Oleh Eva Hudaeva
Mrs.
Dalloway, sebuah novel karya Virginia Woolf yang cukup
berhasil memperlihatkan argumen-argumen feminismenya. Dalam buku itu, Virginia
Woolf merenungkan kehidupan perempuan yang nampak baik-baik saja padahal mengalami
pergulatan batin. Melalui kisah Mrs. Dalloway, Woolf menyampaikan bahwa
perempuan dapat menentukan jalan hidupnya.
Rupanya Mrs. Dalloway melekat dalam benak perempuan yang membacanya.
Terlebih perempuan yang merasa hidupnya tak seperti yang diidamkan. Michael Cunningham menuliskan novel yang menceritakan
perempuan-perempuan yang terpengaruh begitu dalam oleh Mrs. Dalloway. Novel karya Cunningham itu diberi judul The Hours. Kemudian pada 2002 novel
tersebut diadaptasi kedalam film dengan judul yang sama. Stephen Daldry didapuk
menjadi eksekutor adaptasi itu.
The
Hours mempertontonkan kehidupan tiga orang perempuan yang hidup di waktu
dan tempat berbeda. Tiga perempuan itu terhubung oleh satu novel yang
disebut-sebut sebelumnya, Mrs. Dalloway. Posisi
mereka terhadap novel itu pun berlainan. Virginia Woolf yang diperankan Nicole
Kidman tentu sebagai penulis novel tersebut. Clarissa Vaughan (Diperankan Meryl
Streep), seorang penyunting buku yang cenderung mengidentifikasikan dirinya
sebagai Mrs. Dalloway. Terakhir, Laura Brown yang diperankan apik oleh Julianne
Moore, seorang ibu rumah tangga yang membaca Mrs. Dalloway dan karena itulah ia menjadi gelisah akan arti
hidupnya.
Berdasarkan tinjauan movies.about.com, The Hours adalah film dari perempuan untuk perempuan. Memang tak
dapat disangkal, Virginia Woolf adalah tokoh feminisme yang signifikan
pengaruhnya. Mrs. Dalloway adalah
karyanya yang didedikasikan untuk perempuan, dengan gaya satiris ia sesuaikan
dengan elegi Latin. Menurut Molly Hoff (2007), seperti halnya elegi Latin, Mrs. Dalloway memasukkan seksualitas, vulgaritas, dan
kekerasan, semuanya digambarkan dalam ironi dan parodi. Gaya itulah yang
menyampaikan kisah Mrs. Dalloway, wanita yang sedang sibuk mempersiapkan pesta.
Ternyata persiapan pesta itu menjadi begitu rumit karena dibarengi dengan
pencarian arti hidup yang layak bagi perempuan.
Clarissa Vaughan mengalami kisah
yang mirip dengan Mrs. Dalloway. Ia menyiapkan pesta untuk merayakan
penghargaan yang diberikan kepada Richard, kekasihnya yang seorang penyair dan
penderita AIDs. Beberapa jam menuju pesta, perasaanya tak terkendalikan. Ia
mempertanyakan apa yang sudah ia lakukan, ia merawat Richard bertahun-tahun,
dan ia mengabaikan kebahagiannya sebagai perempuan. Ia rela melakukan semua itu
karena julukan “Mrs. Dalloway” yang diberikan Richard. Ia merasa terjebak
dengan nama itu. Di belahan bumi dan waktu lain, Laura Brown begitu rapuh,
padahal ia hanya berencana membuat kue ulang tahun untuk suaminya. Ia sampai
berencana bunuh diri, ternyata sembari membuat kue ia gelisah pula dengan jalan
hidupnya.
Kegelisahan dua perempuan itu
dipengaruhi Mrs. Dalloway. Virginia Woolf melalui novelnya itu memang
provokatif dalam menyuarakan esensi kehidupan, khususnya bagi perempuan. The Hours mencoba mengeksplisitkan
esensi itu. Perempuan mempunyai otonomi untuk menentukan nasibnya. Bahkan
dengan gamblang Virginia Woolf mengatakan bahwa apabila ia harus memilih antara
mati dan hidup yang tak ingin ia jalani, ia pasti akan memilih mati. Kehidupan
perempuan harus berdasarkan kesadaran perempuan itu untuk menjalanainya. Tak
peduli atas nama kebudayaan, bahkan cinta kepada keluarga atau pasangan hidup
sekalipun, bila perempuan tak menjalaninya dengan kesadaran, maka hidup itu tak
layak untuk dijalani. The Hours juga
mengamanatkan kepada penontonnya bahwa perempuan biarpun lemah secara fisik,
namun batinnya mampu bertahan melampaui batas kemampuan lelaki.