Oleh Eva Hudaeva
dari hasil diskusi Komunitas Metacinema
Seorang anak
lelaki duduk di depan ruang kelas, sementara kelas yang seharusnya ia ikuti
sedang berlangsung. Rupanya hal itu sudah sering ia lakukan, keluar kelas
setiap sesi menonton tiba. Anak itu bernama William. William berasal dari
keluarga yang menganut ajaran agama yang melarang anggotanya untuk menikmati
segala kesenangan duniawi, termasuk tontonan macam apapun. Biarpun terbatas
dalam mengakses informasi, William ternyata mempunyai imajinasi yang liar.
Imajinasinya itu ia tuangkan kedalam gambar yang ia bubuhkan di berbagai tempat.
Hari itu rutinitasnya agak lain
karena ia dipertemukan dengan Lee Carter, seorang anak terlampau aktif bahkan
cenderung bengal. Setelah insiden kecil dan tipu daya Lee Carter, kebersamaan
mereka ternyata berlanjut. Di rumah Lee Carter, William menemukan bahwa Lee
tergila-gila pada film. Lee Carter memaksa William untuk terlibat dalam film
yang ingin ia buat. Tadinya William ragu, namun tanpa sengaja di rumah Lee ia
melihat sepenggal tayangan dari film Rambo. Ia menyaksikan bagaimana Rambo
dengan gagah berani menghancurkan setiap musuh dalam peperangan. Penggalan film
itu begitu melekat pada ingatan William. Tak diduga tayangan itu membuat imajinasi
William menggila, hingga ia mengklaim dirinya sebagai the son of Rambow. Klaim itu pula yang kemudian menjadi semangatnya
untuk menjadi aktor dalam film Lee Carter.
Kemelut mulai muncul ketika di
tengah pembuatan film banyak pihak yang mencoba mengintervensi. Terlebih
keluarga William dan pemimpin ajaran yang diikuti keluarganya. Ada lagi Didier
Revol, seorang anak yang datang dari Prancis dan selalu dianggap keren. Orang-orang tersebut yang
menjadikan film Lee Carter tersendat-sendat proses pembuatannya. Berbagai hal
terjadi dalam proses pembuatan film itu, hal menyedihkan dan memecah tawa. Namun,
akhirnya Lee Carter dapat menonton film yang ia buat dengan berpayah-payah itu.
Kisah William dan Lee Carter divisualisasikan
dalam film garapan Garth Jennings dengan judul Son of Rambow (2007). Berbagai pertanyaan mungkin dapat dimunculkan
setelah menyelesaikan film itu. Misalnya, benarkah kebaikan hanya berasal dari
ajaran yang begitu saja kita terima tanpa dapat kita pertanyakan? Bagiamana
kasih sayang memperlihatkan dirinya?
Berbagai pertanyaan setelah menonton
film Son of Rambow dikupas dalam
acara pemutaran film dan diskusi pertama Komunitas Metacinema pada 8 Oktober
2013 lalu. Tak hanya dua pertanyaan di atas, banyak pertanyaan dan argumen lain
yang bergulir dalam diskusi itu. Dari sisi cerita, kebanyakan anggota diskusi
menilai film itu mempunyai cerita yang ringan dan mudah ditebak, akan tetapi
sarat akan nilai. Pesan nilai yang disampaikan secara eksplisit oleh film itu misalnya
saja arti persahabatan, saling menyayangi, dan kategori anak nakal. Seorang
anggota diskusi mengklasifikasi anak nakal dari film itu. Menurutnya, ada nakal
karena memang dibiarkan nakal, tapi ada juga anak nakal karena dikekang.
