Minggu, 19 Oktober 2014

Sekelumit Cerita dari Atambua (Bagian I)


oleh Eva Hudaeva

Cerita-cerita Gerson Poyk dalam Di Bawah Matahari Bali (1982) telah menggugah minat saya untuk menulis kembali. Terutama menulis tentang Indonesia bagian timur yang juga kampung halaman Gerson. Dalam kumpulan cerpennya itu Gerson mengungkapkan hasratnya untuk kembali pada kehidupan bercocok tanam dan melaut yang damai. Entah bagaimana semua cerita dalam bukunya itu Gerson menceritakan hal yang sama: kemuakan hidup di kota besar dan tentu saja mimpi untuk hidup dari uluran tangan alam Indonesia yang kaya raya.

Biarpun cerita utamanya adalah tentang pulau pariwisata tersohor, Bali, namun cerita yang berjudul Lelaki dan Komodo yang justru lebih menarik perhatian saya. Dalam cerpennya itu, Gerson dengan telaten menceritakan tempat-tempat di Labuan Bajo yang indah dan subur. Ia menceritakan setiap tempat seperti ia menceritakan tentang tubuhnya sendiri. Gerson dalam surat Amir kepada kekasihnya di ibu kota memprediksi, sebentar lagi, jika lapangan terbang sudah selesai dibuat oleh pemerintah, maka daerah ini (Labuan Bajo) akan menjadi daerah internasional, sebuah daerah yang dikunjungi semua orang dari seluruh penjuru dunia.

Prediksi sastrawan yang menulis cerpen Mutiara di Tengah Sawah itu mungkin ada benarnya. Dengan gamblang saat ini, ketika hobi travelling menjadi tren, Labuan Bajo menjadi destinasi primadona untuk berwisata. Saya bisa memakluminya, Indonesia bagian timur memang masih menunjukkan wajah alam yang sebenarnya karena belum dipoles pembangunan. Lantas orang dari kota besar beramai-ramai mengunjungi Indonesia timur untuk sekedar melihat matahari terbit dan tenggelam. Mungkin teman saya yang kritis akan mengatakan itu adalah fenomena paradoks globalisasi. Cerita tentang Indonesia bagian timur yang saya maksud di awal bukan untuk mengkritisi fenomena pariwisata itu, saya akan bercerita saja.

“Kakak atlet kempo e?” seseorang di belakang saya tiba-tiba menegur. Dalam rasa kaget saya masih sempat berpikir, entah bagaimana orang kurus kerempeng seperti saya ini dikira atlet kempo. Ketika saya menoleh, saya mengetahui ia adalah seorang lelaki muda petugas Bandara El Tari, Kupang. Tentu saya segera meluruskan, “Oh bukan, saya ke sini hendak KKN” “Oh tadi beta lihat yang bawa tas merah dengan tulisan Sorinji Kempo,” saya bilang itu teman saya. Obrolan kami berlanjut tentang di mana saya kuliah, saya KKN di mana, dan mengapa saya jauh-jauh ke Timor untuk KKN.

Saya menginjakkan kaki di Indonesia bagian timur karena KKN PPM UGM yang membawa saya. Tidak di Labuan Bajo seperti diceritakan Gerson Poyk tapi di Pulau Timor, tepatnya di Kabupaten Belu, Kecamatan Atambua Selatan, tempat ini pun termasuk perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste.  Tidak ada alasan tegas mengapa saya memilih untuk KKN di tempat itu. Hal yang pasti saya hanya ingin tahu bagaimana kehidupan di luar Pulau Jawa—yang  selama ini menjadi pusat pembangunan Indonesia.

Tempat bernama Atambua sempat mencuat ketika film bertajuk Atambua 39 Derajat Celcius besutan Riri Riza diuncurkan pada 2012 silam. Film ini tidak menyita perhatian, karena memang film ini bukan tentang motivasi atau kisah cinta mengharukan. Film tersebut mengisahkan Ronaldo Bautista dan anaknya, Joao, mereka eksodus ketika kerusuhan yang merupakan akibat dari referendum Timor Timur pada 1999 pecah. Mereka memilih mengungsi ke Atambua. Joao selalu mendengarkan rekaman suara ibunya yang memintanya untuk pulang ke Timor Leste, sementara Ronaldo bersikukuh bahwa tanah airnya adalah Indonesia, bukan Timor Leste. Namun, pada akhirnya Ronaldo menyadari bahwa ia memang orang Timor Leste, dan hal itu tak dapat diubah oleh apapun.

Sejarah lepasnya Timor Timur dari NKRI memang tak dapat disangkal. Joseph Nevins, seorang berkebangsaan asing yang sudi menelusuri sebab-musabab terjadinya referendum Timor Timur dan pertumpahan darah yang mengikutinya. Buku berjudul Pembantaian Timor Timur (2008) menjadi wujud nyata hasil penelitian bertahun-tahunnya. Dalam bukunya itu Nevins menceritakan betapa kejam militer Indonesia memperlakukan warga sipil Timor Timur. Ia sampai heran bagaimana bisa negara yang sempat dijajah ratusan tahun seperti Indonesia dapat bertindak sekeji itu. Kemudian Nevins menyimpulkan bahwa apa yang terjadi di Timor Timur pada 1999 tak lepas dari andil masyarakat internasional. Keterlibatan pihak luar negeri ini sulit diurai menurut Nevins.

Salah satu pemandangan di Atambua
Sekalipun membuat penasaran, tentu saya tidak akan mendedah isi buku Joseph Nevins di sini. Tulisan ini bukan resensi buku tentang pengungkapan sejarah. Akan tetapi, apa yang dikatakan Nevins saya rasakan betul ketika saya tinggal di tempat yang paling banyak menerima pengungsi kerusuhan Timor Timur. Di Asuulun, tempat saya tinggal selama di Atambua, bahkan lebih banyak pengungsi Timor Timur daripada penduduk asli. Sayangnya, keadaan demikian malah bersifat patologis. Stigma negatif entah bagaimana menempel pada pengungsi Timor Timur.  Penduduk asli Atambua menganggap para eksodus Timor Timur sebagai orang yang tidak tahu diri. Maka dari itu sering pula terjadi perkelahian antara penduduk asli dan pengungsi Timtim yang tak jarang menghilangkan nyawa.

Memang kenapa pengungsi Timtim dianggap tidak tahu diri? Sulit diterka alasannya, namun jika diperhatikan, kebiasaan penduduk di sana yang suka mabuk-mabukan dan judi berpengaruh besar terhadap kerukunan antarwarga. Bagaimana tidak, anak-anak muda yang tidak lagi mampu melanjutkan sekolah dan tidak juga mempunyai pekerjaan akan menghabiskan waktunya untuk mabuk-mabukan. Jika sudah mabuk, berbagai perbuatan kriminal pun dilakukan, tak terkecuali berkelahi. Judi pun sudah seperti tradisi, dengan mudah di sepanjang jalan menuju Asuulun kita melihat mamak-mamak (sebutan untuk ibu-ibu) yang memangku anaknya bermain judi, tak ketinggalan bapak dan nenek-nenek, mereka semua berjudi bingo. Ternyata di pasar pun demikian, di los daging yang tak terpakai para lelaki akan bersila sambil menenteng kartu. Saya agak kaget dengan perjudian yang begitu terang-terangan itu.

Jika dikatakan para pengungsi Timtim tidak tahu diri, ah sulit juga dipastikan. Yang saya amati, mereka hidup terpisah dari lingkungan masyarakat asli. Kehidupan mereka pun sederhana saja. Walau pun memang ada yang mempunyai ethos kerja lebih tinggi dari penduduk asli dan mereka hidup lebih layak. Banyak di antara mereka yang masih merindukan kampung halamannya, Timor Leste, namun apa mau dikata, di Timor Leste pun tak jauh beda susahnya daripada di Indonesia. Katakanlah Pak Kalisto, seorang guru sekolah dasar Katolik. Sebelum refrendum ia seorang PNS di Timor Timur, namun ketika kekacauan pascareferendum terjadi, ia memilih untuk pindah ke Indonesia meninggalkan sebagian besar keluarganya. Di Indonesia ia kembali memulai usahanya untuk menjadi PNS. Ketika saya tanya lebih enak mana di Atambua atau Timor Leste, ia bilang sama saja.

Namun rupanya bagi para pencari kesempatan, keadaan Timor Leste sebagai negara yang masih tertatih-tatih merupakan tambang emas. Para penyelundup bensin dan cendana mendapatkan keuntungan berlipat ketika menjualnya ke Timor Leste dan tanpa cukai. Di Motaa’in, tempat pos perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste berada, para penyelundup dapat dengan leluasa menaikkan bensin dan cendana ke kapal barang. Perbuatan itu begitu telanjang dan tanpa tindakan tegas.
Tugu perbatasan Indonesia-Timor Leste
Selain tentang perjudian dan penyelundupan, perbincangan yang sering saya dengar di sana adalah tentang perbandingan keadaan atambua dengan Jawa. Rata-rata orang atambua mengakui kehebatan pembangunan di Jawa. Bahkan, anak-anak kecil di sana menggeneralisir kami dengan sebutan “jawa”. Mamak Hendik contohnya, katanya ia iri melihat orang Jawa yang begitu rajin dan dapat menggarap lahan yang begitu subur. Guru-guru di setiap sekolah dasar pun demikian, mereka meminta kemakluman kami karena anak-anak didiknya tidak sepintar anak-anak di Jawa.

Saya heran betul mengapa cara pikir lebih rendah daripada Jawa begitu menginstitusi? Apakah karena memang mereka tak merasakan pembangunan berarti selama ini? Tapi bukankah alam Atambua indah? Budaya mereka unik? Orang-oranya pun tak kalah cerdasnya? Masihkah relevan demarkasi antara Indonesia bagian barat dan timur? Pertanyaan-pertanyaan itu saya akan jawab pada catatan perjalanan saya bagian berikutnya. Bagian pertama ini hanya gambaran besar bagaiman keadaan Atambua. Semoga saja tulisan berikutnya cukup dinanti.