Gong xi gong xi gong xi gong xi fat
cay.
Begitu ucapan selamat hari imlek yang hampir semua orang tahu. Imlek tahun ini
berbarengan dengan musim politik, jadi ucapan demikian banyak terpajang dalam alat
kamapnye calon legislatif. Ucapan itu diterima semua orang mengerti atau tidak
artinya, yang pasti mereka tahu itu ucapan selamat hari imlek.
Sehari sebelum hari imlek, Agustinus
Wibowo bercuit dalam akun twitternya mengucapkan selamat hari imlek. Namun,
cara lelaki petualang itu mengucapkan selamat agak lain. Katanya, gongxi tapi tak perlu facay yang artinya kaya raya. Bagi
Agustinus yang terpenting adalah shenti
jiankang yaitu sehat walafiat.
Melihat cuitan Agustinus Wibowo yang
lama tinggal di Cina itu tak membuatku pusing-pusing memikirkan arti dari ucapan
itu. Aku hanya suka menyanyikan ucapan imlek itu dengan nada yang menurutku
kocak dan polos. Selain itu, hari imlek yang mulai menjadi libur nasional
semenjak Abdurahman Wahid jadi presiden Indonesia itu tak berarti apa-apa
buatku. Toh aku memang sedang libur kuliah, libur panjang. Sampai aku
memutuskan untuk pergi ke Solo pada hari imlek tahun ini.
Sebelumnya aku melihat pemberitaan
tentang perayaan imlek di Kota Solo yang meriah. Terlihat olehku foto gapura
yang dihias serba merah dan terang benderang. “Ini di mana?” tanyaku pada
seorang teman yang berangkat ke Solo denganku sambil menyodorkan telefon
genggamku yang sudah terpampang di dalamnya potret gapura merah terang gemilang
itu. “Oh itu di Pasar Gede” jawab temanku. “Di sini katanya imlek dirayakan
meriah,” kataku sambil mengambil kembali telefon gengamku. “Memang di sana
salah satu pusat pecinan, kalau di sini ya Malioboro itu,” temanku menerangkan.
Berangkatlah kami ke Solo. Tak ada
yang istimewa sepajang perjalanan kami menggunakan sepeda motor. “Di sepanjang
jalan ini banyak dipasangi pesugihan Va,” celetuk temanku ketika kami berada di
sepanjang jalan Delanggu, Klaten. Aku yang dalam boncengannya agak kaget, “Oh
ya? Banyak yang kecelakaan di sini?” tanyaku. “Banyak buanget, banyak yang mati
di sini,” terang temanku dengan aksen Jawa yang kental.
Hanya soal pesugihan itu pembicaraan
yang berkesan. Tiba di Solo kami disambut hujan, namun kami tetap melanjutkan
perjalanan sembari temanku bercerita tentang tempat minum susu murni yang
terkenal di Solo bernama Shi Jack. Akhirnya tibalah kami di rumah temanku itu
ketika sudah hampir magrib dengan pakaian agak basah.
Setelah makan malam di angringan
bergaya kafe yang asyik untuk kongko, kami memutuskan untuk mengitari Kota
Solo. Kata temanku, semalam bisa mengitari Solo, Solo itu kecil saja. Tentu
yang pertama kami datangi adalah Pasar Gede. Tak kusangka gapura Pasar Gede
yang sengaja dibuat untuk merayakan hari imlek tahun ini lebih mengagumkan
ketimbang hasil jepretan jurnalis daring yang aku lihat. Melewati gapura itu
seperti memasuki cahaya merah megah.
Eh, tapi sebelum sampai di gapura
merah gemilang itu sepenjang jalan menuju Pasar Gede ada lampion yang bentuknya
menggemaskan. Semua binatang yang melambangkan shio dalam penanggalan Cina
dibuat buntet dan lucu. Ayam, ular, monyet, kuda, dan lainnya dibuat seperti
karakter Jepang yang bentuknya chibi. Lampion shio lucu itu pun dibungkus dengan
kertas warna warni yang membuatku ingin menyentuhnya. Tapi aku agak keanehan
ketika aku sadar bahwa lampion shio lucu itu berdiri di atas alas yang
terpampang nama-nama bank. Satu lampion satu nama bank.
Ternyata di gapura merah gemilang
pun terpajang nama bank plat merah
ketika aku menoleh ke belakang setelah melewati gapura itu. Ternyata lagi,
sudah tidak ada acara apa-apa malam itu di Pasar Gede. Jadi, kami datang menemui
sisa-sisa perayaan imlek yang katanya meriah itu. Akan tetapi malam itu masih
ramai orang-orang datang ke Pasar Gede. Tak ada yang bisa disaksikan, maka
mereka hanya berfoto-foto. Kami lebih jauh lagi memasuki Pasar Gede, dan memang
sepi. Hanya lampion bulat merah yang masih tergantung di gedung pasar
tradisional yang menurutku sama saja dengan pasar tradisional lain: kumuh,
kotor, dan becek. Walaupun dihiasi lampion merah, namun kekumuhan itu tak lenyap.
Di sudut lain di Pasar Gede aku
menemukan dua pemulung yang sedang mengorek-ngorek tempat sampah dengan
penerangan dari senter yang terikat di kepalanya. Kejadian itu terpapar begitu
saja di hadapanku, dan kami melanjutkan perjalanan mengililingi Kota Solo. Tak
tentu arah aku dibawa temanku. Aku jadi teringat buku Pesona Solo yang ditulis istri Chairul Tanjung si anak singkong.
Aku belum membaca buku itu, namun aku sempat mebayang-bayangkan apa yang
ditulis wanita itu tentang kota kelahirannya.
Aku kira ia menulis tentang Solo
sebagai kiblat budaya masyarakat Jawa selain Yogyakarta. Solo yang
masyarakatnya ramah dan lemah lembut, Solo yang budayanya kejawaannya terjaga,
Solo yang makanannya nikmat, dan Solo dengan berbagai hal yang mengagumkan
lainnya. Namanya juga perkiraan. Agar tak lagi mengira-ngira aku diajak
berkeliling Solo lagi. Dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Institut
Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Museum dan Monumen Pers Indonesia, sampai
Stadion Manahan. “Apa lagi ini? hotel lagi?” seru temanku ketika menemukan kota
kelahirannya sudah penuh dengan bangunan yang mencirikan gaya hidup urban.
Jalan-jalan malam itu memberikanku
oleh-oleh yang aku bawa ke Jogja. Bukan makanan khas Solo ataupun batik, yang
aku bawa hanya keinginan untuk menuliskan apa yang aku lihat. Tak
disangka-sangka aku kembali menemukan buku yang menjurus pada apa yang akan aku
tulis tentang Solo dan perayaan hari imlek. Buku itu berjudul Etnis Tionghoa dan Pembangunan Bangsa
yang ditulis Leo Suryadinata. Aku baca-baca selintas dan aku menemukan bahwa
menyebut “cina” kepada orang Cina adalah suatu perbuatan kasar, maka untuk
penggantinya disebutlah orang Tionghoa.
Aneh betul pikirku, kata “cina”
biasa saja padahal tapi jadi punya punya nilai sendiri dan mengizinkan selera
berkuasa atasnya. Aku jadi teringat pada perkataan temanku bahwa dulu di
beberapa tempat di Solo rumah-rumah etnis Tionghoa bertuliskan “Kami pribumi.”
Orang Indonesia yang mencoba sedikit mencari tahu sejarah bangsanya melebihi
apa yang dikatakan buku paket sekolah mungkin insaf akan maksud kalimat itu.
Kalimat yang dianggap mampu menyelamatkan orang Tionghoa dari terkaman
orang-orang yang menganggap dirinya mengemban tugas revolusi. Bagi mereka orang
Tionghoa yang tak mengaku pribumi tentu akan menerima derita tak terperi.
Mereka dibunuh, dibakar, dijarah harta bendanya, diperkosa, dan Sungai Bengawan
Solo tersepuh merah oleh darah.
Kini Solo masih merah, tapi bukan
oleh darah etnis Tionghoa melainkan perayaan imlek yang meriah. Cina pun masih
merah dengan bendera dan ideologinya, namun mereka sudah jadi raksasa merah
yang menyebarkan produk-produknya ke berbagai negara. Imlek yang meriah di Solo
pun tak akan tercipta tanpa produk dari bank-bank yang diduduki lampion shio
yang mengiringi doa mereka setiap awal tahun untuk menjadi fa cay.