Diskusi semakin memanas, pembahasan pun
beralih kepada hal-hal yang lebih filosofis, hal yang tersembunyi di balik
sinema (metacinema). Seorang peserta
mendapatkan hal menarik dalam film itu berupa hal yang menyangkut moralitas. Perkara
baik-buruk yang rasanya sulit untuk ditemukan ukurannya. Namun dalam film
tersebut moralitas begitu ditekankan kepada dogma agama yang rigid. Agama menjadi
pion utama penentu baik-buruk. Padahal seperti terekam, ajaran agama dalam film
itu begitu tak menapak pada realitas. Bukankah tidak menutup kemungkinan
kebaikan diperoleh dari tempat selain agama? Lagipula, dalam filsafat moral
atau etika, E. G. Moore berpendapat bahwa kata “baik” tak terdefinisikan
seperti halnya “kuning.” Anda akan bingung bila ditanya apa itu “baik”? Seperti
halnya Anda bingung ketika ditanya apa itu “kuning”? Oleh karena tak
terdefinisi, maka “baik” pun tak dapat diindentikkan dengan sesuatu hal yang
lain. “Baik” tak identik dengan seuatu yang menyenangkan, “baik” tak identik
dengan hal yang menguntungkan, begitu pun “baik” tak identik dengan agama.
Moore juga menegaskan bahwa arti “baik” tak dapat diberitahukan kepada orang
lain, karena kita akan cenderung mereduksi arti “baik” dalam proses memberitahu
itu. “Baik” hanya bisa dicari oleh diri setiap orang masing-masing.
Berkaitan dengan pencarian
baik-buruk, seorang peserta diskusi lain memandang kasus yang tersaji dalam
film tersebut dari sisi psikologi. Pembangun teori psikoanalisis, Sigmund Freud,
berpendapat bahwa pencarian baik-buruk pada usia kurang dari lima tahun hanya
akan menjadi pencarian yang sia-sia saja. Pada rentang usia 0-5 tahun manusia
hanya hidup dalam dunia id yang merupakan sumber utama kepribadian dan tempat
tumbuhnya instink. Di atas id ada ego yang mengadakan kontak dengan realitas di
luar diri manusia. Lebih atas lagi ada superego yang menjadi filter antara diri
dan dunia luar, sehingga manusia dapat menemukan baik-buruk. Dalam Son of Rambow, anak-anak itu berada dalam taraf
ego yang hanya melakukan kontak dengan dunia luar tanpa memahami apa yang ideal
dalam masyarakat (superego). Maka, seharusnya ditemukan cara yang tepat untuk
mengajarkan baik-buruk. Perihal pengajaran yang tepat inilah yang menjadi salah
satu kajian utama filsafat pendidikan.
Sisi sosiologis dan politis ikut ambil
bagian dalam diskusi malam itu. Konsep habitus
dalam kerangka sosilologis dicetuskan oleh Pierre Bourdieu. Menurut Bourdieu, habitus mengacu
pada sekumpulan disposisi yang muncul dari kombinasi struktur dan sejarah
personal. Disposisi merupakan istilah yang digunakan untuk menerangkan usaha
“penyesuaian diri” atas peran sosial yang diperoleh dalam suatu ranah.
Pertemuan
antara Lee Carter dan William sekaligus merupakan pertemuan antara dua hebitus yang berbeda yang akhirnya tak
lepas dari berbagai dari konflik.
Secara politis, pertentangan antara
Inggris dan Prancis begitu kentara dalam film tersebut. Perang status antara Kerajaan
Inggris dan Prancis yang berlangsung 116 tahun (1337-1453) coba dibangunkan
kembali dalam film tersebut. Perbedaan cara pikir Prancis dan Inggris pun secara
tersirat disampaikan, dari segi pemikiran filosofis, Prancis dan Inggris memang
bertolak belakang. Inggris yang berbangga hati dengan empirisisme dan Prancis yang
besar dengan rasionalisme. Akan tetapi, film tentu saja tak hanya ingin
membangkitkan bermacam-macam konflik, namun juga menawarkan solusi yang
dikiranya layak untuk dipikirkan kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar