat wajar dan dengan sendirinya terjadi
kapitalisasi yang menghasilkan kelas-kelas.
Sempalan
puisi Agam Wispi di muka mengisyaratkan kepada kita bahwa analisis Marxis
tentang pertanian yang dikapitalisasi tak terhindarkan pula dari negeri ini.
Agam Wispi menceritakan keharuannya ketika konflik agraria di Desa Alas Tlogo, Jawa
Timur (1960-1961). Saat tanah peninggalan pemerintah kolonial dirampas TNI AL dari
warga dengan dalih akan dijadikan pemukiman tentara dan kepentingan perang. Nyatanya
lahan yang direbut dengan menembak beberapa petani itu digarap perusahaan
bermodal besar (Majalah Pembaruan Tani, Juni 2007: 3).
Tragedi
Alas Tlogo bukan satu-satunya peristiwa agraria yang menyayat nurani. Sejak masa
pemerintah kolonial Belanda berkuasa, petani sudah terdesak. Betapa perjalanan
pangan juga merupakan perjalanan manusia. Seperti yang dikatakan Andreas
Maryoto (2009: 4) bahwa makanan bisa menjadi petunjuk kehadiran manusia dan
kebudayaannya. Pertanian dan pangan di tanah ini menyimpan sejarah manusia
Indonesia. Perjalanan manusia Indonesia dan pangan ini tercatat rapi dalam
karya sastra. Coba buka Anak Semua Bangsa
(Pramoedya Ananta Toer, 2006: 233-259) ketika Minke –sang tokoh utama— tak sengaja bertemu seorang petani bernama Truno yang
didesak untuk segera menyerahkan lahan pertaniannya kepada pemerintah kolonial.
Namun, Truno bersikeras menggarap sendiri lahan pertanian warisan orangtuanya.
Selain
itu, di rumah Truno Minke menemukan wujud kehidupan seorang petani. Tanah milik
Truno itulah satu-satunya aset untuk menggantungkan hidupnya sekeluarga. Dari tanah
yang tak seberapa luas di belakang rumahnya itu Truno berusaha menghasilkan
sendiri apa-apa yang keluarganya perlukan. Palawija, padi, hewan ternak, dan semua
kebutuhan kecuali pakaian dan garam. Maka dari itu Truno memperjuangkan
mati-matian tanah miliknya dari yang ia sebut sebagai anjing-anjing pabrik.
Setali
tiga uang, Eduard Douwes Dekker yang menyamar dengan nama Multatuli juga
berdongeng tentang ketidakadilan yang menimpa petani ketika kolonialisme
merajai Indonesia. Melalui Max Havelaar Multatuli mengisahkan
eksploitasi terhadap pribumi melalui sistem tanam paksa. Biarpun Multatuli
Belanda totok, namun penindasan terhadap manusia lain –pribumi sekalipun— tetap
menggugah rasa belas kasihnya.
Dua
karya sastra di atas berpesan kepada pembacanya untuk meihat petani bukan
sebagai pekerjaan yang memiskinkan. Petani tak semestinya termarginalkan oleh kekuasaan
yang kejam. Tak ada gunanya kita ribut-ribut perkara kemandirian pangan jika
kita tak sadar betul apa yang menjadikan negara ini tak –lagi—mandiri pangan. Tak
juga berguna cara-cara untuk mewujudkan kemandirian pangan tanpa melirik nasib
petani yang makin kehilangan tanah garapan lantas mereka berlarian ke
sudut-sudut kota besar. Padahal, pertanian adalah kemandirian itu sendiri,
padahal pertanian mengasuh rasa kemanusiaan dan menjadi saksi perjalanan
manusia. Jika tahu begini, sebagai negeri agraris apa lagi alasan Indonesia untuk
tidak mandiri pangan?
Mungkin
satu di antara alasannya ialah kolonialisme yang baru-baru ini malih rupa menjadi
neoliberalisme yang dengan berbagai intriknya mendesak pertanian. Khudori
(2004) memaparkan bagaimana neoliberalisme meremukkan sistem pertanian
Indonesia. Melalui strategi pasar ekspor-impor dan dilegitimasi oleh keberadaan
WTO (World Trade Organization),
neoliberalisme menjadi hama ganas bagi tanaman petani Indonesia. WTO yang
baru-baru ini membuat kesepakatan historis yang disebut Paket Bali. Ada yang
menarik dari Paket Bali ini, perdebatan sempat alot karena India tidak yakin
untuk menyetujui Paket Bali. India tak bersedia didikte oleh negara maju soal
pengaturan pangan. Sementara Indonesia akan dengan bangga memenuhi kebutuhan
pangan negerinya dari kebun-kebun petani negara maju.
Padahal
Indonesia yang subur ini punya sistem pertanian luar biasa yang sarat akan
kemanusiaan dan kemandirian. Misalnya saja Subak yang saat ini masih diterapkan
di Bali. Subak mengandung tiga inti kehidupan manusia yang disebut Tri Hita
Karana: hubungan manusia dengan alam, antarmanusia, dan dengan Tuhan. Dengan
teknik yang dipergunakan dan ritus-ritus yang dilakukan Subak sebisa mungkin
tidak melepaskan diri dari tiga kebaikan hidup manusia itu. Ternyata Subak
adalah warisan Kerajaan Majapahit, orang Jawa yang mengajarkan sistem bertani
yang disebut Subak itu pada orang Bali[1].
Namun kini Pulau Jawa sudah sangat sibuk dengan proyek-proyek kemajuan yang
benar menurut globalisasi.
Hal-hal
di atas memang tak menawarkan solusi, namun cukup menginsafkan kita bahwa hal
di atas itulah satu di antara dasar filosofis kenapa Indonesia harus mandiri
pangan. Para perancang regulasi pertanian seharusnya mempertimbangkan esensi pertanian
yang di dalamnya kemanusiaan dan kemandirian sudah ada. Jika mereka peduli itu,
rasa-rasanya tak akan lahan pertanian dengan cepat berubah wujud jadi
supermarket dan perumahan mewah, dan padi
bunting bertahan dalam angin.
Pustaka:
Ananta Toer, Pramoedya. 2011. Anak
Semua Bangsa. Jakarta: Lentera Dipantara
Khudori. 2004. Neoliberalisme Menumpas Petani.
Yogyakarta: Resist Book
Mandel,
Ernest. 2006. Tesis-Tesis Pokok Marxisme.
Yogyakarta: Resist Book
Maryoto,
Andreas. 2009. Jejak Pangan. Jakarta:
Penerbit Buku Kompas
Multatuli. 1973.
Max Havelaar. Bandung: Penerbit
Djambatan
Wispi, Agam dkk. 1963. Matinja Seorang Petani. (Tanpa kota): Bagian Penerbitan Lembaga
Kebudajaan Rakjat
Lain-lain:
Majalah Pembaruan Tani edisi Juni 2007
[1]
Seorang pemangku adat di Bali bicara begitu pada dosen saya ketika dosen saya
berkunjung ke Bali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar