Minggu, 01 Maret 2015

Alenia: Diawali Hujan dan Diakhiri Hujan


Oleh Eva Hudaeva

Kalau kita tahu novel Cintaku di Kampus Biru karya Ashadi Siregar yang kemudian difilmkan dengan Roy Marten dan Yati Octavia sebagai pemainnya, mungkin novel dengan judul Alenia yang ditulis Risalatul Hukmi ini menjadi kisah lain tentang cinta yang terjadi di UGM. Seperti nasib yang tak bisa ditampik, begitu pun cinta tak bisa dihalangi ketika sudah tiba, namun, kisah cinta dalam Alenia menjadi lain karena disuguhkan dengan persoalan rumit. Kisah cinta di dalam novel ini bukan semata soal pertemuan antara lelaki dan perempuan di kampus UGM dan selanjutnya menjalin asmara. Alenia menceritakan percintaan antara kakak-adik, tapi bukan ‘kakak-adik’ zone.

Penulis Alenia mengawali kisahnya dengan perbuatan paling eksistensial yaitu bunuh diri. Lebih eksistensial lagi karena orang yang tergantung di pohon depan rektorat UGM ini adalah mahasiswa filsafat, yang tentu saja sejenis orang yang dianggap rawan bunuh diri. Dengan biola masih dalam genggaman, mahasiswa filsafat ini seolah ingin menunjukkan kepada manusia lain bahwa kematian yang selama ini ditakutkan manusia begitu mudahnya dilakukan.

Kita sebagai pembaca novel ini dan akan beranjak ke bagian kedua sudah tertanam di benak kita bahwa mahasiswa filsafat yang mati bunuh diri inilah yang akan menjadi laku utama dalam Alenia. Dan memang kisah ini terjalin antara seorang lelaki mahaiswa filsafat yang diceritakan semester tujuh dengan gadis, mahasiswa semester pertama kampus di seberang filsafat, psikologi. Cerita mereka pun dituliskan dengan plot kilas balik.

Lelaki dan perempuan tersebut tak diberikan nama oleh penulisnya. Kita hanya dapat mengidentifikasi bahwa si lelaki adalah kakak dari perempuan itu. Hubungan kakak-adik ini dalam arti sesungguhnya, mereka berasal dari orangtua yang sama. Kakak beradik itu terpisah setelah terjadi perceraian orang tua mereka. Si adik tetap tinggal bersama uminya dan si kakak dikisahkan hilang tak diketahui rimbanya sebelum kakak-adik itu secara kebetulan bertemu di Yogyakarta, di UGM.


Cinta yang Tidak Beralasan
Kita tak dapat menghindari untuk tidak mengingat perkataan Sigmund Freud tentang Oedipus Complex ketika memahami cinta yang hadir antara kakak beradik itu. Dan benar saja, perkataan Freud ditampilkan dalam novel ini di bagian ketika si adik telah menyadari cintanya kepada kakaknya sendiri. Namun, si adik menganggap analisis Freud tak sepenuhnya benar, karena cintanya bukan terjadi kepada ibu seperti dalam analisis Freud. Akan tetapi penulis Alenia tak mengisahkan bagaimana cinta antara kakak beradik itu perlahan-lahan tumbuh. Cinta dalam kisah ini dipahami sebagai hal yang begitu saja hadir dibarengi perasaan nyaman luar biasa, dan memang penulisya tak peduli mengapa kedua tokoh utama itu saling mencintai.

Setidaknya ada dua implikasi yang disebabkan oleh tak dijelaskannya bagaimana proses cinta antara kaka-adik itu mulai tersemai. Pertama, penulis menjadi tidak punya cara lain untuk mendeskripsikan perawakan dan tampilan fisik tokoh-tokohnya. Maka dari itu, kita yang membaca hampir sama sekali tak dapat memvisualisasikan bagaimana tokoh-tokoh itu sekiranya. Padahal penulis Alenia menggunakan sistem penokohan aku-banyak, jika misalnya saja penulis mencoba mendeskripsikan kekaguman si adik dengan rupa fisik kakaknya yang menerbitkan hasrat, pembaca tidak akan dibuat terlalu buta tentang gambaran tokoh. Deskripsi yang baik justru penulis Alenia lakukan untuk mendeskripsikan sosok Jingga yang hadir di bagian akhir cerita.

Kedua, cinta yang tak jelas asal-muasalnya akan terjerumus pada cinta yang murahan. Cinta murahan yang hadir secara singkat dan mudah pula diwujudkan dalam permainan ranjang. Sebelum perpisahan, kakak beradik itu tidak ada perasaan selain rasa terlindungi dan ingin melindungi sebagai kakak-adik. Cinta mereka jadi murahan ketika pertemuan itu terjadi dan keduanya dengan mudah melakukan aktivitas ranjang hingga lima kali tiada henti!

Tidak ada yang salah dengan hubungan seksual dalam sebuah cerita, namun hubungan seksual antara kakak-adik ini akan lebih beralasan apabila sebelum perpisahan itu terjadi, penulis menawarkan hasrat yang tiada terbendung antara keduanya. Memang ada perasaan kedua tokoh utama ini untuk saling menghasrati ketika keduanya mencapai baligh. Si kakak pertama kali mimpi basah dan si adik pertama kali menstruasi, keduanya saling memimpikan tentang aktivitas seksual yang panas antara mereka. Namun, hal tersebut tidak cukup untuk menstimulasi kedua tokoh ini untuk menanggalkan perasaan sebagai saudara yang ditanamkan sejak kecil, lalu berhubungan intim seolah mereka bukan saudara, atau setidaknya merasa saudara.


Novel Stensilan?
Faktanya, kakak beradik ini bukanlah saudara kandung. Hal ini yang menjadi apologi si adik untuk tidak ragu melakukan aktivitas seksual dengan kakaknya. Tetapi, fakta tersebut baru si adik katakan ketika mereka telah usai mandi bersama dan saling peluk-berpelukan. Lalu, bagaimana perasaan si kakak saat madi bersama itu? Padahal sepengetahuannya, wanita itu adalah adik kandungnya? Tapi ah, si kakak itu tetap saja lelaki, lelaki dari darah dan daging yang tidak kuasa menahan birahi ketika disuguhkan wanita sintal yang menggoda. Barangkali perasaan si kakak saat itu sama seperti Tokoh Kita dalam Merahnya Merah Iwan Simatupang ketika Fifi dengan sukarela menyuguhkan tubuhnya untuk digarap di lapangan yang penuh cahaya kunang-kunang.

Alenia di awal  banyak menceritakan kepada kita bagaimana detail hubungan intim. Penulisnya merincikan bagaimana hubungan intim terjadi hingga sepasang lelaki dan perempuan mencapai kepuasan. Saking gamblangnya penggambaran hubungan intim tersebut, ‘burung’ Ajo Kawir (tokoh dalam novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan) yang sudah lama tertidur bagai beruang kutub hibernasi pun kemungkinan besar akan bangun bila membaca bagian awal cerita ini. Maka dari itu, di awal kita sudah dipaksa bertanya: apakah ini novel stensilan?

Sekali lagi tidak ada yang salah dengan penggambaran aktivitas seksual dalam cerita dewasa begini, dan kenyataan bahwa kehidupan mahasiswa bisa sampai sebebas itu pun tidak dapat disangkal. Namun, dalam cerita ini hampir tidak memberikan pemaknaan apapun tentang hubungan intim, tentang keperawanan. Hubungan intim hanya dimaknai sebagai kenikmatan dan keindahan yang deminya seorang dapat tidak peduli pada apapun. Memang, si adik setelah memutuskan memberikan kegadisannya pada kakaknya sendiri ia tak menyesal karena kegadisan itu menurutnya jatuh pada orang yang betul-betul tepat. Tapi tetap saja tak ada pemaknaan mendalam yang dilakukan penulis tentang hubungan intim yang dalam cerita yang ditulisnya bukan lagi menjadi barang sakral.

Ayu Utami adalah satu di antara penulis yang gemar memperlihatkan kepada pembacanya bagaimana proses hubungan intim berlangsung, namun Ayu Utami berusaha sebisa mungkin menggali apa hal yang paling esensi dalam hubungan intim. Bahkan dalam novelnya Cerita Cinta Enrico, yang terhitung liar, Ayu Utami tetap mencoba mengungkap apa-apa yang diharapkan perempuan dalam dan setelah hubungan seks berlangsung. Semisal keinginan berumah tangga, padahal si lelaki tak menganggap perempuan itu lebih dari teman tidur. Apalagi dalam Lalita, dengan riset yang teliti Ayu Utami menyebut pencapaian tertinggi dalam hubungan seksual adalah axis mundi atau poros dunia.  

Hal-hal bermakna dibalik hubungan seksual seperti itu selayaknya dipikirkan oleh penulis Alenia. Sehingga penggambaran proses hubungan seksual tidak hanya menjadi bumbu-bumbu cerita belaka.


Kecenderungan Berkhutbah
Entah siapa yang memulai kecenderunagn berkhutbah dalam ranah kepenulisan fiksi Indonesia kontemporer. Penulis-penulis muda seolah berlomba untuk mendefinisikan kehidupan dan hal-hal adiluhung dalam kehidupan. Hal seperti kebahagiaan, kematian, keindahan, apalagi cinta, masing-masing penulis punya definisi sendiri-sendiri yang terdengar lebih seperti khutbah. Definisi tentang kehidupan dan seisinya dapat ditemukan dengan mudah ditemukan dalam tulisan Bernard Batubara, Zarry Hendrik, dan yang lebih besar lagi, Dewi Lestari. Menjadi seru ketika definisi-definisi itu terasa sangat indah dan ngena banget di hati pembaca sehingga definisi tersebut berakhir sebagai quote di ranah twitter. Definisi quoteable dan tweetable.

Beberapa bagian Alenia pun mengandung khutbah seperti itu. Misalnya saja untuk menjelaskan bahwa suatu malam adalah malam terakhir liburan semester dan ada rasa antusias akan bertemu orang yang dicinta, penulis Alenia harus berputar-putar dahulu dengan pendefinisian kebahagiaan. Sepotong bagian itu begini: Tak ada hal yang mengesankan. Mungkin hanya sebarang kebahagiaan kecil bersama orang yang kita cinta. Dan mungkin begitulah kebahagiaan. Tak pernah ada yang sejati, melainkan ia hanya semacam bilik-bilik kecil yang terhampar di sepanjang jalan pelarian kita dari ketakutan akan hidup...(Alenia hal. 105).

Pendefinisian tentang segala sesuatu tentang kehidupan tak salah dalam sastra, karena fungsi sastra sendiri ialah membantu manusia menyingkapkan ceruk-ceruk yang menghalangi manusia untuk mengerti makna sesungguhnya dari kehidupan yang sedang manusia jalani. Akan tetapi, penulis muda kini sering alpa bahwa untuk mengungkapkan perenungannya tentang makna kehidupan melalui sastra, penulis harus menggunakan cerita sebagai senjatanya. Penulis muda kini lebih sering mengambil jalan pintas untuk menyampaikan hasil renungannya tentang makna kehidupan melalui khutbah, tapi cerita yang dibuatnya sendiri tak memiliki kekuatan apapun.

Jika ingin ekstrem, cerita tanpa khutbah dan pengungkapan perasaan tokoh sama sekali ada dalam model penceritaan dramatik atau objektif. Model penceritaan seperti ini disebut-sebut digunakan oleh Ernest Hemingway. Hemingway membiarkan cerita berjalan begitu saja tanpa ada intervensi penulis untuk berkhutbah atau bahkan pengungkapan pikiran dan perasaan si tokoh. Gaya penulisan seperti ini memang terasa tak asyik, bahkan dalam awal kariernya Hemingway dikritik oleh Wyndham Lewis dalam tulisan berjudul The Dumb Ox. Dalam tulisan itu Hemingway dianggap sebagai penulis yang menciptakan tokoh yang tidak mempunyai dimensi mendalam (Melani Budianta, 1997).

Gaya penulisan Hemingway ternyata malah mengantarkannya pada penghargaan Nobel dan menjadi pelopor penulisan sastra modern. Namun, khutbah dan pendefinisian tentang kehidupan sulit dihapuskan dalam budaya penulisan sastra Indoensia. Khutbah dan pendefinisian segala sesuatu itu jika ditata dengan runutan cerita yang bagus justru menjadi kekuatan dari sastra Indoneia. Khutbah tersebut yang malah menjadikan sastra Indonesia mempunyai ruh tersendiri yag tak bisa ditandingi oleh sastra dari negara manapun. Seno Gumira Ajidarma adalah satu di antara penulis yang mampu merepresentasikan hal ini.

Namun bukan runutan cerita yang bagus yang menjadi pemaafan bertaburnya khutbah dalam Alenia. Tak lain ialah beberapa khutbah berdasarkan  ajaran filsafa. Dengan menyandarkan diri pada ajaran filsafat penulis Alenia mencoba mendifinisikan kehidupan sekaligus menertawakan kehidupan yang kini sedang berangsung. Maka dari itu, novel ini pun jadi semacam diary unek-unek penulisnya melihat kehidupan kini yang mahasemerawut. Unek-unek yang paling menonjol ialah tentang agama yang kini lebih terasa menjadi beban ketimbang suatu hal yang mendamaikan dan membebaskan.

Dengan penyampaian khutbah-khutbah yang berdasarkan pemikiran filosofis, terutama filsafat Nietzsche yang paling banyak dikutip, seharusnya khutbah-khutbah dalam Alenia menjadi khutbah yang adequat. Bukan khutbah yang menggurui padahal yang diajarkan adalah doxa.


Aku-Banyak dan Pengungkapan-Pengungkapan
Beberapa kelemahan dalam Alenia selain yang telah terjabarkan sebelumnya, ialah kelemahan yang remeh-temeh namun patut dicatat. Misal penulisan kata ‘kah’ sebagai imbuhan yang berfungsi sebagai pertanyaan dan ditempatkan di akhir kata, dalam novel ini disimpan pada awal kalimat tanya, misalnya: Kah mungkin malam terlalu kejam sehingga menenggelamkannya? (Alenia hal. 156). Bisa dimengerti, mungkin penulisan kalimat seperti itu adalah keadaan ketika aturan baku kebahasaan harus menyerah pada keindahan diksi. Tetapi, apakah dengan tetap mengikuti aturan kebahasaan diksi tak akan lagi indah?

Selain itu, hal sepele lain tapi kurang diperhatikan ialah penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa yang berbaur tapi tidak ditandai mana yang baku dalam bahasa Indonesia dan mana yang tidak. Sepele saja, namun seorang penulis sulit dipercaya kualitas tulisannya apabila hal kecil seperti ini saja tak diperhatikan.

Dari berbagai kelemahan yang ada pada Alenia, hal yang paling mengagumkan dari novel ini ialah penggunakan sistem penokohan aku-banyak yang cukup berhasil. Artinya, tokoh yang digunakan ialah ornag pertama pelaku utama, namun pelaku utama ini bukan Cuma satu orang. Jadi, misal dalam bagian pertama tokoh ‘aku’ yang sedang bercerita adalah si kakak dan bagian kedua gantian si adik yang menjadi ‘aku’.

Konsekuensi dari penggunaan penokohan orang pertama pelaku utama tentu saja ketidaktahuan di luar keakuan si tokoh utama. Ketidaktahuan ini oleh penulis Alenia diatasi dengan sistem penokohan aku-banyak tersebut, namun ketidaktahuan itu tetap ada dan menjadi kemenarikan tersendiri untuk menjalin cerita.

Sistem penokohan Alenia menjadikan cerita menarik karena berhasil mengungkapkan peristiwa-peristiwa dalam cerita tanpa menghilangkan keakuan setiap tokohnya. Misalnya saja, ada satu pada awal cerita penulis Alenia  menggunakan si kakak sebagai tokoh aku untuk menggambarkan pertengakaran antara kedua orangtuanya. Lalu dalam bagian selanjutnya penulis menggunakan umi sebagai tokoh aku yang sekaligus menjelaskan seluk-beluk pertengkaran dan perselingkuhan si umi. Hal semacam ini tak lain adalah sistem penokohan aku-banyak yang berhasil melakukan pengungkapan. Dalam skala yang lebih besar, sistem penokohan aku-banyak ini telah secara halus dan wajar melakukan pengungkapan bahwa mahasiswa yang mati bunuh diri di depan rektoran UGM bukanlah si kakak. Ini hebat dan menjadikan cerita begitu utuh.

Sebetulnya sistem penokohan aku-banyak ini sudah digunakan lebih dulu oleh Radhar Panca Dahana dalam cerepennya Sepi pun Menari di Tepi Hari (2003). Lalu kemudian secara lebih masif digunakan oleh Leila S. Chudori dalam Pulang (2012). Kelemahan Leila dalam novelnya ini menurut pengamat ialah sistem penokohannya yang sering tak jelas siapa yang menjadi ‘aku’ pada bagian tertentu. Kelemahan ini pun terjadi pada Alenia. Penulisnya seringkali terlalu lama terlarut dalam perkataan-perkataan si aku tapi tak terjelaskan sejak awal bagian siapa yang sedang menjadi ‘aku’.

Alenia hingga akhir cerita tak terjelaskan artinya. Namun, hal yang paling mudah untuk disimpulkan adalah bahwa Alenia adalah cerita yang diawali hujan dan diakhiri hujan.