Oleh Eva Hudaeva
“ Kau melahirkan bayi perempuan?”
“Sahaya bendoro”
“Jadi hanya perempuan?”
“ Sahaya bendoro”
Dengan singkat Pramoedya Ananta
Toer menggambarkan berapa harga perempuan dalam dialog di atas. Gadis Pantai (2011) yang memuat dialog
itu memang serangan paling tajam terhadap feodalisme dan patriarki dalam budaya
Jawa. Betapa perempuan tak punya posisi selain abdi suami sekaligus tuannya.
Dalam Kuartet Buru pun tak beda
kerasnya Pram membela perempuan. Nyai Ontosoroh menjadi cerminan pembelaan Pram
itu. Nyai Ontosoroh yang dijadikan alat tukar antarkekuasaan itu malah menjadi
wanita tangguh.
Tak
hanya Nyai Ontosoroh yang dari budaya Jawa, ada nyai-nyai lain yang mengalami
nasib tak juah buruknya. Satu di antaranya yaitu Nyai Dasima, seorang perempuan
menawan yang berasal dari Kuripan, Bogor dan menjadi nyai dari Edward Williams
(Tuan W). Oleh Tuan W Nyai Dasima dibawa ke Pejambon. Di Jakarta itulah tragedi
terjadi dalam kehidupan Nyai Dasima. Beberapa waktu setelah pindah ke Pejambon
Nyai Dasima ditemukan tanpa nyawa dan bersimbah darah di Kali Ciliwung.
Cerita
Nyai Dasima yang tragis begitu masyhur dan menjadi legenda, biarpun tak jelas
legenda itu benar adanya atau tidak. Masup Jakarta, bagian dari Penerbit Komunitas
Bambu pada 2013 silam untuk kedua kalinya menghidangkan satu buku Nyai Dasima yang di dalamnya ada dua
rasa. Nyai Dasima rasa Betawi buatan
S. M. Ardan dan rasa Belanda buatan G. Francis.
Kedua cerita Nyai Dasima tersebut memiliki
perbedaan signifikan yang menarik: S. M. Ardan menyajikannya dalam bentuk drama
berbahasa Betawi, sehingga pembacanya dapat membayangkan suatu setting panggung yang terdiri atas rumah
sederhana dengan bale di depannya. Sementara G. Francis membuatnnya dengan gaya
cerita dan tetap dipertahankan ejaan lamanya. Perbedaan dari sisi ceritalah
yang menarik diperbandingkan dari dua cerita Nyai Dasima itu.
Dalam
drama Nyai Dasima yang dibuat S. M. Ardan, Samiun seorang lelaki Betawi yang
berniat menjadikan Nyai Dasima istri kedua bersikap baik kepada Dasima. Samiun
ingin memperistri Dasima karena ingin punya anak, lantaran istrinya, Hayati
gila judi ceki. Maka dari itu, Samiun minta bantuan Wak Lihun pamannya yang
getol ibadah untuk mengguna-guna Dasima, tetapi Wak Lihun menolak.
Kebetulan
Dasima mampir ke rumah Mak Buyung bujangnya, yang terletak di sebrang rumah
Samiun. Samiun jadi punya kesempatan untuk mendekatkan diri pada Dasima.
Terlebih Mak Buyung pun mengompori Dasima untuk mengagumi Samiun. Maka pergilah
Dasima dari rumah Tuan W dengan harta yang diberi tuannya dan Dasima menjadi istri
kedua Samiun. Dasima diperlakukan buruk oleh Hayati. Hingga suatu ketika Dasima
diajak Samiun pergi ke kampung sebelah untuk mendengar dongeng Amir Hamzah agar
Dasima terhibur. Rupa-rupanya di perjalanan Puasa, jawara kampung Kwitang sudah
mencegat mereka berdua sembari tangannya menggenggam golok. Golok Puasa itulah
yang menghabisi Nyai Dasima seperti yang disuruh Tuan W.
S.
M. Ardan dengan gamblang menentang stereotip buruk terhadap orang Betawi yang
telah ditempelkan sebelumnya oleh G. Francis dalam Tjerita Njai Dasima. G. Francis menjadikan agama Islam yang dianut
masyarakat Betawi sebagai justifikasi perbuatan jahat masyarakat Betawi. Agama
inilah yang menjadikan cerita Nyai Dasima karya S. M. Ardan dan G. Francis
bertolak belakang. Dalam nyai Dasima ala
G. Francis justru Tuan W sangat baik hatinya dan Samiun adalah lelaki licik,
bahkan Samiun yang bersekongkol dengan Puasa untuk mengakhiri hidup Dasima. Dasima
pun oleh G. Francis digambarkan sebagai wanita tak tahu diri dan tidak mau tahu
soal anak yang diperolehnya dari Tuan W. Bukan hanya Samiun yang diberi sifat
jahat oleh G. Francis, Wak Lihun, Mak Buyung, Hayati, pun Ibu dari Samiun
semuanya bertabiat serakah dan penuh intrik untuk menjebak Dasima.
Dari
sisi cerita memang kentara betul apa yang mereka bela. Namun, masih bicara soal
sisi cerita tanpa tendensi pembelaan, cerita Nyai Dasima karya G. Francis lebih
mantap dalam penjalinan ceritanya. Bagaimana Mak Buyung karena merasa dilimpahi
tugas agama maka ia sudi dimintai tolong oleh Samiun dan Wak Lihun untuk
melancarkan provokasi dan guna-guna terhadap Dasima. Sedangkan dalam versi S.
M. Ardan, Mak Buyung menjadi tidak punya alasan untuk mendorong Dasima menjadi
istri Samiun, dan cerita itu pun tak terjalin dengan lengkap. Walaupun memang
tak bisa diabaikan bahwa S. M. Ardan membuat naskah drama, bukan cerita
layangnya yang dibuat G. Francis. Namun, bukankah cerita dalam bentuk apapun sebaiknya
utuh?
Kembali
lagi pada persoalan tendensi dibuatnya dua cerita Nyai Dasima tersebut. G.
Francis tak tanggung-tanggung mencap buruk sifat orang Betawi, S. M. Ardan pun
begitu kuat membuktikan bahwa orang Betawi tak seperti yang digambarkan G.
Fnarncis. Bahkan S. M. Ardan menambahkan satu tokoh baru dalam cerita Nyai
Dasima yaitu Duloh. Duloh inilah yang pada akhir cerita buatan S. M. Ardan akan
mengeluh kasian pada Samin dan Dasima.
Namun,
S. M. Ardan maupun G. Francis tak menyadari bahwa mereka sama-sama menyubordinasi
semua orang yang berjenis perempuan. Lihat saja G. Francis menjadikan cerita
seorang nyai sebagai alat menumbangkan citra bangsa lain. Terlebih dalam
subtansi ceritanya, G. Francis mejadikan perempuan (pribumi) sebagai makhluk
yang hanya mau harta kekayaan. S. M. Ardan pun demikian dalam menggunakan perempuan
sebagai dalih pembela bangsanya, namun nasib perempuan dalam ceritanya tak
mengalami perbaikan. Lihat saja bagaimana S. M. Ardan meletakkan Hayati pada
akhir cerita dalam keadaan menyesal, karena selama ini ia gila main ceki dan
menjadikan suaminya ingin kawin lagi. Betapa S. M. Ardan pada akhirnya
melimpahkan beban kesalahan lelaki pada perempuan jua.
Di
balik penelisikan akan subtansi cerita dua versi cerita Nyai Dasima itu, ada
suatu apresiasi karena Komunitas Bambu menyandingkan dua cerita itu dalam satu
buku. Setalah menutup lembar terakhir buku itu, kita akan menyadari betapa per-nyaian
besar andilnya dalam kesejarahan Indonesia. Selain itu, buku Nyai Dasima ini menjadi suatu komitmen
penerbit untuk memaparkan perjalanan sejarah Jakarta, walaupun dalam Nyai Dasima masih banyak tugas proof reader yang belum tuntas. Namun,
buku Nyai Dasima dapat menjadi media alternatif belajar sejarah Indonesia di
tengah maraknya indonesianis yang justru banyak menulis tentang sejarah
Indonesia.