Sabtu, 15 Maret 2014

Perbuatan Dua Dasima pada Perempuan

Oleh Eva Hudaeva

“ Kau melahirkan bayi perempuan?”
“Sahaya bendoro”
“Jadi hanya perempuan?”
“ Sahaya bendoro”

Dengan singkat Pramoedya Ananta Toer menggambarkan berapa harga perempuan dalam dialog di atas. Gadis Pantai (2011) yang memuat dialog itu memang serangan paling tajam terhadap feodalisme dan patriarki dalam budaya Jawa. Betapa perempuan tak punya posisi selain abdi suami sekaligus tuannya. Dalam Kuartet Buru pun tak beda kerasnya Pram membela perempuan. Nyai Ontosoroh menjadi cerminan pembelaan Pram itu. Nyai Ontosoroh yang dijadikan alat tukar antarkekuasaan itu malah menjadi wanita tangguh.
           Tak hanya Nyai Ontosoroh yang dari budaya Jawa, ada nyai-nyai lain yang mengalami nasib tak juah buruknya. Satu di antaranya yaitu Nyai Dasima, seorang perempuan menawan yang berasal dari Kuripan, Bogor dan menjadi nyai dari Edward Williams (Tuan W). Oleh Tuan W Nyai Dasima dibawa ke Pejambon. Di Jakarta itulah tragedi terjadi dalam kehidupan Nyai Dasima. Beberapa waktu setelah pindah ke Pejambon Nyai Dasima ditemukan tanpa nyawa dan bersimbah darah di Kali Ciliwung.
            Cerita Nyai Dasima yang tragis begitu masyhur dan menjadi legenda, biarpun tak jelas legenda itu benar adanya atau tidak. Masup Jakarta, bagian dari Penerbit Komunitas Bambu pada 2013 silam untuk kedua kalinya menghidangkan satu buku Nyai Dasima yang di dalamnya ada dua rasa. Nyai Dasima rasa Betawi buatan S. M. Ardan dan rasa Belanda buatan G. Francis.
             Kedua cerita Nyai Dasima tersebut memiliki perbedaan signifikan yang menarik: S. M. Ardan menyajikannya dalam bentuk drama berbahasa Betawi, sehingga pembacanya dapat membayangkan suatu setting panggung yang terdiri atas rumah sederhana dengan bale di depannya. Sementara G. Francis membuatnnya dengan gaya cerita dan tetap dipertahankan ejaan lamanya. Perbedaan dari sisi ceritalah yang menarik diperbandingkan dari dua cerita Nyai Dasima itu.
            Dalam drama Nyai Dasima yang dibuat S. M. Ardan, Samiun seorang lelaki Betawi yang berniat menjadikan Nyai Dasima istri kedua bersikap baik kepada Dasima. Samiun ingin memperistri Dasima karena ingin punya anak, lantaran istrinya, Hayati gila judi ceki. Maka dari itu, Samiun minta bantuan Wak Lihun pamannya yang getol ibadah untuk mengguna-guna Dasima, tetapi Wak Lihun menolak.
            Kebetulan Dasima mampir ke rumah Mak Buyung bujangnya, yang terletak di sebrang rumah Samiun. Samiun jadi punya kesempatan untuk mendekatkan diri pada Dasima. Terlebih Mak Buyung pun mengompori Dasima untuk mengagumi Samiun. Maka pergilah Dasima dari rumah Tuan W dengan harta yang diberi tuannya dan Dasima menjadi istri kedua Samiun. Dasima diperlakukan buruk oleh Hayati. Hingga suatu ketika Dasima diajak Samiun pergi ke kampung sebelah untuk mendengar dongeng Amir Hamzah agar Dasima terhibur. Rupa-rupanya di perjalanan Puasa, jawara kampung Kwitang sudah mencegat mereka berdua sembari tangannya menggenggam golok. Golok Puasa itulah yang menghabisi Nyai Dasima seperti yang disuruh Tuan W.
            S. M. Ardan dengan gamblang menentang stereotip buruk terhadap orang Betawi yang telah ditempelkan sebelumnya oleh G. Francis dalam Tjerita Njai Dasima. G. Francis menjadikan agama Islam yang dianut masyarakat Betawi sebagai justifikasi perbuatan jahat masyarakat Betawi. Agama inilah yang menjadikan cerita Nyai Dasima karya S. M. Ardan dan G. Francis bertolak belakang. Dalam nyai Dasima ala  G. Francis justru Tuan W sangat baik hatinya dan Samiun adalah lelaki licik, bahkan Samiun yang bersekongkol dengan Puasa untuk mengakhiri hidup Dasima. Dasima pun oleh G. Francis digambarkan sebagai wanita tak tahu diri dan tidak mau tahu soal anak yang diperolehnya dari Tuan W. Bukan hanya Samiun yang diberi sifat jahat oleh G. Francis, Wak Lihun, Mak Buyung, Hayati, pun Ibu dari Samiun semuanya bertabiat serakah dan penuh intrik untuk menjebak Dasima.
            Dari sisi cerita memang kentara betul apa yang mereka bela. Namun, masih bicara soal sisi cerita tanpa tendensi pembelaan, cerita Nyai Dasima karya G. Francis lebih mantap dalam penjalinan ceritanya. Bagaimana Mak Buyung karena merasa dilimpahi tugas agama maka ia sudi dimintai tolong oleh Samiun dan Wak Lihun untuk melancarkan provokasi dan guna-guna terhadap Dasima. Sedangkan dalam versi S. M. Ardan, Mak Buyung menjadi tidak punya alasan untuk mendorong Dasima menjadi istri Samiun, dan cerita itu pun tak terjalin dengan lengkap. Walaupun memang tak bisa diabaikan bahwa S. M. Ardan membuat naskah drama, bukan cerita layangnya yang dibuat G. Francis. Namun, bukankah cerita dalam bentuk apapun sebaiknya utuh?
            Kembali lagi pada persoalan tendensi dibuatnya dua cerita Nyai Dasima tersebut. G. Francis tak tanggung-tanggung mencap buruk sifat orang Betawi, S. M. Ardan pun begitu kuat membuktikan bahwa orang Betawi tak seperti yang digambarkan G. Fnarncis. Bahkan S. M. Ardan menambahkan satu tokoh baru dalam cerita Nyai Dasima yaitu Duloh. Duloh inilah yang pada akhir cerita buatan S. M. Ardan akan mengeluh kasian pada Samin dan Dasima.
            Namun, S. M. Ardan maupun G. Francis tak menyadari bahwa mereka sama-sama menyubordinasi semua orang yang berjenis perempuan. Lihat saja G. Francis menjadikan cerita seorang nyai sebagai alat menumbangkan citra bangsa lain. Terlebih dalam subtansi ceritanya, G. Francis mejadikan perempuan (pribumi) sebagai makhluk yang hanya mau harta kekayaan. S. M. Ardan pun demikian dalam menggunakan perempuan sebagai dalih pembela bangsanya, namun nasib perempuan dalam ceritanya tak mengalami perbaikan. Lihat saja bagaimana S. M. Ardan meletakkan Hayati pada akhir cerita dalam keadaan menyesal, karena selama ini ia gila main ceki dan menjadikan suaminya ingin kawin lagi. Betapa S. M. Ardan pada akhirnya melimpahkan beban kesalahan lelaki pada perempuan jua.
            Di balik penelisikan akan subtansi cerita dua versi cerita Nyai Dasima itu, ada suatu apresiasi karena Komunitas Bambu menyandingkan dua cerita itu dalam satu buku. Setalah menutup lembar terakhir buku itu, kita akan menyadari betapa per-nyaian besar andilnya dalam kesejarahan Indonesia. Selain itu, buku Nyai Dasima ini menjadi suatu komitmen penerbit untuk memaparkan perjalanan sejarah Jakarta, walaupun dalam Nyai Dasima masih banyak tugas proof reader yang belum tuntas. Namun, buku Nyai Dasima dapat menjadi media alternatif belajar sejarah Indonesia di tengah maraknya indonesianis yang justru banyak menulis tentang sejarah Indonesia.