Kamis, 24 Oktober 2013

Mrs. Dalloway Menghubungkan Tiga Perempuan

Oleh Eva Hudaeva

Mrs. Dalloway, sebuah novel karya Virginia Woolf yang cukup berhasil memperlihatkan argumen-argumen feminismenya. Dalam buku itu, Virginia Woolf merenungkan kehidupan perempuan yang nampak baik-baik saja padahal mengalami pergulatan batin. Melalui kisah Mrs. Dalloway, Woolf menyampaikan bahwa perempuan dapat menentukan jalan hidupnya.
            Rupanya Mrs. Dalloway melekat dalam benak perempuan yang membacanya. Terlebih perempuan yang merasa hidupnya tak seperti yang diidamkan. Michael Cunningham menuliskan novel yang menceritakan perempuan-perempuan yang terpengaruh begitu dalam oleh Mrs. Dalloway. Novel karya Cunningham itu diberi judul The Hours. Kemudian pada 2002 novel tersebut diadaptasi kedalam film dengan judul yang sama. Stephen Daldry didapuk menjadi eksekutor adaptasi itu.
            The Hours mempertontonkan kehidupan tiga orang perempuan yang hidup di waktu dan tempat berbeda. Tiga perempuan itu terhubung oleh satu novel yang disebut-sebut sebelumnya, Mrs. Dalloway. Posisi mereka terhadap novel itu pun berlainan. Virginia Woolf yang diperankan Nicole Kidman tentu sebagai penulis novel tersebut. Clarissa Vaughan (Diperankan Meryl Streep), seorang penyunting buku yang cenderung mengidentifikasikan dirinya sebagai Mrs. Dalloway. Terakhir, Laura Brown yang diperankan apik oleh Julianne Moore, seorang ibu rumah tangga yang membaca Mrs. Dalloway dan karena itulah ia menjadi gelisah akan arti hidupnya.
            Berdasarkan tinjauan movies.about.com, The Hours adalah film dari perempuan untuk perempuan. Memang tak dapat disangkal, Virginia Woolf adalah tokoh feminisme yang signifikan pengaruhnya. Mrs. Dalloway adalah karyanya yang didedikasikan untuk perempuan, dengan gaya satiris ia sesuaikan dengan elegi Latin. Menurut Molly Hoff (2007), seperti halnya elegi Latin, Mrs. Dalloway  memasukkan seksualitas, vulgaritas, dan kekerasan, semuanya digambarkan dalam ironi dan parodi. Gaya itulah yang menyampaikan kisah Mrs. Dalloway, wanita yang sedang sibuk mempersiapkan pesta. Ternyata persiapan pesta itu menjadi begitu rumit karena dibarengi dengan pencarian arti hidup yang layak bagi perempuan.
            Clarissa Vaughan mengalami kisah yang mirip dengan Mrs. Dalloway. Ia menyiapkan pesta untuk merayakan penghargaan yang diberikan kepada Richard, kekasihnya yang seorang penyair dan penderita AIDs. Beberapa jam menuju pesta, perasaanya tak terkendalikan. Ia mempertanyakan apa yang sudah ia lakukan, ia merawat Richard bertahun-tahun, dan ia mengabaikan kebahagiannya sebagai perempuan. Ia rela melakukan semua itu karena julukan “Mrs. Dalloway” yang diberikan Richard. Ia merasa terjebak dengan nama itu. Di belahan bumi dan waktu lain, Laura Brown begitu rapuh, padahal ia hanya berencana membuat kue ulang tahun untuk suaminya. Ia sampai berencana bunuh diri, ternyata sembari membuat kue ia gelisah pula dengan jalan hidupnya.
            Kegelisahan dua perempuan itu dipengaruhi Mrs. Dalloway. Virginia Woolf melalui novelnya itu memang provokatif dalam menyuarakan esensi kehidupan, khususnya bagi perempuan. The Hours mencoba mengeksplisitkan esensi itu. Perempuan mempunyai otonomi untuk menentukan nasibnya. Bahkan dengan gamblang Virginia Woolf mengatakan bahwa apabila ia harus memilih antara mati dan hidup yang tak ingin ia jalani, ia pasti akan memilih mati. Kehidupan perempuan harus berdasarkan kesadaran perempuan itu untuk menjalanainya. Tak peduli atas nama kebudayaan, bahkan cinta kepada keluarga atau pasangan hidup sekalipun, bila perempuan tak menjalaninya dengan kesadaran, maka hidup itu tak layak untuk dijalani. The Hours juga mengamanatkan kepada penontonnya bahwa perempuan biarpun lemah secara fisik, namun batinnya mampu bertahan melampaui batas kemampuan lelaki.

