Selasa, 21 Januari 2014

Padi Mengandung Kemanusiaan

Oleh Eva Hudaeva

Depan kantor tuan bupati
Tersungkur seorang petani
Karena tanah
Karena tanah

Dalam kantor barisan tani
Silapar marah
Karena darah
Karena darah

Tanah dan darah
Memutar sedjarah
Dari sini njala api
Dari sini damai abadi... (Matinja Seorang Petani, Agam Wispi: 1963)

Pertanian dan pangan menjadi tonggak analisis Marxisme untuk membuktikan bahwa teori kelas yang diusung paham ini bukanlah konsep yang ahistoris (Mandel, 2006). Pembuktian ini merujuk pada revolusi neolitik yang menurut Marxian adalah masa ketika manusia sudah hidup tak bergantung pada alam, tapi mampu mengolah alam. Revolusi neolitik inilah yang timbul karena perkembangan teknik pertanian dan peternakan. Ternyata revolusi neolitik tak lama membawa kesejahteraan bagi manusia. Tangan-tangan serakah dan bengis berusaha menguasai hasil kerja keras petani yang melimpah. Kekuasaan itu dirancang sedemikian rupa sehingga terlihat wajar dan dengan sendirinya terjadi kapitalisasi yang menghasilkan kelas-kelas.
            Sempalan puisi Agam Wispi di muka mengisyaratkan kepada kita bahwa analisis Marxis tentang pertanian yang dikapitalisasi tak terhindarkan pula dari negeri ini. Agam Wispi menceritakan keharuannya ketika konflik agraria di Desa Alas Tlogo, Jawa Timur (1960-1961). Saat tanah peninggalan pemerintah kolonial dirampas TNI AL dari warga dengan dalih akan dijadikan pemukiman tentara dan kepentingan perang. Nyatanya lahan yang direbut dengan menembak beberapa petani itu digarap perusahaan bermodal besar (Majalah Pembaruan Tani, Juni 2007: 3).
            Tragedi Alas Tlogo bukan satu-satunya peristiwa agraria yang menyayat nurani. Sejak masa pemerintah kolonial Belanda berkuasa, petani sudah terdesak. Betapa perjalanan pangan juga merupakan perjalanan manusia. Seperti yang dikatakan Andreas Maryoto (2009: 4) bahwa makanan bisa menjadi petunjuk kehadiran manusia dan kebudayaannya. Pertanian dan pangan di tanah ini menyimpan sejarah manusia Indonesia. Perjalanan manusia Indonesia dan pangan ini tercatat rapi dalam karya sastra. Coba buka Anak Semua Bangsa (Pramoedya Ananta Toer, 2006: 233-259) ketika Minke –sang tokoh utama— tak  sengaja bertemu seorang petani bernama Truno yang didesak untuk segera menyerahkan lahan pertaniannya kepada pemerintah kolonial. Namun, Truno bersikeras menggarap sendiri lahan pertanian warisan orangtuanya.
            Selain itu, di rumah Truno Minke menemukan wujud kehidupan seorang petani. Tanah milik Truno itulah satu-satunya aset untuk menggantungkan hidupnya sekeluarga. Dari tanah yang tak seberapa luas di belakang rumahnya itu Truno berusaha menghasilkan sendiri apa-apa yang keluarganya perlukan. Palawija, padi, hewan ternak, dan semua kebutuhan kecuali pakaian dan garam. Maka dari itu Truno memperjuangkan mati-matian tanah miliknya dari yang ia sebut sebagai anjing-anjing pabrik.
            Setali tiga uang, Eduard Douwes Dekker yang menyamar dengan nama Multatuli juga berdongeng tentang ketidakadilan yang menimpa petani ketika kolonialisme merajai Indonesia. Melalui Max Havelaar Multatuli mengisahkan eksploitasi terhadap pribumi melalui sistem tanam paksa. Biarpun Multatuli Belanda totok, namun penindasan terhadap manusia lain –pribumi sekalipun— tetap menggugah rasa belas kasihnya.
            Dua karya sastra di atas berpesan kepada pembacanya untuk meihat petani bukan sebagai pekerjaan yang memiskinkan. Petani tak semestinya termarginalkan oleh kekuasaan yang kejam. Tak ada gunanya kita ribut-ribut perkara kemandirian pangan jika kita tak sadar betul apa yang menjadikan negara ini tak –lagi—mandiri pangan. Tak juga berguna cara-cara untuk mewujudkan kemandirian pangan tanpa melirik nasib petani yang makin kehilangan tanah garapan lantas mereka berlarian ke sudut-sudut kota besar. Padahal, pertanian adalah kemandirian itu sendiri, padahal pertanian mengasuh rasa kemanusiaan dan menjadi saksi perjalanan manusia. Jika tahu begini, sebagai negeri agraris apa lagi alasan Indonesia untuk tidak mandiri pangan?
            Mungkin satu di antara alasannya ialah kolonialisme yang baru-baru ini malih rupa menjadi neoliberalisme yang dengan berbagai intriknya mendesak pertanian. Khudori (2004) memaparkan bagaimana neoliberalisme meremukkan sistem pertanian Indonesia. Melalui strategi pasar ekspor-impor dan dilegitimasi oleh keberadaan WTO (World Trade Organization), neoliberalisme menjadi hama ganas bagi tanaman petani Indonesia. WTO yang baru-baru ini membuat kesepakatan historis yang disebut Paket Bali. Ada yang menarik dari Paket Bali ini, perdebatan sempat alot karena India tidak yakin untuk menyetujui Paket Bali. India tak bersedia didikte oleh negara maju soal pengaturan pangan. Sementara Indonesia akan dengan bangga memenuhi kebutuhan pangan negerinya dari kebun-kebun petani negara maju.
            Padahal Indonesia yang subur ini punya sistem pertanian luar biasa yang sarat akan kemanusiaan dan kemandirian. Misalnya saja Subak yang saat ini masih diterapkan di Bali. Subak mengandung tiga inti kehidupan manusia yang disebut Tri Hita Karana: hubungan manusia dengan alam, antarmanusia, dan dengan Tuhan. Dengan teknik yang dipergunakan dan ritus-ritus yang dilakukan Subak sebisa mungkin tidak melepaskan diri dari tiga kebaikan hidup manusia itu. Ternyata Subak adalah warisan Kerajaan Majapahit, orang Jawa yang mengajarkan sistem bertani yang disebut Subak itu pada orang Bali[1]. Namun kini Pulau Jawa sudah sangat sibuk dengan proyek-proyek kemajuan yang benar menurut globalisasi.
            Hal-hal di atas memang tak menawarkan solusi, namun cukup menginsafkan kita bahwa hal di atas itulah satu di antara dasar filosofis kenapa Indonesia harus mandiri pangan. Para perancang regulasi pertanian seharusnya mempertimbangkan esensi pertanian yang di dalamnya kemanusiaan dan kemandirian sudah ada. Jika mereka peduli itu, rasa-rasanya tak akan lahan pertanian dengan cepat berubah wujud jadi supermarket dan perumahan mewah, dan padi bunting bertahan dalam angin.

Pustaka:
 Ananta Toer, Pramoedya. 2011.  Anak Semua Bangsa. Jakarta: Lentera Dipantara
Khudori. 2004. Neoliberalisme Menumpas Petani. Yogyakarta: Resist Book
Mandel, Ernest. 2006. Tesis-Tesis Pokok Marxisme. Yogyakarta: Resist Book
Maryoto, Andreas. 2009. Jejak Pangan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas
Multatuli. 1973. Max Havelaar. Bandung: Penerbit Djambatan
Wispi, Agam dkk. 1963. Matinja Seorang Petani. (Tanpa kota): Bagian Penerbitan Lembaga Kebudajaan Rakjat
Lain-lain:
Majalah Pembaruan Tani edisi Juni 2007




[1] Seorang pemangku adat di Bali bicara begitu pada dosen saya ketika dosen saya berkunjung ke Bali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar