Selasa, 28 Januari 2014

Manisnya Wisata di Bali

Oleh Eva Hudaeva

Seorang lelaki asing berkulit merah dan berambut gondrong sedang memohon-mohon maaf kepada seorang ibu pribumi. Bukan karena si lelaki kulit merah itu berbuat kurang ajar pada si ibu. Melainkan ia serba salah harus bersikap bagaimana, ia tak bisa membeli lagi gelang-gelang yang si ibu jual, tapi si ibu terus saja menawarkannya. Ternyata lelaki itu bukan satu-satunya orang asing yang sedang di rayu pedagang-pedagang cendramata di Pantai Kuta sore itu. Masih ada beberapa teman si bule itu yang sedang, entah membeli atau dimintai uang, oleh pedagang gelang yang lain.
            Lihat di belakang lelaki asing gondrong itu, ada lelaki asing berparas tampan berkali-kali memberikan uang pada seorang ibu penjual gelang yang lain. Awalnya ia memberikan selembar uang biru, tapi si ibu masih menengadah dan lelaki asing yang tampan itu memberikan uang yang warnanya campur-campur, entah berapa jumlahnya. Pikirku, mahal benar harga gelang-gelang itu, yang aku lihat si bule tampan hanya mengambili beberapa gelang, tapi ia memberikan uang sebanyak itu. Eh, ibu itu masih saja menengadah, si lelaki asing tak menghiraukannya lantas ia berlalu. Melihat kejadian itu, rasanya aku ingin mengakui bahwa aku orang Vietnam atau Malaysia saja.
            Menginjakkan kaki di pasir Pantai Kuta yang terkenal keindahannya ke seantero dunia tak membuatku bahagia. Bagaimana bisa orang asli Bali menengadahkan tangan pada orang asing yang datang untuk menikmati keindahan alamnya? Bagaimana bisa mereka tak kecipratan kemakmuran dari industri pariwisata di tempat tinggalnya sendiri?
            Pertanyaan-pertanyaan tersebut menghalangiku untuk menuliskan ini. Aku berharap memperoleh sedikit jawaban atas pertanyaan, yang menurutku, cukup menggelisahkan. Sampai baru-baru ini aku meminjam buku berjudul Menggugat Bali (1986) dari perpustakaan kampus. Begitu kuat hasratku untuk menarik buku itu dari rak, walau tak aku baca sama sekali ulasan singkat di belakangnya. Bukan hanya karena aku punya proyek untuk menuliskan beberapa catatan tentang Bali, tapi juga buku itu ditulis Putu Setia. Ya, Putu Setia, pendeta Bali yang dulunya wartawan. Aku kagum betul pada lelaki yang sekarang dikenal juga dengan nama Mpu Jayaprema itu. Aku kagum akan keterampilannya menulis dengan gaya satire namun tetap bijak.
            Dalam bukunya yang aku sebutkan itu Putu Setia membeberkan catatan perjalanannya di tanah kelahirannya sendiri setelah bertahun-tahun mengembara di Jakarta. Putu Setia pulang hanya dengan maksud menengok pulau Dewata yang sudah sangat terkenal waktu itu. Kepulangannya didorong oleh kelakuan seorang temannya yang membacakan puisi WS Rendra yang berjudul Sajak Pulau Bali di kantor tempat Putu Setia dan temannya itu bekerja. Dalam puisi itu Rendra gelisah dengan Bali yang sudah tercemar karena pariwisata. Teman Putu Setia mengejek, walau sebenarnya ia hanya beberapa hari berkunjung ke Bali. Putu Setia senyum-senyum saja, singkat cerita ia bertekad melakukan perjalanan ke Bali, melihat kembali apa-apa yang sudah terjadi selama “gadis elok” bernama Bali itu ia tinggalkan.
            Catatan-catatan perjalanan Putu Setia menjawab sebagian besar pertanyaanku tadi. Ide di pembuka buku itu yang aku ingat betul ialah, bahwa Bali tidak siap menerima hujan dolar yang datang begitu lebat. Kekaguman akan keindahan budaya dan alam Bali bukan dimanfaatkan penduduk Bali, malah oleh pengusaha industri pariwisata yang tak lain berasal dari Jakarta. Hotel-hotel dan pengelolaan tempat pariwisata dilakukan oleh orang-orang yang bukan penduduk Bali. Itukah yang menjadikan ibu-ibu penjual gelang hanya bisa “mengerjai” bule yang tidak tahu harga gelang?
            Bisa jadi begitu. Mereka, para penjajak gelang, terpinggirkan karena tidak mempunyai pengetahuan memadai tentang pariwisata. Mereka hanya tahu banyak orang datang ke Bali dan mereka bisa memanfaatkan itu dengan menajajakkan buah tangan khas Bali. Anehnya, memanfaatkan kedatangan wisatawan itu malah menjadikan pedangang-pedagang gelang tadi merelakan diri menengadah demi rupiah hasil penukaran dengan dolar.
            Sementara ada orang (asli Bali atau bukan) yang memanfaatkan kedatangan wisatawan itu dengan mendirikan hotel berbintang dan kafe-kafe untuk nongkrong para turis. Kafe-kafe yang menurutku tak asing di negara asal mereka. Untuk apa mereka datang jauh-jauh ke Bali kalau kafe dan hotel dengan merek dagang itu juga yang mereka temui? Bukankah mereka penasaran dengan keunikan Bali yang tak mungkin mereka temui di tempat lain? Putu Setia tak banyak membahas hal ini dalam bukunya, ia lebih berfokus pada budaya Bali yang tak terasa lagi kekidmatannya karena desakan pariwisata.
            Tak ada seorangpun menyangkal Bali adalah pulau dengan budaya Hindu yang kuat dan budaya itu terwujud dalam upacara-upacara dan kesenian yang tak kalah mengagumkan. Kebudayaan Bali yang agung itu ternyata tak luput dari sentuhan makhluk bernama industri pariwisata. Putu Setia menyadari, bahwa budaya dan kesenian Bali banyak yang sudah terasa campah atau hambar. Tari-tarian sakral bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja sesuai keinginan wisatawan. Rumah-rumah di pinggir jalan sengaja dirancang dengan ukiran-ukiran khas Bali untuk menarik wisatawan. Upacara-upacara keagamaan menjadi objek pariwisata pula, yang tak jarang terjadi salah kaprah wisatawan terhadap upacara-upacara itu. Putu Setia mencoba meluruskan kesalahkaprahan itu.
            Sayang sekali, aku belum terlalu puas dengan jawaban Putu Setia. Aku pun belum bisa menyimpulkan apa kekurangan itu. Mungkinkah aku harus datang kembali ke Bali dan mencari buku Putu Setia seri kedua yang berjudul Mendebat Bali? Atau aku ke Bali untuk mengunjungi tempat-tempat yang tak terlalu terkenal sebagai tempat pariwisata?
            Ah, Waktu itu aku belum berpikir demikian. Waktu itu aku hanya memutuskan untuk beranjak dari pasir Pantai Kuta, dan tak disangka-sangka dua gadis berkulit merah berlarian dan buah dada mereka terayun-ayun. Aku sudah berdiri dan melihat mereka menghampiri seorang lelaki pribumi setengah baya yang menawarkan sebuah patung kecil dari kayu. “Seventy thousand,” kata lelaki penjual patung itu. “Thirsty,” teriak kedua gadis bule itu dengan riang, dan payu dara mereka masih melonjak-lonjak. “Oh no, seventy,” timbal lelaki penjual patung. “Thirsty,” kali ini dua gadis bule itu pergi masih dengan riang menuju beberapa kaleng minuman bersoda. “Ah,” keluhku dalam hati sambil berlalu.
            Perjalanan pulang dari Bali yang amat lama memberikanku kesempatan untuk berpikir tentang apa yang terjadi di Pantai Kuta itu. Di pagi-pagi buta aku mengintip lewat jendela bis, dan keduakalinya aku melihat museum gula Gondang Winangoen di Klaten. Dalam perjalanan menuju Bali beberapa hari sebelumnya aku langsung teringat pada Nyai Ontosoroh ketika melihat pabrik gula itu. Nyai Ontosoroh, gundik gubermen pabrik gula bernama Hermann Mallema dalam tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Aku membayangkan betapa warga Klaten diperbudak dengan pabrik gula pimpinan kolonial waktu itu. Beberapa orang memanfaatkan dengan menghamba pada gubermen, contohnya ayah Nyai Ontosoroh yang menyerahkan gadisnya agar ia dapat jabatan prestisius di pabrik gula.

            Untuk kedua kalinya aku melihat museum pabrik gula itu yang mampir di pikranku bukan sekedar kemalangan Nyai Ontosoroh. Namun, gula yang dulu menjadi representasi modal dan setiap orang menyerahkan diri pada kekuatan gula. Kini, manisnya modal bukan sekedar dirasa dari gula, namun manisnya punya rupa lain-lain, satu di antaranya disebut industri pariwisata.

Yogyakarta, Januari 2014

Selasa, 21 Januari 2014

Padi Mengandung Kemanusiaan

Oleh Eva Hudaeva

Depan kantor tuan bupati
Tersungkur seorang petani
Karena tanah
Karena tanah

Dalam kantor barisan tani
Silapar marah
Karena darah
Karena darah

Tanah dan darah
Memutar sedjarah
Dari sini njala api
Dari sini damai abadi... (Matinja Seorang Petani, Agam Wispi: 1963)

Pertanian dan pangan menjadi tonggak analisis Marxisme untuk membuktikan bahwa teori kelas yang diusung paham ini bukanlah konsep yang ahistoris (Mandel, 2006). Pembuktian ini merujuk pada revolusi neolitik yang menurut Marxian adalah masa ketika manusia sudah hidup tak bergantung pada alam, tapi mampu mengolah alam. Revolusi neolitik inilah yang timbul karena perkembangan teknik pertanian dan peternakan. Ternyata revolusi neolitik tak lama membawa kesejahteraan bagi manusia. Tangan-tangan serakah dan bengis berusaha menguasai hasil kerja keras petani yang melimpah. Kekuasaan itu dirancang sedemikian rupa sehingga terlihat wajar dan dengan sendirinya terjadi kapitalisasi yang menghasilkan kelas-kelas.
            Sempalan puisi Agam Wispi di muka mengisyaratkan kepada kita bahwa analisis Marxis tentang pertanian yang dikapitalisasi tak terhindarkan pula dari negeri ini. Agam Wispi menceritakan keharuannya ketika konflik agraria di Desa Alas Tlogo, Jawa Timur (1960-1961). Saat tanah peninggalan pemerintah kolonial dirampas TNI AL dari warga dengan dalih akan dijadikan pemukiman tentara dan kepentingan perang. Nyatanya lahan yang direbut dengan menembak beberapa petani itu digarap perusahaan bermodal besar (Majalah Pembaruan Tani, Juni 2007: 3).
            Tragedi Alas Tlogo bukan satu-satunya peristiwa agraria yang menyayat nurani. Sejak masa pemerintah kolonial Belanda berkuasa, petani sudah terdesak. Betapa perjalanan pangan juga merupakan perjalanan manusia. Seperti yang dikatakan Andreas Maryoto (2009: 4) bahwa makanan bisa menjadi petunjuk kehadiran manusia dan kebudayaannya. Pertanian dan pangan di tanah ini menyimpan sejarah manusia Indonesia. Perjalanan manusia Indonesia dan pangan ini tercatat rapi dalam karya sastra. Coba buka Anak Semua Bangsa (Pramoedya Ananta Toer, 2006: 233-259) ketika Minke –sang tokoh utama— tak  sengaja bertemu seorang petani bernama Truno yang didesak untuk segera menyerahkan lahan pertaniannya kepada pemerintah kolonial. Namun, Truno bersikeras menggarap sendiri lahan pertanian warisan orangtuanya.
            Selain itu, di rumah Truno Minke menemukan wujud kehidupan seorang petani. Tanah milik Truno itulah satu-satunya aset untuk menggantungkan hidupnya sekeluarga. Dari tanah yang tak seberapa luas di belakang rumahnya itu Truno berusaha menghasilkan sendiri apa-apa yang keluarganya perlukan. Palawija, padi, hewan ternak, dan semua kebutuhan kecuali pakaian dan garam. Maka dari itu Truno memperjuangkan mati-matian tanah miliknya dari yang ia sebut sebagai anjing-anjing pabrik.
            Setali tiga uang, Eduard Douwes Dekker yang menyamar dengan nama Multatuli juga berdongeng tentang ketidakadilan yang menimpa petani ketika kolonialisme merajai Indonesia. Melalui Max Havelaar Multatuli mengisahkan eksploitasi terhadap pribumi melalui sistem tanam paksa. Biarpun Multatuli Belanda totok, namun penindasan terhadap manusia lain –pribumi sekalipun— tetap menggugah rasa belas kasihnya.
            Dua karya sastra di atas berpesan kepada pembacanya untuk meihat petani bukan sebagai pekerjaan yang memiskinkan. Petani tak semestinya termarginalkan oleh kekuasaan yang kejam. Tak ada gunanya kita ribut-ribut perkara kemandirian pangan jika kita tak sadar betul apa yang menjadikan negara ini tak –lagi—mandiri pangan. Tak juga berguna cara-cara untuk mewujudkan kemandirian pangan tanpa melirik nasib petani yang makin kehilangan tanah garapan lantas mereka berlarian ke sudut-sudut kota besar. Padahal, pertanian adalah kemandirian itu sendiri, padahal pertanian mengasuh rasa kemanusiaan dan menjadi saksi perjalanan manusia. Jika tahu begini, sebagai negeri agraris apa lagi alasan Indonesia untuk tidak mandiri pangan?
            Mungkin satu di antara alasannya ialah kolonialisme yang baru-baru ini malih rupa menjadi neoliberalisme yang dengan berbagai intriknya mendesak pertanian. Khudori (2004) memaparkan bagaimana neoliberalisme meremukkan sistem pertanian Indonesia. Melalui strategi pasar ekspor-impor dan dilegitimasi oleh keberadaan WTO (World Trade Organization), neoliberalisme menjadi hama ganas bagi tanaman petani Indonesia. WTO yang baru-baru ini membuat kesepakatan historis yang disebut Paket Bali. Ada yang menarik dari Paket Bali ini, perdebatan sempat alot karena India tidak yakin untuk menyetujui Paket Bali. India tak bersedia didikte oleh negara maju soal pengaturan pangan. Sementara Indonesia akan dengan bangga memenuhi kebutuhan pangan negerinya dari kebun-kebun petani negara maju.
            Padahal Indonesia yang subur ini punya sistem pertanian luar biasa yang sarat akan kemanusiaan dan kemandirian. Misalnya saja Subak yang saat ini masih diterapkan di Bali. Subak mengandung tiga inti kehidupan manusia yang disebut Tri Hita Karana: hubungan manusia dengan alam, antarmanusia, dan dengan Tuhan. Dengan teknik yang dipergunakan dan ritus-ritus yang dilakukan Subak sebisa mungkin tidak melepaskan diri dari tiga kebaikan hidup manusia itu. Ternyata Subak adalah warisan Kerajaan Majapahit, orang Jawa yang mengajarkan sistem bertani yang disebut Subak itu pada orang Bali[1]. Namun kini Pulau Jawa sudah sangat sibuk dengan proyek-proyek kemajuan yang benar menurut globalisasi.
            Hal-hal di atas memang tak menawarkan solusi, namun cukup menginsafkan kita bahwa hal di atas itulah satu di antara dasar filosofis kenapa Indonesia harus mandiri pangan. Para perancang regulasi pertanian seharusnya mempertimbangkan esensi pertanian yang di dalamnya kemanusiaan dan kemandirian sudah ada. Jika mereka peduli itu, rasa-rasanya tak akan lahan pertanian dengan cepat berubah wujud jadi supermarket dan perumahan mewah, dan padi bunting bertahan dalam angin.

Pustaka:
 Ananta Toer, Pramoedya. 2011.  Anak Semua Bangsa. Jakarta: Lentera Dipantara
Khudori. 2004. Neoliberalisme Menumpas Petani. Yogyakarta: Resist Book
Mandel, Ernest. 2006. Tesis-Tesis Pokok Marxisme. Yogyakarta: Resist Book
Maryoto, Andreas. 2009. Jejak Pangan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas
Multatuli. 1973. Max Havelaar. Bandung: Penerbit Djambatan
Wispi, Agam dkk. 1963. Matinja Seorang Petani. (Tanpa kota): Bagian Penerbitan Lembaga Kebudajaan Rakjat
Lain-lain:
Majalah Pembaruan Tani edisi Juni 2007




[1] Seorang pemangku adat di Bali bicara begitu pada dosen saya ketika dosen saya berkunjung ke Bali.

Rabu, 01 Januari 2014

FSB Retorika di RT 0/ RW 0



            “Nasi panas, rendang bumbunya kental berminyak-minyak, telur balado, segelas teh hangat, dan jangan lupa pisang raja yang warnanya kuning keemas-emasan.” Begitu Kakek dan Si Pincang menghafalkan makanan yang mereka damba-dambakan. Bagaimana tidak mereka mendambakan makanan lezat itu, yang mereka punya hanya labu siam setengah busuk yang diolah dalam kaleng bekas kemasan biskuit. Tapi bagaimana lagi, Si Pincang dan Kakek hanya penghuni kolong jembatan di kota besar yang kejam. Rumah kardus kumuh tempat mereka bernaung, tak terbayangkan senangnya mereka bila dapat makan enak.
            Tak disangka-sangka Si Pincang dan Kakek dapat melahap makanan yang mereka hampir lupa bagaimana rasanya itu. Sayang sekali, nasi rames telur balado itu pertanda perginya beberapa anggota kolong jembatan yang selama ini menemani mereka. Bopeng dan Ina membawakan mereka nasi rames dan pisang raja sebagai tanda pamitan. Bopeng sudah menjadi kelasi dan akan berlayar esok hari, sedangkan Ina menyampaikan pesan Ani yang pergi karena dinikahi oleh pria langganannya. Ina pun bermaksud pergi untuk mendapat kejelasan hidup, ia menikah dengan tukang becak yang selama ini mengantarkan ia dan Ani pergi melacur. Si Pincang pun harus ikut hengkang dari kolong jembatan karena harus mengantar Ati, wanita malang yang dibawa Bopeng.
            Demikian gambaran kemiskinan yang coba ditunjukkan Iwan Simatupang dalam naskah teaternya yang berjudul RT 0/ RW 0. Dalam naskah tersebut Iwan Simatupang memperlihatkan hasilnya menelaah kehidupan gelandangan. Cara pandang kaum gelandangan terhadap kehidupan, termasuk stigma yang melekat pada gelandangan tak luput dari perhatian sastrawan yang menulis novel Ziarah itu.

            Naskah Iwan Simatupang tersebut depentaskan oleh Forum Seni Budaya (FSB) Retorika di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta pada 23/12 malam. Dalam pementasan  itu, Kakek diperankan oleh Ilham Azmil Putra dan Bintang Kichi Emzita sebagai Si Pincang, keduanya berakting ciamik. Ina diperankan Artha Anindita Kusuma Dewi, Ica Bukit sebagai Ani. Kemudian Pascal Caboet berperan sebagai Bopeng, dan Ati diperankan Annisa Bena.

            Pentas teater itu dibuka dengan hiburan musik akustik dari Sande Monink yang membawakan tiga buah lagu. Tak terlalu banyak penonton yang hadir, namun Ade Swendi, seorang penonton dari UPN berkomentar pementasan teater malam itu cukup berkesan. “Hanya publikasi pementasan itu kurang ramai,” keluh Ade.

            Arvian Redya Putra, sutradara pementasan itu, mengatakan alasan naskah itu dipilih karena komunikatif dan dengan jelas menggambarkan kondisi kota besar. Arvi pun tak menyangkal masih ada ketidaksempuranaan dalam eksekusi naskah tersebut. “Beberapa aktor masih gugup, ligting dan sound pun mengalami gangguan,” jelas Arvi. Shoimardiyah, ketua FSB Retorika yang bermarkas di Fakultas Filsafat UGM, juga mengakui masih ada kendala-kendala teknis yang menjadikan pementasan malam itu kurang memuaskan. Sekalipun demikian, Arvi dan Shoim merasa bangga dengan hasil kerja keras anggota FSB Retorika. [Eva|Pijar]