Jumat, 18 Oktober 2013

Titisan Rambo dan Sutradara Nakal

Oleh Eva Hudaeva 
dari hasil diskusi Komunitas Metacinema

Seorang anak lelaki duduk di depan ruang kelas, sementara kelas yang seharusnya ia ikuti sedang berlangsung. Rupanya hal itu sudah sering ia lakukan, keluar kelas setiap sesi menonton tiba. Anak itu bernama William. William berasal dari keluarga yang menganut ajaran agama yang melarang anggotanya untuk menikmati segala kesenangan duniawi, termasuk tontonan macam apapun. Biarpun terbatas dalam mengakses informasi, William ternyata mempunyai imajinasi yang liar. Imajinasinya itu ia tuangkan kedalam gambar yang ia bubuhkan di berbagai tempat.
            Hari itu rutinitasnya agak lain karena ia dipertemukan dengan Lee Carter, seorang anak terlampau aktif bahkan cenderung bengal. Setelah insiden kecil dan tipu daya Lee Carter, kebersamaan mereka ternyata berlanjut. Di rumah Lee Carter, William menemukan bahwa Lee tergila-gila pada film. Lee Carter memaksa William untuk terlibat dalam film yang ingin ia buat. Tadinya William ragu, namun tanpa sengaja di rumah Lee ia melihat sepenggal tayangan dari film Rambo. Ia menyaksikan bagaimana Rambo dengan gagah berani menghancurkan setiap musuh dalam peperangan. Penggalan film itu begitu melekat pada ingatan William. Tak diduga tayangan itu membuat imajinasi William menggila, hingga ia mengklaim dirinya sebagai the son of Rambow. Klaim itu pula yang kemudian menjadi semangatnya untuk menjadi aktor dalam film Lee Carter.
            Kemelut mulai muncul ketika di tengah pembuatan film banyak pihak yang mencoba mengintervensi. Terlebih keluarga William dan pemimpin ajaran yang diikuti keluarganya. Ada lagi Didier Revol, seorang anak yang datang dari Prancis dan selalu dianggap keren. Orang-orang tersebut yang menjadikan film Lee Carter tersendat-sendat proses pembuatannya. Berbagai hal terjadi dalam proses pembuatan film itu, hal menyedihkan dan memecah tawa. Namun, akhirnya Lee Carter dapat menonton film yang ia buat dengan berpayah-payah itu.
             Kisah William dan Lee Carter divisualisasikan dalam film garapan Garth Jennings dengan judul Son of Rambow (2007). Berbagai pertanyaan mungkin dapat dimunculkan setelah menyelesaikan film itu. Misalnya, benarkah kebaikan hanya berasal dari ajaran yang begitu saja kita terima tanpa dapat kita pertanyakan? Bagiamana kasih sayang memperlihatkan dirinya?
            Berbagai pertanyaan setelah menonton film Son of Rambow dikupas dalam acara pemutaran film dan diskusi pertama Komunitas Metacinema pada 8 Oktober 2013 lalu. Tak hanya dua pertanyaan di atas, banyak pertanyaan dan argumen lain yang bergulir dalam diskusi itu. Dari sisi cerita, kebanyakan anggota diskusi menilai film itu mempunyai cerita yang ringan dan mudah ditebak, akan tetapi sarat akan nilai. Pesan nilai yang disampaikan secara eksplisit oleh film itu misalnya saja arti persahabatan, saling menyayangi, dan kategori anak nakal. Seorang anggota diskusi mengklasifikasi anak nakal dari film itu. Menurutnya, ada nakal karena memang dibiarkan nakal, tapi ada juga anak nakal karena dikekang.
             Diskusi semakin memanas, pembahasan pun beralih kepada hal-hal yang lebih filosofis, hal yang tersembunyi di balik sinema (metacinema). Seorang peserta mendapatkan hal menarik dalam film itu berupa hal yang menyangkut moralitas. Perkara baik-buruk yang rasanya sulit untuk ditemukan ukurannya. Namun dalam film tersebut moralitas begitu ditekankan kepada dogma agama yang rigid. Agama menjadi pion utama penentu baik-buruk. Padahal seperti terekam, ajaran agama dalam film itu begitu tak menapak pada realitas. Bukankah tidak menutup kemungkinan kebaikan diperoleh dari tempat selain agama? Lagipula, dalam filsafat moral atau etika, E. G. Moore berpendapat bahwa kata “baik” tak terdefinisikan seperti halnya “kuning.” Anda akan bingung bila ditanya apa itu “baik”? Seperti halnya Anda bingung ketika ditanya apa itu “kuning”? Oleh karena tak terdefinisi, maka “baik” pun tak dapat diindentikkan dengan sesuatu hal yang lain. “Baik” tak identik dengan seuatu yang menyenangkan, “baik” tak identik dengan hal yang menguntungkan, begitu pun “baik” tak identik dengan agama. Moore juga menegaskan bahwa arti “baik” tak dapat diberitahukan kepada orang lain, karena kita akan cenderung mereduksi arti “baik” dalam proses memberitahu itu. “Baik” hanya bisa dicari oleh diri setiap orang masing-masing.
            Berkaitan dengan pencarian baik-buruk, seorang peserta diskusi lain memandang kasus yang tersaji dalam film tersebut dari sisi psikologi. Pembangun teori psikoanalisis, Sigmund Freud, berpendapat bahwa pencarian baik-buruk pada usia kurang dari lima tahun hanya akan menjadi pencarian yang sia-sia saja. Pada rentang usia 0-5 tahun manusia hanya hidup dalam dunia id yang merupakan sumber utama kepribadian dan tempat tumbuhnya instink. Di atas id ada ego yang mengadakan kontak dengan realitas di luar diri manusia. Lebih atas lagi ada superego yang menjadi filter antara diri dan dunia luar, sehingga manusia dapat menemukan baik-buruk. Dalam Son of  Rambow, anak-anak itu berada dalam taraf ego yang hanya melakukan kontak dengan dunia luar tanpa memahami apa yang ideal dalam masyarakat (superego). Maka, seharusnya ditemukan cara yang tepat untuk mengajarkan baik-buruk. Perihal pengajaran yang tepat inilah yang menjadi salah satu kajian utama filsafat pendidikan.
            Sisi sosiologis dan politis ikut ambil bagian dalam diskusi malam itu. Konsep habitus dalam kerangka sosilologis dicetuskan oleh Pierre Bourdieu. Menurut Bourdieu, habitus mengacu pada sekumpulan disposisi yang muncul dari kombinasi struktur dan sejarah personal. Disposisi merupakan istilah yang digunakan untuk menerangkan usaha “penyesuaian diri” atas peran sosial yang diperoleh dalam suatu ranah. Pertemuan antara Lee Carter dan William sekaligus merupakan pertemuan antara dua hebitus yang berbeda yang akhirnya tak lepas dari berbagai dari konflik.

            Secara politis, pertentangan antara Inggris dan Prancis begitu kentara dalam film tersebut. Perang status antara Kerajaan Inggris dan Prancis yang berlangsung 116 tahun (1337-1453) coba dibangunkan kembali dalam film tersebut. Perbedaan cara pikir Prancis dan Inggris pun secara tersirat disampaikan, dari segi pemikiran filosofis, Prancis dan Inggris memang bertolak belakang. Inggris yang berbangga hati dengan empirisisme dan Prancis yang besar dengan rasionalisme. Akan tetapi, film tentu saja tak hanya ingin membangkitkan bermacam-macam konflik, namun juga menawarkan solusi yang dikiranya layak untuk dipikirkan kembali.