Jumat, 04 November 2011

kangen waktu bodoh


Aku benci  ini
Aku benci  itu
Aku benci kau
Aku benci dia
Aku benci aku
Aku muak
Lapuk
Ringkih
Lemah
Hampa
Undang aku sang lara
Aku hendak menari
Memutari sang teja
Lalu aku hangus
Abu
Sedih aku
Haru aku
Tangis aku
Tak berdaya sayangnya
Lelahnya menyeret mimpi
Tersaruk di atas rekahan tanah
Kesakitan jadi nafas
Kemanisan jadi rembulan
Hambar
Tanpa makna
Mengalir  tanpa muara
Dengan sayu kau bernyanyi tentang cinta
Semua tak guna
Aku sudah tak kenal
Aku pernah kenal
Tapi aku lupa
Kau yang menata
Lalu jemarimu hancurkannya
Sayang aku masih rindu
Rindu kebodohan itu
Aku masih sakit
Sakit karena kecerdasan
Aku ingin kembali bodoh
Sedetik saja
Lalu aku baru memilih
Cerdas atau begini

Hanya Menulis


Entah berapa abad jemari membeku
Mengaku bersama kemandekan pikiran
Hemat, ketidakpuasan, sampai unek2 berkumpul
Melapuk di gudang belakang.
Sungguh mengerikan.
Wahai intuisi yang telah lama tenggelam
Tidakkah kau lihat aku yang mulai bergairah kembali ?
Tidakkah kau ingin kembali bercumbu bersamaku ?
Duhai  imaji yang terlampau lelap
Dekap aku seerat kau bisa
Hingga aku jadi dirimu.
Mari kita berdendang di tengah samudra kredo kata
Tak peduli aturan kebahasaan
Tak risaukan segala soal selera
Hanya menulis